Siswanto, Juragan Apel di Lumbung Kopi

  • Siswanto, Juragan Apel di Lumbung Kopi

Awalnya banyak pihak pesimistis terhadap usaha Siswanto (51) membudidayakan apel di Aceh Tengah, negeri yang lebih dikenal sebagai lumbung kopi. Tapi penduduk Kampung Despot Linge, Kecamatan Linge, Aceh Tengah ini tetap optimistis bahwa apel juga cocok dikembangkan di negeri berhawa sejuk itu. Kini, keyakinannya terbukti. Sekali panen apel, ia bisa meraup omzet Rp 8 juta.

Beberapa jenis apel, di antaranya apel manalagi, ana, rome beauty, australi, dan wangling, kini tumbuh subur di kebun Siswanto yang berada di belakang rumahnya.   

Apel dari kebun Pak Sis--demikian ia biasa disapa--kini laris manis. Bahkan banyak warga yang sengaja menunggu-nunggu kapan jadwal panen. Saat panen tiba, pengunjung dipersilakan Pak Sis memetik sendiri apel yang ranum dari pohonnya. Mirip di Taman Buah Mekarsari, Jawa Barat. Tapi jika hendak dibawa pulang, Pak Sis membanderol apelnya dengan harga Rp 25 ribu per kilogram.

Kini konsumen apel Pak Sis bukan cuma dari Aceh Tengah, tetapi banyak juga yang berasal dari daerah lain. “Untuk kebun apel yang ada sekarang, sekali panen bisa menghasilkan duit sekitar Rp 8 juta. Tapi kendala yang kami hadapi saat ini adalah akses jalan kemari yang belum begitu bagus,” ungkap Siswanto seperti dikutip dari Serambi Indonesia.

Di tengah keterpakuan masyarakat Dataran Tinggi Gayo yang hanya mengandalkan tanaman kopi sebagai komoditas primadona, Pak Sis telah membuktikan bahwa budidaya apel pun bisa mendatang banyak duit di kabupaten berhawa sejuk ini.

Apel benar-benar telah menyumbangkan kesejahteraan bagi suami Sri Suyati ini. Ia sudah bisa membeli dua mobil. Tidak lagi hidup menumpang karena sudah mampu membangun rumah sendiri. “Kami sekeluarga juga bisa pulang pergi ke kampung halaman di Malang,” ujarnya.

Dari namanya, mudah ditebak kalau Siswanto bukan asli Aceh. Ia berasal dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Tapi Aceh adalah “tanah air” kedua baginya. Pak Sis sekeluarga awalnya menjadi transmigran di Despot Linge, Aceh Tengah pada 1995. Tapi saat eskalasi konflik berkecamuk menjelang akhir ‘90-an, ia terpaksa eksodus dari Aceh tahun 2000.

Pak Sis memboyong keluarganya ke tanah kelahirannya di Malang, Jawa Timur. Semua harta benda, termasuk kebun kopi dan rumah, terpaksa ia jual murah untuk ongkos pulang ke Jawa. Ia tak ingin menjadi korban konflik yang saat itu semakin tak tentu arah.

Sesampai di Malang, Pak Sis justru tak betah. Soalnya, bangun pagi cuma lihat dinding rumah tetangga. Kondisi itu hampir lima tahun dirasakan, lalu ia putuskan untuk kembali ke Aceh Tengah.

Ketika di Aceh diberlakukan darurat sipil, pada saat itulah, September 2004, Siswanto kembali ke Gayo bersama keluarganya. “Awal kedatangan kami yang kedua ke Despot Linge ini, saya dan keluarga menumpang lantaran tak punya rumah. Memulai hidup baru harus merintis lagi dari nol. Sambil menggarap kebun kopi, saya berjualan sayur dan pisang,” kenangnya.

Pria berkumis tebal ini juga coba-coba menanam apel. Awalnya hanya empat batang bibit apel yang ia bawa dari Malang. Setelah tampak tumbuh subur, barulah ditambah Pak Sis beberapa batang lagi. “Dengan modal pertama 16 batang apel, sekarang saya sudah punya lahan sekitar 1,5 hektare yang seluruhnya ditanami apel berbagai jenis,” kata Pak Sis.     

Tantangan terberat yang dia rasakan awalnya adalah sikap pesimis para tetangganya yang menganggap budidaya apel Pak Sis bakal berbuah kesia-siaan. Maklum, Gayo bukan Jepang, juga bukan Virginia atau Seattle di mana apel bisa hidup subur dan berbuah. Pak Sis hanya punya satu teori, kalau di Malang yang berhawa sejuk apel bisa berbuah, mengapa tidak jika ditanam di Takengon yang juga sejuk?

Tapi Pak Sis pernah sedih karena beberapa warga yang dia beri bibit apel, justru menjadikannya sebagai tanaman pagar karena menganggap tak bakal berbuah.  Kini anggapan itu terbantah. Pohon-pohon apel di belakang rumah Pak Sis mulai menghasilkan rupiah sebagai hasil penjualan apel miliknya. “Apel ini mulai banyak produksinya tahun 2008. Sampai sekarang terus berbuah. Dalam setahun dua kali panen,” katanya.

Kini Pak Sis menambah lagi 1,5 hektare luasan kebun apelnya. Sementara itu, puluhan pohon apel yang tumbuh subur di belakang rumahnya telah mendongkrak ekonomi keluarga Pak Sis, sehingga ia menjadi terkenal. “Ibu Bupati Aceh Tengah pernah datang kemari untuk membeli apel dari kebun saya,” ungkap Pak Sis.

Selain berkebun apel, ia juga memiliki kebun kopi. “Sekarang kebun kopi saya ada tiga hektare. Ditambah lagi dengan kebun apel yang baru ditanami seluas 1,5 hektare,” ujar Siswanto.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar