Wapo, Tak Kalah dengan Restoran Papan Atas

  • Wapo, Tak Kalah dengan Restoran Papan Atas

Konsep dalam memulai bisnis sangat menentukan kesuksesan. Hal itu dibuktikan oleh Erfan Suryanto. Pria berusia 45 tahun itu menggunakan konsep tempat nyaman dan harga terjangkau saat awal membuka Wapo –kependekan dari Warung Pojok- pada 1995 lalu. Erfan, yang ketika itu baru lulus dari jurusan Teknik Fisika Institut Teknologi 10 Nopember melihat belum ada tempat makan dengan konsep seperti itu. “Waktu itu yang marak restoran-restoran high class,” ujar dia.

Berbekal modal pas-pasan, Erfan kemudian membuka Wapo. Sesuai namanya, warung ini memang terletak di pojok jalan pertigaan Karangmenjangan-Jojoran, Surabaya, Jawa Timur. Pilihan Erfan sungguh pas, karena letak warungnya berhadap-hadapan dengan kampus Universitas Airlangga. Awalnya, Wapo menempati teras rumah dengan menyewa setiap tahunnya.

Dengan cepat Wapo menjadi populer di kalangan mahasiswa. Harga makanannya yang tidak mahal untuk ukuran kantong mahasiswa –tapi juga tidak murahan- membuat Wapo menjadi langganan makan sekaligus tempat kongko yang nyaman. “Saya tahu isi saku mahasiswa, terutama yang kos,” kata Erfan.

Lambat laun, penggemar Wapo tak hanya dari kalangan mahasiswa. Para pegawai, pejabat ataupun artis juga sering singgah di tempat tersebut. Lambat laun Wapo makin berkembang. Dua tahun lalu Erfan memperluas warungnya dengan menambahi kapasitas pengunjung di lantai dua. Sehingga dari yang semula hanya sanggup menampung 50-an pengunjung, kini mampu diisi oleh 250-an pengunjung.

Pada awal buka, hanya ada dua jenis masakan di Wapo yaitu masakan Indonesia dan makanan Cina. Tapi kemudian Erfan menamah lagi dengan masakan Eropa. Harganya pun juga sedikit disesuaikan. “Tapi porsinya tetap porsi mahasiswa,” kata bapak dua putra ini.

Sejak warungnya diperluas, tempat tersebut, terutama lantai dua, sering dipakai untuk reuni. Erfan bercerita, dia pernah mengundang kawan-kawan lamanya untuk bereuni di restonya itu. Tidak tahunya ada acara serupa dari tiga kelompok yang berbeda.

Kini selain di Surabaya, Erfan telah membuka cabang di Jalan Terusan Borobudur, Malang. Lokasi Wapo yang awalnya sewa, kini dibeli oleh Erfan. Dia juga membeli pekarangan di sebelah restonya untuk tempat parkir mobil. Erfan pun hendak menambah menu masakan di restonya dengan beragam masakan khas Surabaya, seperti lontong balap dan rujak cingur.

Di sisi lain, dia mulai mengurangi menu-menu yang selama ini kurang diminati pengunjung. Erfan ingin mengurangi jumlah menu yang selama ini mencapai 150 menjadi sekitar separonya saja. Adapun nasi goreng dan mie goreng tetap menjadi menu andalan Wapo. “Kami ingin lebih khas dan lebih fokus,” ujarnya.

Dengan menjual konsep kenyamanan dan harga murah tapi tidak murahan, Erfan optimistis akan mampu bersaing dengan rumah-rumah makan yang bermunculan di Surabaya. Dia yakin pelanggan fanatiknya tetap akan singgah ke tempatnya. “Kami menjaga pelayanan dan rasa,” kata Erfan berpromosi.





Sumber : ayopreneur.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar