Sukses dengan Bisnis Aneka Olahan Ikan

  • Sukses dengan Bisnis Aneka Olahan Ikan

Berawal dari obrolan santai dengan para pembudidaya serta pembenih ikan air tawar di wilayahnya, Bapak Aray D Harjunatin (45) memperoleh ide untuk memanfaatkan surplus komoditi ikan (anakan/ baby) nila menjadi olahan makanan yang bernilai jual tinggi. Di rumahnya Godean Sleman, Pak Aray mengolah anakan nila menjadi keripik yang renyah dan bercita rasa khas. Bulan November 2009 menjadi langkah awal bagi Pak Aray merealisasikan idenya tersebut dengan menggunakan bendera BALIBU. Langkah yang dilakukan sarjana pendidikan akuntasi tersebut menjadi solusi bagi para petani di wilayahnya yang sering terkendala proses budidaya dan pemasaran.

“Para petani (ikan konsumsi) di Sleman itu sangat tergantung dengan ketinggian air di Selokan Mataram, sehingga ketika musim kemarau tiba banyak petani yang kesulitan menjalankan proses budidaya (pembesaran), disamping itu ketika produksi surplus mereka juga terkendala perihal pemasaran, alhasil pengolahan menjadi keripik menjadi langkah tepat agar cashflow mereka (petani) juga tetap berjalan,” jelas Pak Aray. Apa yang dilakukan ayah satu orang putri tersebut menjadi yang pertama di Kabupaten Sleman kala itu, sehingga dukungan langsung mengalir deras dari berbagai pihak, terutama dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman.

Adanya dukungan serta respon positif pasar terhadap kreasi produknya menjadikan Pak Aray semakin termotivasi dalam mengembangkan inovasi produk lainnya. “Terkadang memang kami terkendala juga dengan bahan baku (untuk keripik nila) karena hanya memanfaatkan stok saat petani surplus produksi, sehingga kami melakukan inovasi pengembangan ke produk lainnya agar tidak mandeg berproduksi,” terangnya. Abon nila, krispi lele, stik kepala ikan (nila) menjadi kreasi produk berikutnya yang diproduksi Pak Aray dalam pengembangan aneka olahan ikan. Hasilnya, tidak kalah dengan keripik ikan nila, produk-produk tersebut juga digemari masyarakat dari berbagai lapisan usia.

Saat ini, menggunakan 4 bahan baku, yakni nila, lele, bandeng, dan tuna, Pak Aray mampu memproduksi aneka varian olahan yang tidak hanya lezat, tetapi juga berprotein tinggi. Bukan menjadi rahasia lagi jika saat ini memang sedang digalakkan kampanye ‘ayo makan ikan’ oleh berbagai pihak terkait. Hal itu tidak lain karena kandungan gizi, protein, serta omega3 yang terkandung dalam ikan sangat tinggi, sehingga cocok untuk pertumbuhan anak maupun orang dewasa. “Alasan itu pula yang menjadikan saya tidak berhenti melakukan inovasi olahan ikan sampai dengan saat ini,” imbuh Pak Aray mantap.

Dibantu 4 orang karyawannya, Pak Aray mengolah nila menjadi krispi/ keripik baby nila, abon, stik kepala ikan, rambak, dan presto nila. Sementara untuk lele, beliau mengolahnya menjadi krispi/ keripik lele dan abon lele. Untuk tuna pun diolah menjadi abon serta nugget, dan bandeng diolahnya menjadi presto. Masing-masing item produk olahan tersebut memiliki inovasi rasa yang berbeda-beda, terutama untuk abon yang memiliki rasa manis dan pedas.

Strategi Pemasaran Olahan Ikan Balibu

Aneka olahan ikan Balibu tersebut selama ini dipasarkan langsung ke konsumen (direct selling), titip ke toko/ swalayan yang ada di seputaran Yogyakarta, pameran-pameran, serta melalui media online (internet). “Untuk regional Jogja, hampir semua swalayan telah kami masuki, saat ini kami juga sedang merancang ‘gerobak/ becak’ untuk pemasaran door to door keliling wilayah terdekat, namun masih terkendala SDM yang ada,” lanjut Pak Aray. Sementara untuk jangkauan pemasaran nasional sudah sampai ke wilayah sumatera hingga Papua.

Yang menarik, ada salah seorang pelanggan tetap BALIBU yang khusus menyediakan olahan ikan bagi anak autis (autis food). Namun, menurut Pak Aray ada aturan tertentu dalam mengolah makanan seperti itu, sehingga tidak bisa sembarang terutama dalam komposisi bumbu yang digunakan. “Pada prinsipnya kami tidak menutup peluang untuk pesanan olahan custom seperti itu, selama kami masih mampu untuk memproduksinya,” kata salah seorang penyuluh perikanan swadaya Kabupaten Sleman tersebut.

Dari segi harga, aneka olahan ikan BALIBU cukup variatif dan mampu bersaing di pasaran. Untuk krispi/ keripik baby nila (100 g) harganya Rp10.000,00/ pcs; abon (100 g) Rp18.000,00/ pcs; stik tulang ikan (100 g) Rp4.500,00/ pcs; lele krispi (100 g) Rp10.000,00/ pcs; bandeng presto Rp12.000,00/ pcs; dan masih banyak lagi. Selain netto 100 g, produk BALIBU juga dikemas dalam kapasitas lain, yakni 200 g, 500 g, 1 kg. “Selama ini kami rutin berproduksi setiap harinya, dengan kapasitas rata-rata mencapai 4 kwintal dalam sebulan,” terang Pak Aray.

Dengan banyaknya pilihan kemasan yang disediakan oleh BALIBU, ternyata memudahkan konsumen untuk memilih sesuai dengan yang mereka hendaki. Selain itu, Pak Aray juga membuka kesempatan luas bagi pihak-pihak lain untuk menjalin kerjasama pemasaran dalam bentuk reseller maupun agen produk BALIBU. “Untuk reseller pastinya akan mendapatkan harga khusus, dengan syarat-syarat tertentu,” jelas Pak Aray yang kini juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (ASPPIN) Kabupaten Sleman.

Kerja keras dan fokus menjadi dua hal utama yang selama ini selalu menjadi pegangan Pak Aray dalam menjalankan usahanya. “Kendala dalam menjalani usaha itu pasti ada, tetapi ketika kita fokus maka seberat apapun kendala pasti bisa teratasi, selain itu dalam kaitan dengan usaha ini (makanan) sebisa mungkin bahan bakunya harus tertimbang, bukan ditakar, agar hasilnya lebih terukur,” terangnya. Disinggung mengenai harapan ke depannya, beliau ingin usahanya bisa lebih berkembang lagi karena sudah berada di track yang benar. Selain itu, Pak Aray juga berharap bisa memiliki toko oleh-oleh yang khusus menjual aneka olahan ikan.







Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar