SUKSES BISNIS KOPI, MESKI SEMPAT CICIPI PAHITNYA DITIPU REKAN KERJA

  • SUKSES BISNIS KOPI, MESKI SEMPAT CICIPI PAHITNYA DITIPU REKAN KERJA

Nino Maulana, 32, awalnya tidak tertarik untuk membuka usaha sendiri. Pria yang akrab disama Nino justru lebih tertarik untuk berbisnis lewat penanaman modal atau investasi kepada usaha orang lain atau rekan bisnis.

Nino menceritakan, dengan modal kepercayaan, ia menginvestasikan uang ratusan juta rupiah kepada seorang kenalan baru pada tahun 2010. Saat itu, Nino merasa percaya saja apalagi saat pembagian persenan awalnya lancar dan menilai kalau kenalan itu orang baik. Namun, setahun kemudian ia mulai sadar tertipu karena rekan kerja tersebut tidak ada kabar sama sekali, pembayaran pun tidak diterimanya.

“Jadi sekitar tahun 2010, saya bersama dua teman berencana membuka usaha kafe kopi bersama. Saya bersama dua teman saat itu tadi tertarik pada bisnis kopi dan lumayan lama ngincar bisnis tersebut. Karena suka nongkrong di kafe kopi. Makanya setelah dipikir-pikir, tahun berikutnya mau ikut terlibat, tapi memang kami tidak ikut campur dengan pengelolaan kafe itu, tahunya cuma terima bersih,” katanya.

Berdasarkan pengalaman pahitnya ditipu rekan kerja, Nino memberanikan diri bersama dua temannya untuk mengelola dan mendirikan cafe kopi bernama Grand Kedeu Kupie Ulee Kareng & Gayo Medan di Jalan Sei Rahayu. Saat itu, menjadi awal Nino mengelola bisnis secara langsung. Di mana rasa bingung melanda karena kalau mundur tak mungkin.

Sebab mereka tidak akan dapat apa-apa dan uang yang tertanam sesama ini akan hilang begitu saja. Karena itu ia pun melangkah maju dengan belajar untuk mengelola kafe kopi. “Saat itu kita memang bingung, kalau ikut kabur juga kita enggak dapat apa-apa. Pilihan cuma dua, nyerah atau terusin. Kalau terusin akan ketemu dua kenyataan, rugi atau untung. Ya sudah bismillah saja waktu itu,” kata pria berkulit putih itu.

Dengan berdirinya Grand Kedeu Kupie Ulee Kareng & Gayo Medan merupakan usaha mereka bertiga sebagai pertanda ketiganya resmi jadi pemilik kafe tersebut. Mereka pun saling menguatkan. Dengan sisa modal yang ada, mereka mempertahankan usaha yang sudah berjalan. “Kita saat itu sudah kehabisan modal makanya kita meminjam modal dari bank.

Syukurnya, mereka dimudahkan dalam segala pengurusan. Awal pembangunan kafe kopi 2014 ada hikmah. Kami terpaksa minjam uang dari bank buat modal untuk bayar utang dari uang yang dilarikan rekan kerja itu. Lalu dari tempat lama pindah kemari semuanya jalan dimudahkan,” tambah pria kelahiran Kota Medan. Dengan kesabaran, Nino berhasil membesarkan usahanya itu. Kini, usahanya sudah memiliki dua cabang dan akan terus bertambah di Kota Medan.

Terakhir, hanya berdua saja mengelola usahanya itu. Sebab seorang temannya hengkang dan memilih usaha yang lain. Nino pun memiliki pesan bagi calon pengusaha agar tidak percaya pada orang lain begitu saja mengelola usahanya. Seorang pengusaha harus ikut dalam manajemen usaha tersebut. “Jangan mau terima bersih saja. Dulu pengenanya dapat duit mudah tapi ternyata duit datangnya enggak gampang,” pungkasnya.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar