Sukses jadi Juragan Wader Goreng Dengan Modal Minim

  • Sukses jadi Juragan Wader Goreng Dengan Modal Minim

Bagi sebagian orang, usaha ini mungkin dianggap sepele: menggoreng wader, sejenis ikan air tawar berukuran kecil. Namun, berkat usaha ini, Supriyadi, warga Dusun Santan, Guwosari, Panjangan, Bantul, meraup omzet Rp 90 juta per bulan dan memberi sumber nafkah bagi 12 pekerjanya.

Wader goreng produksi Supriyadi telah beredar di 79 toko oleh-oleh dan rumah makan di kawasan Kabupaten Sleman dan Kotamadya Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kini, rata-rata dalam satu hari Supriyadi menggoreng 200 kilogram wader dan selalu habis terjual. Tak ada yang menyangka usaha yang dirintis Supriyadi dengan modal awal Rp 60.000 ini berkembang pesat.

Supriyadi memulai usaha wader goreng pada tahun 2000. Sebelumnya, ia bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. Krisis ekonomi yang menghantam Indonesia tahun 1998 membuat Supriyadi kehilangan pekerjaannya karena terkena pemutusan hubungan kerja.

Supriyadi pun memutuskan kembali ke kampung halamannya di Bantul, DI Yogyakarta, dan meninggalkan Jakarta. Di kampungnya, Supriyadi tertarik dengan usaha yang digeluti mertuanya, yakni menggoreng wader. ”Dengan modal Rp 60.000 saya ajak istri untuk membeli wader lalu digoreng. Setelah dijual ternyata responsnya positif. Saya lalu menambah jumlah wader dengan mencari pinjaman sana sini,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Sampai tahun 2006, usaha wader goreng Supriyadi belum menunjukkan hasil yang signifikan. Gempa bumi yang melanda Yogyakarta sempat membuat usahanya terhenti selama enam bulan.

Saat itu, Supriyadi seolah kehilangan semangat untuk bangkit. Rumahnya rata dengan tanah. Namun, berkat dorongan keluarga, Supriyadi pun memulai kembali usaha wader goreng.

Tahun 2007, bapak tiga anak itu mendapatkan bantuan modal Rp 40 juta dari pemerintah. Dana tersebut dimanfaatkan untuk membeli peralatan menggoreng, alat mengemas, dan peralatan pendukung lainnya. Semua peralatan tersebut dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya.

Kini wader goreng Supriyadi telah populer sebagai salah satu oleh-oleh khas Yogyakarta. Wader goreng yang krenyes-krenyes, menjadi daya tarik utama bagi konsumen.

Rahasia krenyes-krenyes wader goreng produksi Supriyadi itu terletak pada cara menggorengnya, yaitu melalui dua tahap penggorengan.

Pertama, wader digoreng dengan tepung kering. Bila pesanan tidak terlalu banyak, wader gorengan pertama ini bisa disimpan hingga satu minggu.

Namun, untuk mendapatkan wader goreng siap konsumsi, wader gorengan pertama di campur dengan tepung basah lalu digoreng kembali. Hasil dari penggorengan tahap kedua ini bisa tahan sampai tiga bulan.

Supriyadi juga peduli pada kemasan. Selain mengemas dalam plastik, ia juga menawarkan wader goreng kemasan stoples seharga Rp 20.000. Adapun kemasan plastik harganya Rp 15.000 per 200 gram. ”Kemasan penting untuk menarik konsumen. Kalau dibuat menarik, mereka bisa memanfaatkannya untuk oleh-oleh,” ujar Supriyadi seperti dikutip Kompas.

Kepercayaan konsumen pun dia bangun dengan memberi jaminan kelayakan produk. Supriyadi melengkapi usahanya dengan sertifikat pangan industri rumah tangga (PIRT). Usaha milik Supriyadi ini menjadi satu-satunya usaha skala rumah tangga sektor perikanan di Bantul yang mengantongi PIRT.

Selama ini, lanjutnya, pengusaha makanan kurang peduli pada PIRT. Padahal, untuk bisa menembus ritel modern, PIRT biasanya jadi syarat utama.

Usaha wader goreng Supriyadi kini bukan hanya memberi penghasilan kepada 12 pekerjanya, tapi juga pembudidaya ikan dari berbagai daerah yang selama ini menjadi pemasok wader segar.

Supriyadi mendapat pasokan wader segar dari Wonogiri, Purwodadi, dan Pati, Jawa Tengah, serta Bantul, DI Yogyakarta.

Supriyadi tak berhenti hanya puas menjadi pengusaha wader goreng. Ia masih memiliki obsesi untuk membangun kampungnya menjadi daerah tujuan wisata kuliner.

”Selama ini wader goreng hanya kami titipkan sehingga manfaat untuk masyarakat sekitar tidak optimal. Jika Dusun Santan bisa jadi ikon wader goreng dan mendatangkan banyak pengunjung, masyarakat pasti akan ikut menikmati,” ujarnya.

Supriyadi sudah membuat rancangan pengembangan rumah makan di kampungnya. Dalam desain tersebut, ia mencantumkan pembuatan arena bermain anak dan taman. Dua sarana ini dinilai penting agar pengunjung mendapatkan nilai lebih. ”Mereka tidak hanya makan, tetapi juga bisa bermain dengan keluarganya,” tutur dia.

Diversifikasi produk pun dilakukan, dengan membuat ini menjadi strategi agar konsumen tidak jenuh. ”Saya juga sedang berpikir membuat kerupuk dari limbah wader dan udang. Selama ini limbahnya dibuang, padahal masih bisa dimanfaatkan,” kata Supriyadi.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar