SUKSES MEMBUAT KERAJINAN KORAN BEKAS, HANYA BELAJAR DARI INTERNET

  • SUKSES MEMBUAT KERAJINAN KORAN BEKAS, HANYA BELAJAR DARI INTERNET

Masniati yang biasa disapa  Atik (58) mulai membuat kerajinan dari bahan koran bekas sejak tahun 2002 silam. Atik mempekerjakan 4 orang karyawan yang semuanya wanita dan rata-rata dari kerabatnya sendiri.

Awal mula membuat kerajinan koran bekas, Atik mempelajarinya secara otodidak dari internet. Berbeda dengan pengrajin lainnya, Atik menggunakan lem kanji yang didatangkan dari Malaysia karena daya rekatnya lebih kuat.

“Kebetulan ibu saya asli dari Brunei dan ayah berdarah Bugis yang sudah lama menetap di Pontianak. Setiap minggu, saya harus bolak-balik Pontianak-Kuala Lumpur, untungnya saya mempunyai saudara dan kerabat yang tinggal di Kuching dan Kuala Lumpur, Malaysia,” jelasnya.

Berdiri di bawah bendera ‘Annisa’ yang juga  menjadi brand usaha jahit dan tata rias pengantin yang telah lebih dulu dijalani Atik, ibu delapan anak ini sudah bisa menghasilkan kerajinan Koran bekas berupa kotak tisu, vas bunga, tempat sirih dan pinang (biasa terdapat di upacara adat Suku Melayu), tudung saji, keranjang Pokok Telok untuk hantaran mahar perkawinan dan bermacam-macam vas bunga.

Proses membuat kerajinan tersebut memakan waktu hingga dua hari,  jika hari sedang panas. “Kalau hari hujan, bisa makan waktu lebih dari seminggu,” kata wanita paruh baya yang sudah mencari nafkah dari keterampilannya menjahit sejak ia duduk di bangku SMP tahun 1978.

Dengan harga jual mulai dari Rp 7.000-Rp 150.000, setiap bulannya Atik mampu meraih omzet sekitar Rp 1 juta-Rp 2 juta. Saat ini produk kerajinan ‘Annisa’ dijual di sekitar Kota Pontianak, Jakarta, Jombang, dan seluruh kabupaten atau kota se-Kalbar. “Bahkan pernah juga hingga ke Arab Saudi,” ujar Atik.

Selain itu, Atik juga rutin membuat pesanan untuk PLN Kalbar setiap bulan sebanyak 150-200 buah souvenir dari bahan kertas bekas. Dalam sebulan, Atik membuat sekitar 250 buah souvenir dengan berbagai macam model.

Untuk mengoptimalkan pemasaran produk, Atik juga rutin mengikuti pameran mulai dari sekitar Kalbar yakni di Pontianak Convention Center, hingga ke halaman kantor Bupati Kubu Raya sewaktu perayaan MTQ tempo hari. Ia juga pernah menitipkan produknya ke pelaku UMKM yang tengah mengikuti pameran di Jakarta, Lampung, dan Palembang, serta dititipkan di galeri kerajinan yang ada di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Kendala yang dihadapi

Minimnya SDM masih dirasa sebagai Kendala bagi Atik. Terkait bahan baku produksi, selama ini kertas koran bekas didapat secara gratis dari PLN, sedangkan kerang untuk hiasan kotak tisu dibeli per karung dari Kabupaten  Ketapang, Kalbar  yang pengirimannya dititipkan lewat kapal Express tujuan Ketapang-Pontianak.

“Saya pernah membuat replika sepeda dan Vespa dari bahan kertas koran bekas. Namun, karena proses pengerjaan yang rumit, produk tersebut terpaksa saya hentikan,” ujar Atik ketika menceritakan kesulitannya dalam membuat kerajinan koran bekas.

Tak hanya omzet per bulan saja yang Atik dapatkan dari bisnis kerajinan Koran bekas, namun Ia juga pernah dibiayai oleh salah satu tv nasional untuk mengajar ibu-ibu di Bali, bagaimana cara membuat kerajinan dari kertas koran bekas selama satu bulan. Disana ternyata Atik juga bisa belajar membuat kotak tisu dari kerang, yang biasa dibuat oleh pengrajin di Bali.

“Sampai saat ini saya juga masih rutin mengajar para ibu binaan PLN dan Astra Motor ke berbagai daerah di Kalbar seperti Sintang, Melawi, Landak,Entikong (Sanggau) hingga Putussibau,” paparnya






Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar