Yudi Kurniawan, Membudi Daya "Daun Ajaib" Beromzet Rp1 M

  • Yudi Kurniawan, Membudi Daya

Kenangan indah di Fiji enam tahun silam itu masih terekam kuat di benak Yudi Kurniawan. Petani asal Lawang, Malang, tersebut begitu terharu ketika warga negeri di Pasifik tersebut melepas kepergiannya dengan tangis. Hal itu tak lepas dari kerja keras Yudi di salah satu wilayah di Fiji yang berbuah sangat positif. Ayah tiga anak tersebut berhasil melatih petani setempat meningkatkan hasil cocok tanam sayuran. Dari awalnya dua ton per tahun menjadi enam ton per tahun.

“Saya ingin sepulang dari Gambia nanti juga dilepas warga sana dengan tangis rindu dan sedih. Sebab, itu berarti saya berhasil membantu mereka,” kata pria yang bersama keluarga berdomisili di Perumahan Bukit Lawang Indah, Lawang, Malang, itu ketika ditemui di Jakarta akhir pekan lalu.

Gambia? Ya, ke negeri di Afrika Barat itulah Yudi akan berangkat pada pekan ini ditemani dua staf Kementerian Pertanian. Tujuannya, sama dengan ke Fiji pada 2005 dulu memberikan pelatihan bercocok tanam. Hanya, bedanya, kalau di Fiji fokus pada sayuran, fokus di Gambia nanti adalah beras.

Keberangkatan pria kelahiran Situbondo, 26 September 1965, itu merupakan hasil kerja sama dua negara, dalam hal ini Kementerian Pertanian dan Kementerian Luar Negeri. Dijadwalkan, Yudi bakal berada di negeri bekas jajahan Inggris itu hingga akhir November mendatang. “Terpaksa meninggalkan rumah cukup lama. Tapi, tidak apa-apa, kan tugas negara,” ujar suami Surini itu.

Terpilihnya Yudi mewakili Indonesia tersebut tentu tak lepas dari jejak kesuksesannya menjadi petani. Memulai dari lahan milik orang tua seluas 1 hektare di Situbondo dengan menanam padi dan semangka, kini dia memiliki lahan sendiri seluas 40 hektare di Lawang. Di lahan seluas itulah kini dirinya bercocok tanam ashitaba, sayuran yang dia kenal kala belajar pertanian organik secara swadaya di Jepang pada akhir 1980-an. Pengolahan sayur ashitaba itu mirip teh. Diambil daunnya, lalu diseduh menjadi minuman. Daun ashitaba atau yang dikenal dengan sebutan “daun ajaib” tersebut konon bisa mencegah kanker kulit dan diabetes serta menurunkan timbunan kolesterol.

Dari lahan seluas 40 hektare itu, saat ini Yudi bisa memanen “daun ajaib” tersebut hingga 1.000 ton per tahun. Per kilogram, sayuran Jepang itu berharga Rp1.000. Artinya, dalam setahun, omzet Yudi dari si “daun ajaib” tersebut mencapai Rp1 miliar, hampir setara dengan nilai korupsi di Kemenakertrans yang menghebohkan itu yang mencapai Rp1,5 miliar.

Keberanian berinovasi menjadi salah satu pilar kesuksesan Yudi sebagai petani. Misalnya, dalam hal pola tanam. Dia memperkenalkan apa yang disebut pola legawa. Resep itu pula yang akan dia ajarkan di Gambia. Sesuai dengan namanya, bertanam padi dengan pola itu harus legawa. “Legawa itu kan artinya longgar,” timpal Yudi. Yang dimaksud longgar tersebut adalah menanam padi dengan jarak barisan tertentu. Misalnya, baris setelah baris kedua tanaman padi harus dikosongkan. Lalu, padi mulai ditanam lagi pada baris keempat. Begitu seterusnya. “Harus ada beberapa baris yang dikosongkan,” jelas ayah Firman Hanafi, 12; Risnaldi Al Maragi, 10; dan Filisa Kirena, 8, tersebut.

Dengan pola penanaman padi seperti itu, jelas Yudi, pertumbuhan akar padi bisa maksimal. Akar bisa menjulur panjang dan ke mana-mana. Tanpa harus bersenggolan bahkan sampai semrawut dengan akar-akar padi lainnya. Sementara itu, jarak tanam antar padi masih menggunakan pola 25 x 25 cm. Maksudnya, jarak antara padi di depan, belakang, samping kiri, dan kanan adalah 25 cm.

Pria yang terpilih sebagai Pemuda Pelopor 1990 tersebut menjamin, berkurangnya tanaman padi itu tidak bakal membuat kualitas panen menyusut. Sebab, jika pergerakan akar padi semakin luas dan tidak sesak, otomatis bulir-bulir padi bakal semakin gemuk. Akibatnya, jika ditimbang, hasil panen tetap tinggi walaupun tanaman dikurangi. Bulir-bulir padi itu menjadi lebih gemuk karena dipicu daya serap oksigen serta kandungan lainnya oleh akar yang maksimal. “Kesuksesan bertani padi kan dihitung dari beratnya padi saat panen, bukan banyaknya tanaman padi,” terang alumnus SMAN 1 Situbondo tersebut lantas tersenyum.

Yudi yakin, pola legawa itu bakal mampu menggenjot hasil panen padi di Gambia. Dia juga membantah tanah di Gambia bakal menjadi hambatan. Sebab, dari yang dia ketahui, tanah di negeri terkecil di daratan Afrika tersebut potensial untuk menanam padi. Berdasar data yang tersaji di World Factbook CIA, tanah di negeri yang berbatasan dengan Senegal dan Samudera Atlantik tersebut memang tergolong subur. Karena itulah, mayoritas penduduk di sana menggantungkan hidup pada sektor pertanian, disusul perikanan dan turisme.

Gambia juga dikenal sebagai satu di antara sedikit saja negeri di Afrika yang pemerintahannya stabil. Seperti Indonesia, mayoritas warga negeri persemakmuran tersebut memeluk Islam. Faktor-faktor itu sedikit banyak tentu juga akan mendukung kiprah Yudi di Gambia. Tapi, keberhasilan Yudi di Gambia sudah pasti bergantung pada keberhasilannya meyakinkan petani di sana. Pengalaman di Fiji akan sangat membantu. Juga, kesuksesannya berjuang membuka mata banyak orang bahwa bercocok tanam, asalkan dikerjakan secara ulet dan sungguh-sungguh, merupakan profesi yang bisa menghadirkan prestasi.

Yudi terus terang merasa heran atas sikap kebanyakan anak muda zaman sekarang yang merasa malu menjadi petani. Akibatnya, kendati orang tuanya memiliki lahan memadai, mereka lebih memilih pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Atau, lebih berharap menjadi pegawai negeri sipil (PNS). “Padahal, jika digeluti dengan serius, penghasilan seorang petani bisa melebihi seorang PNS,” tegasnya. Untungnya, jelas Yudi, anak-anaknya tidak ikut gerbong generasi muda yang malu dengan dunia pertanian. “Anak pertama saya tidak canggung ngomong kepada temannya bahwa ayahnya seorang petani,” paparnya.

Dalam rangka menyebarkan semangat bercocok tanam itu, setiba dari Gambia nanti, dirinya bakal bercerita kepada rekan-rekannya di kampung. Dia berharap cerita seorang petani yang bisa terbang lintas benua itu dapat memompa calon-calon petani lainnya. Dia tidak ingin masa depan daerah-daerah kantong pertanian menjadi kosong karena ditinggal penduduknya ke kota. 


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar