Rudy Setiawan, Sukses dengan Restoran Kepiting

  • Rudy Setiawan, Sukses dengan Restoran Kepiting

Ketika merintis restoran pertama kali, ia memulai dengan kegagalan berkali-kali. Sampai pada akhirnya, dia menemukan satu racikan bumbu dan “berjodoh” dengan kepiting. Restorannya, RM Dandito di Jalan Marsma Iswahyudi tak jauh dari Bandara Sepinggan, Balikpapan,  kini begitu dikenal.

Jadi ikon di Balikpapan. Jadi langganan artis, tokoh, pejabat, dan membawa pemiliknya menjadi salah satu pengelola kuliner terkenal di Kaltim. 

Mengawali usaha rumah makan dengan aneka menu khas nusantara, dia pernah gagal. Mencoba menyajikan masakan café dengan makanan ringan dan cepat saji,  juga gagal. Ketika akan fokus pada satu sajian saja, sempat membuka lebih dari satu outlet makanan sekaligus, rupanya tak juga berhasil. Alasannya,  susah mengatur. Tidak fokus. Satu hal lagi, manajemen kontrolnya rumit.  Pria dengan sekian kali kegagalan itu adalah Rudy Setiawan. Pensiun dari pekerjaan, Rudy mencoba peluang dalam bisnis rumah makan, dan memulainya pada tahun 2002. Tapi pada awal merintis usahanya, perjalanan  yang ia tempuh tak semulus semangatnya.

Pria yang punya darah seni dan piawai memainkan piano dan gitar ini memulai dengan menjual aneka masakan nusantara. Maksudnya, menjaring semua penikmat kuliner dalam satu wadah di tempatnya. “Yang saya jual pada awalnya campur aduk. Ada Pecel, Coto Makassar, Nasi Campur, dan banyak makanan daerah lainnya. Tapi tidak berjalan baik. Lalu saya ganti konsep, jualan makanan dengan konsep café. Menunya ya menu café, seperti steak, chicken wings, pizza dan spaghetti. Tapi tak juga bisa mengangkat omzet,” terangnya.

Setelah sekian kali gagal, pria berkacamata itu sadar, “Untuk apa menjual yang susah-susah. Lebih baik menawarkan yang dibutuhkan dan dicari orang. Dibuat di satu tempat dan dikemas dengan baik,” katanya. Dan, jadilah RM Kepiting Saos Dandito, seperti sekarang. 

Yang disyukuri oleh Rudy adalah, ia tak gampang menyerah, meski berkali-kali diserempet musibah. “Ya, kegagalan bisa jadi musibah. Tapi kan tergantung bagaimana kita memaknainya, mengambil pelajaran dari pengalaman kita,” cerita Rudy, seperti memberi nasehat. 

Sejak dibenturkan dengan beberapa kegagalan itu, Rudy mengubah konsep dagangannya. Dia mempelajari menu kepiting dan ikan bakar. Begitu merasa mantap, dia mengemas kepiting dalam menu utama jualannya.

“Sebenarnya, setelah itu tidak langsung berjalan mulus. Saya masih perlu banyak masukan tentang rasa dan harga. Saya tak mau menentukan harga terlalu tinggi. Yang saya utamakan  adalah bagaimana menjual produk yang bagus dengan harga yang masuk akal,”  urainya.

Kepiting Saos Dandito adalah bumbu hasil racikan Rudy.  Ketika menyajikan kali pertama, Rudy mengakui rasa kepiting yang disajikan masih amburadul. “Kadang terlalu manis, kadang terlalu asin, atau bahkan terlalu pedas. Beberapa kali saya dapati pengunjung complain. Tapi dari situ, saya belajar untuk membuat resep yang lebih baik lagi, sampai pelanggan menemukan rasa yang pas,” paparnya.  “Jadi,  sambil terus diprotes, saya juga melakukan proses.

Menu tetap saya tawarkan ke pembeli, tapi tiap waktu selalu saya perbaiki, ” kata ayah dua anak  bernama Gifta dan Dandy ini. Sekarang, Rudy boleh berbangga begitu orang merasakan racikan yang pas dari Saos Dandito racikannya, yang dia klaim hanya ada satu-satunya -- karena memang dia racik sendiri.  “Saat ini, kalau orang ke Balikpapan, salah satu yang dicari adalah kepitingnya. Jadi, saya ikut ‘mengkepitingkan’ Balikpapan,” candanya, lalu tertawa.

Tentang bagaimana ia berpromosi, Rudy benar-benar mengandalkan jalur pertemanan  dan relasi. Soal itu, Rudy punya prinsip everything’s oke with 267 (two six seven).  Dalam istilah tangga nada, 267 dibaca re la si . Itu bagi Rudy adalah senjata utama. “Kita bergaul dan punya banyak teman,kenapa tidak dimaksimalkan?” ujar suami dari  Yuli Setiyowati ini.

Teman yang sudah merasakan, akan dengan sendirinya merekomendasikan dari mulut ke mulut. Jika taste nya tepat, maka promosi tidak akan pernah berhenti, terus mengalir ke pelanggan lainnya.

Dalam menjalankan usahanya, Rudy percaya pada sistem AIDA, yaitu Advertising-Interest-Desire-Action.  Semua tahapan itu bagi Rudy berkaitan satu sama lainnya. Bagaimana cara mengiklan suatu produk agar mendapat perhatian orang, lalu orang tertarik, dari tertarik mendatangi dan berhasrat membeli. 

“Misalnya nih, kita diajak makan. Pasti pertanyaan pertama adalah; mau makan apa? Selanjutnya,  makanan itu yang enak di mana? Tempatnya bagaimana?” paparnya.

“Mungkin ada pertanyaan lain, tapi yang paling pokok pertanyaannya ya itu tadi; makan yang enak di mana?” imbuhnya.

Begitu orang sudah menyebut, masih ada “pertaruhan” lain bagi si pengelola rumah makan itu. Yakni, tempatnya harus bersih. Pelayanannya harus ramah. Dan tak boleh dilupakan, harganya juga masuk akal alias bisa diterima masyarakat banyak.

“Agar semua tetap bisa konsisten, dibutuhkan planning, organizing, standarisasi dan controlling yang baik,” tutur pria yang menetapkan Not Fast Food, But Good Food Fast sebagai  motto di rumah makannya itu.

Bagian yang paling susah, bagi Rudy, adalah manajemen kontrol. Rudy mengakui dia memiliki kekurangan  terhadap controlling. Itulah pengalaman dia  ketika pernah membuka cabang RM Dandito di empat tempat. Ya, Dandito dulu sempat membuka cabangnya di mana-mana, bahkan sampai Jakarta.

“Sebenarnya sempat untung. Tapi karena kontrolnya susah, saya khawatir tak berjalan sesuai harapan. Akhirnya saya tutup, dan fokus hanya di satu tempat saja,” tutur Rudy. 

Tapi, Rudy menyiasati. Kepada pelanggan-pelanggan yang jauh, ia berlakukan delivery system. 

Untuk “menebus” ditutupnya cabang Dandito di beberapa titik tadi, Rudy melayani penjualan sampai luar kota, di semua kota di Kaltim, Jakarta, Surabaya, sampai Yogyakarta.  “Sampai saat ini, setiap hari selalu ada pelanggan yang order dari luar Balikpapan,” terangnya.




Sumber : ayopreneur.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar