Rugi Rp 1 miliar & ditinggal suami, Nani sukses usaha selai move on

  • Rugi Rp 1 miliar & ditinggal suami, Nani sukses usaha selai move on

Menjadi orang tua tunggal untuk empat orang anak bukanlah hal yang mudah. Namun, kondisi ini dialami oleh Nani Kurniasari. Nani pun melakukan berbagai cara agar dapurnya tetap ngebul.

Kondisi yang dialami Nani bukan tanpa sebab. Bisnis catering yang dibangunnya bersama rekanan sejak tahun 2003 harus kandas di tengah jalan menyisakan rugi hingga kisaran angka Rp 1 miliar.

Tidak cukup sampai di situ, suami pun pergi meninggalkannya. Walhasil, Nani harus mengurus sendiri keempat orang buah hatinya.

"Bisnis bangkrut, rugi Rp 1 miliar, laki (suami) pergi," kata Nani.

Menyadari kondisinya tidak boleh berlarut-larut, Nani pun mencari pertolongan dan mendapatkan sesi coaching. Dari sesi tersebut, Nani berusaha bangkit menata kembali hidupnya dan membangun bisnisnya di bidang kuliner.

"Saya tidak punya pilihan selain 'move on', melepaskan semuanya dan menata hidup yang baru. Mesti tetap waras, biar anak-anak keurus dengan baik dan benar," tutur Nani.

Tercetus ide membuat selai. Ide membuat selai didasari oleh kesukaan Nani terhadap makanan-makanan manis. "Terus terang dulu suka banget sama makanan manis, kopi yang manis," ujar Nani.

Mulai lah Nani meracik selai karamel buatan sendiri. Diakui Nani, meracik makanan sangat tidak mudah. Kondisi emosi mempengaruhi cita rasa selai yang dibuatnya. Emosi bangkrut dan ditinggal suami diakui Nani membuat selai karamel racikannya menjadi pahit.

Oleh sebab itu, Nani pun berbulat tekad untuk keluar dari keterpurukannya, alias 'move on'. Kalimat 'move on' ini lah yang dijadikan merek selai karamel racikannya.

"Masak selai itu butuh waktu kurang lebih 7 jam, ngaduknya musti konsisten, penuh perasaan, harapan, cinta dan doa. Soalnya meleng dikit, rasa ancur enggak karuan, kekentalan tiba-tiba melenceng dari yang diharapkan," tutur Nani.

Bermodal Rp 200.000, 'Selai Move On' sudah beromset Rp 4-5 juta dalam beberapa bulan. Pengiriman pun sudah sampai ke Papua, bahkan luar negeri. Menurut Nani, untuk pengiriman ke wilayah-wilayah di Indonesia menggunakan jasa ekspedisi. Sementara pengiriman ke luar negeri melalui jasa penitipan kerabat.

"Sekarang, alhamdulillah setiap minggu bikin 50 jar, dan habis, ada saja yang pesan. Kemasan di jar isi 120 ml, harga Rp 40.000 per jar. Produksi setiap Jumat," ujar Nani.





Sumber : merdeka.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar