SERING DITOLAK KERJA, KINI RIA SUKSES BISNIS TAS KERAJINAN JOGJA

  • SERING DITOLAK KERJA, KINI RIA SUKSES BISNIS TAS KERAJINAN JOGJA

Sering ditolak kerja rupanya tak membuat Ria (27) patah semangat. Justru kegagalannya untuk berkarir pada sebuah instansi menggiringnya menjadi pengusaha tas sukses. Padahal menjadi pengusaha bukanlah cita-citanya. Namun siapa sangka, kini Ria mampu meraup omzet hingga Rp 50 juta hanya dengan berjualan tas anyaman.

Lulusan Teknik Kimia 2012 salah satu universitas swasta ternama di Yogyakarta ini mengaku sempat bingung belum juga memperoleh pekerjaan usai lulus. Setelah satu tahun tidak ada satu pun lamaran pekerjaannya yang lolos, Ria pun akhirnya memutuskan untuk membantu sang Ibu berjualan tas anyaman.

Ria melihat usaha sang Ibu yang berjualan tas sejak 2007 itu belum juga memperoleh hasil yang signifikan. Produk yang dijualnya pun hanya tas pandan yang dikulaknya dari penjual tas di Malioboro dan dijualnya kembali di tempat lain. Keuntungan pun tak sebarapa. Akhirnya Ria tergerak untuk membantu serta mengambil alih usaha ibunya untuk dikelola.

”Belum punya modal besar, jadi beli beberapa buah tas di Malioboro. Dulu itu hanya tas pandan saja dan hanya mengambil keuntungan Rp 5 ribu – Rp 10 ribu per picisnya untuk dijual lagi di Alun-alun Utara,” tuturnya.

Omzet Melejit Hanya Dengan Website Rp 500 ribu

Putri bungsu dari tiga bersaudara ini akhirnya mendapat saran dari temannya untuk melakukan penjualan online, agar meraup pangsa pasar yang lebih luas. Ria pun mengikuti saran temannya dan  memulai membuat website yang saat itu sedang promo. Hanya dengan Rp 500 ribu, Ria membuat website dengan nama ”Tas Anyaman Jogja” dan mulai berjualan dengan sistem online.

”Selain jualan di toko online, seperti tokobagus saya juga rutin mengupdate produk di website jadi pembeli bisa melihat-lihat pilihan produk yang diinginkan. Dari situ mulai ada peningkatan pembeli dan kami mulai menambah jenis serta model tas yang lain. Ya tidak hanya dari bahan pandan, tetapi ada rajut, batik, mendong, enceng, batok kelapa, dan rotan,” papar Ria.

Meski telah memulai penjualan lewat online, perempuan yang memiliki hobi senam ini juga masih berjualan offline dengan menyewa kios kecil di Alun-alun Utara. Tapi menurutnya berjualan dengan sistem online mampu meraup keuntungan yang lebih besar dan lebih efisien dari segi waktu dan tenaga.

”Sempat sewa tempat kecil di Alun-alun Utara tapi kurang laku. Banyak yang menawar tas dengan harga yang sangat murah. Adapun yang mau beli beberapa wisatawan saja. Pikir-pikir, ya sudahlah ditutup saja dan fokus pada penjualan online dengan menambah media Facebook dan Instagram yang kemudian saya giring ke Whatsapp dan BBM,” jelasnya.

Tak butuh waktu lama, Ria pun mendapat pesanan tas souvenir sebanyak 100 pcs. Dari situ, ia terpikir untuk memesan langsung pada perajin. Dari keuntungan berjualan tas, ia jadikan modal. Sebelum bertemu perajin pun ide briliannya kembali muncul. Ia pun mencoba membuat beberapa model tas untuk diajukan ke perajin. Karena selama ini, Ria selalu membeli model tas yang sudah ada dari para distributor.

Rupanya tidak mudah mencari perajin yang bisa mewujudkan keinginan Ria. Mulai dari model dan bentuk tasnya, harga, dan kualitas pengerjaan. Ia rela menjelajah hingga ke pelosok Jogja untuk mencari perajin tas yang sesuai. ”Keliling Jogja cari perajin, tapi ya tidak bisa langsung dapat yang cocok. Proses cukup lama untuk melakukan seleksi yang bisa memenuhi pesanan saya. Baik ada kualitas dan jaminannya,” katanya.

Jadikan Rumah Sebagai Showroom Usahanya

Tahun demi tahun usaha tas anyaman yang dikelola Ria seorang diri itu ternyata memperlihatkan kemajuan. Hal itu terlihat dari makin bertambahnya stok tas yang berada di rumahnya yang sekaligus ia jadikan showroom usahanya yang berada di Gang Pancasila, Prawirodirjan, Yogyakarta. Nyaris satu ruangan penuh dengan aneka ragam tas. Belum lagi setiap bilik kamar hingga ruang tengah yang juga dipenuhi berbagai tas yang siap dipacking untuk dikirim ke luar kota.

Meski letaknya berada di gang sempit, namun tidak menyurutkan niat para pemburu tas anyaman milik Ria tersebut. Justru hal itu menjadi keunikan tersendiri bagi para pelancong atau wisatawan. Mayoritas para wisatawan membeli oleh-oleh tas mulai 10 hingga 20 picis. Nyaris setiap hari rumah Ria dipadati pembeli yang tak hanya dari Jogja namun banyak dari luar Jogja. Belum lagi para resellernya yang setiap dua pekan sekali membeli 10 sampai 15 tas. Karena harga yang dibanderol pun sangat terjangkau, yaitu mulai dari harga Rp 10 ribu sampai Rp 300 ribu. Tak ayal, setiap bulannya Ria mampu meraup omzet hingga Rp 50 juta bahkan lebih.

”Sekarang malah jadi produsen, banyak reseller offline dan online yang langsung ambil barang ke sini karena enak bisa milih langsung. Saya hanya dibantu satu karyawan, ibu dan bapak untuk melayani pembeli dan packing barang,” ungkapnya.

Dibalik showroom yang sederhana tersebut, ternyata Ria memiliki puluhan perajin tas yang tersebar di pelosok Jogja. Tak heran, karena produk tasnya yang bervariasi dan berbagai jenis bahan membuatnya mempekerjakan banyak perajin ahli di bidangnya.

Alhamdulillah banget, tidak pernah menyangka bakal besar seperti ini. Tapi ini masih banyak yang perlu dibenahi karena saya mengerjakannya seorang diri. Ke depan saya ingin memperbaiki sistem manajemen, dan semoga segera memiliki showroom dengan letak yang strategis agar mempermudah para pembeli,” paparnya.

Kini Ria tak hanya menjual beragam tas anyaman yang modelnya mencapai 200 lebih. Produknya pun bertambah mulai dompet rajut dan kulit, topi rajut, sepatu rajut untuk anak dan dewasa yang penjualannya telah merambah hingga se-Nusantara.

”Target ke depan ingin lebih meningkatkan produksi dan kualitas, serta memperbanyak model,” tukasnya.





Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar