Wayan, Mantan Politisi yang Jadi Pebisnis Kuliner

  • Wayan, Mantan Politisi yang Jadi Pebisnis Kuliner

Bakat berdagang Wayan Suka Mara datang dari almarhum ayahnya, Wayan Jabeg. Sejak era 70-an hingga tahun 1997, ia membantu sang ayah berdagang soto daging sapi di pusat Kota Bangli. Namun, warung itu akhirnya ditutup setelah Jabeg meninggal dunia. Mara kemudian mencoba fokus ke dunia politik di salah satu partai, hingga mengantarkannya duduk sebagai anggota DPRD Bangli, periode 1999-2004.

Duduk sebagai salah satu anggota Dewan selama satu periode, Mara baru tahu bahwa menjadi politikus bukan dunianya. Ia memutuskan tidak mencalonkan diri lagi pada Pemilu 2004. ”Cukup satu periode saja, sudah kapok jadi anggota Dewan. Lebih baik diserahkan pada mereka yang lebih mampu,” kata Mara.

Bersama sang istri, Ni Made Suarniti, Mara mencoba fokus ke bisnis lagi. Sempat ingin balik lagi berjualan daging sapi, tetapi niat itu diurungkan dengan sejumlah pertimbangan. Pertimbangan utama adalah pangsa pasar daging sapi yang menurun karena sebagian besar pemeluk Hindu di Bali menghindari konsumsi daging sapi. Akhirnya pilihan jatuh ke aneka masakan ikan nila.

”Bangli, ya kekhasan makanannya adalah ikan air tawar. Kebetulan di Danau Batur berlimpah nila, mengapa tidak kita maksimalkan hal itu,” kata Mara.

Perlahan tetapi pasti ia membuka warungnya. Dari mulut ke mulut koleganya, akhirnya Warung Makan Pak Bagong semakin berkembang hingga sekarang. Setelah kalangan perkantoran dan wisatawan yang dibawa jasa perjalanan wisata, belakangan kalangan penghobi juga menjadikan warung itu sebagai tempat makan, khususnya di siang hari.

Selain klub motor, para penggiat sepeda juga biasa mampir. Jalur yang ditempuh para penggiat sepeda, bisa wisatawan atau pun masyarakat lokal di Pulau Dewata, biasanya adalah kawasan wisata, seperti Ubud, Tegallalang, Goa Gajah, Istana Tampak Siring di Gianyar yang memang pemandangannya cukup indah, dengan kondisi lalu lintas yang tidak terlalu padat, serta kondisi geografis yang relatif landai, baru ke Bangli dan mampir di Warung Makan Pak Bagong pas di jam makan siang.

Mara mengatakan, fokus ke olahan ikan nila yang notabene ikan air tawar di samping lele dan gurami yang umum dijual dalam bentuk olahan, ternyata dapat menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat. Ia mengaku permintaan pasar terus bertambah sehingga kini sedang menjajaki untuk membuka warung sejenis di wilayah Denpasar. Tentu saja tanpa meninggalkan kekhasan olahannya, nila bumbu nyatnyat.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar