TOREHKAN LABA JUTAAN DARI INDAHNYA LUKISAN DI ATAS KACA

  • TOREHKAN LABA JUTAAN DARI INDAHNYA LUKISAN DI ATAS KACA

Menorehkan motif dan warna alias melukis biasanya dilakukan di atas kain, kertas maupun kanvas. Sedikit tak lazim bila kegiatan melukis tersebut dilakukan di atas sebuah kaca. Di Solo, Banjarsari, seseorang melakukannya.

Ialah Mintorogo, seorang seniman sekaligus pengusaha. Setiap hari dibantu istrinya dan sejumlah karyawan ia menyematkan warna dan motif tertentu pada bilah kaca. Potongan kaca tersebut nantinya ia satukan menjadi berbagai perabot rumah seperti wadah tisu, toples, bingkai cermin dan lain sebagainya.

Ide usaha tersebut terbesit dengan sederhana. “Barang-barang yang kita buat disini merupakan perabot pajangan, meski sejatinya fungsinya bukan itu. Misalnya wadah tisu dan vas bunga,” ungkapnya. Karena kaca itu bening, lanjutnya, sedangkan pajangan perlu nilai estetika maka perlu diperindah, salah satunya dengan motif dan warna.

Bapak dua anak tersebut mengaku menerima masukan motif dari klien. Tak ayal, beberapa motif batik yang ia sematkan merupakan usulan temannya sesama seniman. Selain motif batik, Mintorogo juga membuat sendiri motif bunga, motif hewan, motif alam, dan berbagai motif lainnya. Hingga kini tak terhitung berapa motif yang sudah dibuat Mintorogo, bahkan dia masih sering bereksperimen menciptakan motif-motif baru.

Bak Membatik di atas Kaca

Di ruang tengah rumah Mintorogo yang beraksen Jawa-Belanda, semua produk grafir kaca dipajang. Boleh dibilang perabot berbahan kaca memenuhi ruangan lega tersebut. Di tengah ruangan terdapat meja kaca super besar yang ia pakai untuk membatik kaca. Iya, menurut Mintorogo, menyematkan motif dan warna di kaca sama halnya dengan membatik.

Membatik kaca sama sama dilakukan secara manual. Bedanya bila membatik menggunakan bahan malam panas, pada kaca menggunakan candy tone atau cat khusus yang memberi efek tembus pandang. Untuk memudahkan penyematan, bahan tersebut ditaruh dalam wadah khusus pengganti canting.

Mintorogo menuturkan, dalam membuat seni grafir kaca diperlukan presisi. “Semua pengerjaan harus dilakukan dengan teliti, karena seni ini seni tangan, alat spesial ciptaan Tuhan,” ungkapnya lebih lanjut. Karenanya tak heran bila barang-barang kaca buatan Mintorogo dihargai lebih mahal ketimbang yang lain.

Tersebar Seantero Nusantara

Melukis kaca seperti yang dilakukan Mintorogo bukan perkara gampang bagi orang awam. Peminatnya pun khusus, namun pembeli selalu kembali membeli. Seluruh kiprah usaha itu ia beri judul Risang Aji, nama usaha yang dibawanya seantero negeri.

Produk-produk Risang Aji sudah melanglang buana kemana-mana. Bahkan sebelum ada serbuan produk dari luar negeri, Mintorogo pernah mengekspor produknya ke beberapa negara tetangga. Ekspor tersebut terhenti tatkala pasar lebih melirik produk murah dan massal.

Meski segmented, Mintorogo mengaku mendapat saingan kuat dari produk asal Tiongkok. “Produk dari Tiongkok dibuat secara massal menggunakan mesin. Produksi mereka sudah produksi pabrik sehingga bisa dijual murah di Indonesia,” kata Mintorogo.

Meski mendapat saingan sana sini, Mintorogo tetap menanggapi positif hal tersebut. Menurutnya produksi Risang Aji memang mengutamakan seni dan selalu handmade. Ia mengaku akan terus mempertahankan keindahan tersebut dan tak takut bersaing dengan Tiongkok maupun negara-negara Asean paska diberlakukannya MEA.

Risang Aji saat ini masih sibuk melayani pesanan dalam negeri. Dalam sehari Mintorogo dan karyawannya mampu memproduksi puluhan produk grafir kaca dengan berbagai ukuran. Omzetnya pun mencapai puluhan juta hingga ratusan juta.






Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar