SUKSES MEMBANGUN BISNIS SAMPINGAN BERSAMA PASANGAN

  • SUKSES MEMBANGUN BISNIS SAMPINGAN BERSAMA PASANGAN

Berbekal kekompakannya bersama sang pujaan hati, Dewi Nopianingsih (29) dan Mohamad Poniman (33) membangun bisnis sampingan di sela-sela padatnya aktivitas rutin yang mereka kerjakan setiap harinya. “Kami adalah pasangan suami istri. Suami saya adalah seorang PNS, sementara saya memutuskan berhenti bekerja sebagai editor buku setelah kelahiran si kecil,” terang Dewi.

Sembari menjalankan peran utamanya sebagai ibu rumah tangga, Dewi tetap bekerja freelence sebagai editor buku dan penulis lepas sembari mencari dan mencoba peluang bisnis yang bisa Ia geluti. Mulanya, ide usaha baby playmat (matras bermain anak) ini muncul secara tidak sengaja, ketika suami Dewi tengah berbelanja ke sebuah supermarket perlengkapan rumah tangga dan furniture bersama rekan kerjanya. Rekannya tersebut tertarik pada produk baby playmat merek luar negeri yang harganya cukup mahal untuk buah hatinya yang berusia 1 tahun.

“Sayang, kalau kamu beli dengan harga segitu, aku buatin harganya bisa separonya dari itu, cetus suami kala itu. Teman tersebut akhirnya menurut, beberapa hari selanjutnya memberi uang untuk dibuatkan baby playmat. Uang tersebut lantas dibelikan mesin jahit seharga Rp 800.000,00, sisanya untuk membeli bahan busa dan covernya,” ujar ibu satu anak tersebut.

Belajar Secara Otodidak

Berawal dari situ, dengan kemampuan jahit yang masih minim Poniman mencoba membuat matras bermain baby dan anak sebagai bisnis sampingan di sela-sela jam kerjanya. Jadilah satu produk pesanan pertama dari temannya dan bisa dibilang Ia tak keluar modal sama sekali karena dari uang pesanan temannya itu dibelikan mesin jahit dan juga bahan-bahan playmat.

“Dari mulut ke mulut, akhirnya beberapa teman kantor pun ikut memesan. Saya dan suami akhirnya berbagi tugas, suami yang turun tangan di bagian produksi, dan saya bagian promosi. Saya pun coba-coba mengunggah foto-foto baby playmat di Facebook pribadi, responsnya cukup baik, banyak yang berkomentar dan menanyakan harga. Namun, karena harga yang mungkin tidak murah, belum ada dari mereka yang memesan,” tuturnya.

Meski begitu, Dewi tak patah semangat dan terus melakukan promosi baby playmat di berbagai grup perlengkapan ibu dan bayi yang ada di Facebook, di berbagai situs jual beli online, membuat blog, twitter, instagram, BBM, dan juga WhatsApp. “Alhamdulillah, produk kami sedikit demi sedikit mulai dikenal. Hal ini terlihat dari bertambahnya pesanan baby playmat setiap bulannya. Sampai saat ini, baby playmat kami masih made by order, dikerjakan berdasarkan pesanan dan masih dikerjakan sendiri,” imbuh Dewi.

Dalam sebulan, Dewi dan Poniman sedikitnya bisa mengerjakan 6-8 buah baby playmat sesuai dengan permintaan konsumen. “Kami membuat matras bermain anak dengan material busa density 24 dan rebondid. Untuk covernya, kami menggunakan kain sintetis anti air sehingga mudah dibersihkan jika terkena kotoran, tumpahan makanan, atau ompol si kecil,” kata mompreneur yang sukses ini.

Kendati pengerjaan matras bermain masih dikerjakan sendiri dan masih menjadi bisnis sampingan bagi pasangan suami istri ini, namun produk playmat yang diberi merek Alqeemat ini pemasarannya tidak hanya di sekitar Jabodetabek namun juga mulai merambah di sekitar Jawa Tengah dan Sumatera.

“Harapan kami, semoga usaha yang kami jalani ini terus berkembang dan tak hanya menjadi bisnis sampingan serta bisa merekrut karyawan. Untuk mengembangkan usaha ini, kedepannya semoga bisa merangkul para reseller dan selanjutnya memiliki agen di berbagai wilayah,” kata Dewi 





Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar