REZEKI DARI ASINAN & RUJAK JUHI

  • REZEKI DARI ASINAN & RUJAK JUHI

Rasa asinan dan rujak juhi memang menyegarkan. Berkat bisnis asinan, para pedagangnya memperoleh hasil yang manis.


Seandainya suaminya tidak terancam PHK di sebuah perusahaan iklan, barangkali Yeni (50) tidak bakal menjadi pedagang asinan yang sukses. "Saat suami saya masih bekerja, saya tidak diizinkan untuk berdagang. Padahal, saya ingin sekali dagang," kisah Yeni. "Nah, ketika tahun 1998 terjadi krismon, suami saya kena PHK. Saya pun diperbolehkan mulai berwiraswasta."

Yeni memilih dagang asinan sayur di daerah Cibubur dengan pertimbangan di sana saat itu belum ada yang dagang asinan. "Kebetulan, saya hobi masak. Sebelumnya, saya bawa asinan ke kantor suami. Ternyata banyak yang suka. Dari situ, saya memberanikan diri untuk buka warung. Awalnya, sih, banyak yang memandang sebelah mata. Maklum, asinan kan identik dengan Bogor. Tapi, dari satu dua orang yang mencoba, ternyata cocok. Mulailah banyak yang suka," lanjut Yeni yang tinggal di Pondok Gede.

Dalam waktu setahun, pelanggan Yeni makin meningkat. "Orang tak perlu jauh-jauh ke Bogor untuk beli asinan. Malah, pelanggan saya tak hanya dari Cibubur, tapi banyak juga dari Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. Itu sebabnya, saya buka cabang di kawasan Barito, Jakarta Selatan ini agar dekat dengan pelanggan. Warung di Cibubur dikelola oleh saudara saya," papar ibu dua anak yang tempat usahanya tak jauh dari Blok M ini.

Dengan cepat pelanggan Yeni bertambah. Kawasan Barito yang strategis membuat asinannya semakin cepat dikenal. "Di sini jauh lebih ramai ketimbang di Cibubur," ujar Yeni yang sudah punya tiga tempat usaha dengan total 14 karyawan. "Orang cocok dengan bumbu racikan saya. Saya memang membuat beda dengan asinan Bogor. Bumbunya saya tambah dengan kacang, agar aroma sayuran mentahnya tidak tampak. Bapak-bapak dan anak-anak pun suka. Asinan saya pun bisa disantap satu keluarga," kata Yeni yang di tahun ketiga berjualan, asinan sayurnya terpilih jadi 100 makanan terfavorit di Jakarta versi sebuah lembaga riset makanan.

Tentu semua itu dilewati Yeni dengan kerja keras. Awalnya, semua dikerjakan sendiri. Mulai belanja pagi-pagi, memasak, sampai berjualan. Bahkan, mengantar pesanan ke pelanggan pun dilakoni sendiri. "Sering saya mengantar asinan sendiri ke kantor-kantor di kawasan Kuningan dan Sudirman. Pernah saya bawa 60 bungkus dengan naik kendaraan umum. Sengaja saya bawa sendiri untuk mendengar kritik atau pujian dari pelanggan."

Sekarang, Yeni perlu moda Rp 2 juta untuk belanja. Untuk keperluan tiga warungnya, "Sehari saya beli tauge, kol, ketimun masing-masing 50 kg. Untuk kerupuk kuning dan merah, saya belanja 8 bal. Seladanya saya beli langsung di kebun, sedangkan tahu putih, sehari saya perlu sekitar 500 potong," ujar Yeni.

Meski sudah punya belasan karyawan, Yeni memang perlu untuk belanja sendiri. "Saya harus pilih dan cari bahan-bahan sayuran yang segar. Untuk bikin bumbu juga masih saya kerjakan sendiri," kata Yeni yang harga per porsi asinan Rp 7.000. "Untuk hari-hari biasa, rata-rata sehari saya bisa menjual 600-700 bungkus. Di bulan puasa ini, asinan saya lebih laris lagi."

Yeni yang berjualan pukul 11.00-18.00 mengatakan, memang bulan puasa, sedikit yang makan di warung. "Lebih banyak yang membawa pulang. Makanya pekerjaan saya jadi ringan. Kalau hari biasa, orang heboh makan di sini." Kepada ibu-ibu yang ingin berdagang, Yeni mengatakan tak perlu modal besar untuk memulai usaha asinan. "Modal Rp 200 ribu pun cukup. Dengan uang sebesar itu, bisa menghasilkan 50 bungkus. Kalau harganya Rp 7 ribu, bisa mengantongi uang Rp 350 ribu. Tapi, bila baru mulai usaha, jangan bicara keuntungan dulu. Yang penting kerja keras agar dagangan kita disukai pembeli," lanjut Yeni yang menyisihkan penghasilannya untuk beramal.


Sumber : http://nostalgia.tabloidnova.com/


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar