Sempat Minder Usai Amputasi, Ini Perjuangan Ahmadi untuk Bangkit

  • Sempat Minder Usai Amputasi, Ini Perjuangan Ahmadi untuk Bangkit

Ahmadi (40), pria penyandang disabilitas asal Pasuruan itu kini sukses berbisnis layang-layang. Namun keberhasilan itu dicapai setelah berhasil bangkit dari putus asa pasca kakinya diamputasi.

Ahmadi pun mengisahkan masa-masa sulit saat ia bergelut dengan penyakitnya. Pada 2013, ia divonis menderita penyakit buerger, sebuah penyakit langka yang menyerang arteri atau pembuluh darah di lengan dan kaki.

Penyakit itu datang tanpa ia duga sama sekali. "Saya lulusan SMP. Setelah lulus SMP tahun 1994 silam, saya sempat bekerja sebagai tukang mebel di Pasar Mebeler Bukir (Kota Pasuruan)," kata Ahmadi.

Setelah lima tahun jadi tukang kayu, ia mencoba peruntungan lain dengan merantau ke sejumlah kota, di antaranya Bondowoso, Kupang dan Blitar. Dalam perantauan tersebut, ia mulai merasakan kejanggalan di kakinya. Ia mengaku sering kesemutan dan nyeri .

"Saya anggap itu karena capek saja. Ya saya pijit dan minum obat. Sembuh lalu kambuh lagi," kenangnya.

Karena sakit itu pula, ia memutuskan kembali ke kampung halaman. Ia merasa sudah tak kuat lagi bekerja. Namun ia tak pernah mengeluhkan penyakit yang dideritanya itu kepada keluarga.

Hingga pada 2013, dampak penyakitnya semakin kelihatan. "Ada beberapa teman yang melihat kaki saya. Katanya kecil sebelah," lanjutnya.

Menyadari hal itu, ia memutuskan untuk berobat ke RSUD dr R Soedarsono, Pasuruan. Setelah menjalani rawat inap, akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi.

"Setelah operasi saya lega. Saya harap sudah sembuh. Namun nyatanya tidak. Saya harus kembali menjalani perawatan selama 10 bulan di Malang (RSSA)," terangnya.

Akhirnya, dokter memutuskan untuk melakukan amputasi karena penyakitnya sudah parah. Ahmadi pun terpaksa mengiyakan tawaran tersebut karena sudah tak kuasa menahan rasa sakit.

"Setelah pulih, saya masih tak percaya. Saya benar-benar kehilangan kaki kanan saya," kenangnya.

Sejak saat itu, ia harus dibantu alat untuk berjalan. Pada awalnya ia mengaku minder. Selama setahun pasca kehilangan kaki, ia lebih sering mengurung diri di dalam kamar.

"Di saat itu, keluarga terus memberi saya dukungan. Teman-teman saya juga memberi saya semangat," ungkapnya.

Berkat dukungan keluarga dan teman terdekatnya, Ahmadi perlahan bangkit. Ia mencoba membiasakan diri dan beradaptasi dengan lingkungan. "Saya pikir diam di dalam rumah juga tak ada gunanya," imbuhnya.

Setelah berhasil mengatasi rasa minder, Ahmadi kemudian memulai memikirkan pekerjaan. Dengan modal seadanya dan dukungan penuh keluarga dan teman-temannya, ia memulai berbisnis layang-layang.

"Sampai saat ini saya jalani usaha layang-layang," pungkasnya.




Sumber : news.detik.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar