Meraup Rupiah dari Olahan Jengkol

Meraup Rupiah dari Olahan Jengkol

Jengkol, mendengar nama sayuran ini sebagian orang akan mengeryitkan dahi. Yang muncul seketika pasti, bau! Maklum, usai mengkonsumsi jengkol akan menimbulkan bau tak sedap. Baik bau mulut maupun saat buang air kecil. Sehingga sebagian orang merasa geli ketika disajikan makanan yang menggunakan bahan dasar atau campuran jengkol. Tapi tidak bagi warga Betawi dan Sunda, yang menjadikan sayuran yang satu ini salah satu makanan favorit.

Berangkat dari sana, Fatoni, mencoba mengolah jengkol menjadi bahan campuran beberapa jenis kuliner yang cukup disukai. Di tangan laki-laki kelahiran Jogjakarta, 27 Maret 1970 itu jengkol menjadi makanan yang lezat dan diburu banyak jengkolers (sebutan penggemar jengkol).

Tidak mudah bagi Fatoni awalnya mengenalkan kuliner berbahan jengkol tersebut. Bahkan, awal membuka usaha dia menjadi bahan tertawaan orang-orang.

”Awal membuka usaha saya berjualan Soto Betawi, tapi lama-lama jenuh. Mau bikin apa ya? Akhirnya timbul pikiran untuk mencoba kuliner jengkol,” ujarnya.

Karena hobinya meracik rempah-rempah, pria yang dikaruniai dua putera dari buah perkawinannya dengan Jila, 35, itu pun mencoba meracik berbagai rempah-rempah guna menghilangkan bau yang ditimbulkan jengkol.

Dia mencoba berbagai sedikit tips agar jengkol tidak berbau saat dikonsumsi. Sebelum diolah, terangnya juga, pertama jengkol harus direndam selama sehari-semalam hingga kulitnya mudah dikupas. Lalu, jengkol dimasak dengan menambahkan garam, jahe, lengkuas, sere, daun salam dan daun jeruk. Setelah dimasak, maka jengkol dapat dikonsumsi tanpa menimbulkan bau di mulut atau sekalipun saat kita tengah buang air kecil.

”Saat buka pertama pasang spanduk jual nasi goreng jengkol, mereka mentertawakan saya. Tapi saya yakin mereka akan penasaran untuk mencobanya. Ternyata betul. Langganan saya asyik-asyik aja, bahkan makin banyak,” bebernya sambil tersenyum.

Masih menurut Fatoni juga, kios ’Republik Jengkol’ miliknya buka setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 22.00. Namun untuk Selasa dan Sabtu, usahanya itu cuma buka hingga pukul 18.00.

Saat datang ke sana, pengunjung akan ditawarkan beberapa menu berbahan campuran jengkol. Seperti, Tongseng Jengkol, Nasi Goreng Special Jengkol, Balado Jengkol, Semur Jengkol, Rendang Jengkol, Mie Goreng Jengkol dan Jengkol Lada Hitam.

”Yang terbaru dan banyak digemari adalah jengkol lada hitam. Soalnya unik. Orang mengenal steak bahannya pake daging tapi ini pake jengkol. Rasanya juga menggoyang lidah jengkolers,” beber dia juga.

Laki-laki yang kini menetap di Kampung Asem, Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur itu juga mengaku memiliki pelanggan jengkolers dari kalangan warga umum hingga perkantoran. Bahkan, menurut putra kelima dari tujuh bersaudara pasangan Cokro Sukarno, 80-Mulyani, 70 ini, pelanggannya datang dari berbagai wilayah. Bukan hanya seputaran Jakarta tapi juga dari Bekasi hingga Kabupaten Karawang.

”Mereka (pengunjung, Red) suka makan karena enak lalu di-upload di media sosial seperti facebook dan youtube. Sejak itu ’Republik Jengkol’ dikenal oleh masyarakat luas. Saya sih alhamdulillah banget,” ujar Fatoni saat berbincang dengan koran ini sembari memotong jengkol yang akan dia olah.

Karena keunikan kuliner berbahan dasar jengkol itu lagi, beberapa televisi swasta kerap meminta untuk mengisi beberapa acara kuliner. Bahkan, saat harga jengkol selangit, laki-laki lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jogjakarta angkatan 1991 selalu kedatangan reporter televisi swasta.

”Dalam seminggu saya bisa syuting empat kali untuk menjadi narasumber di televisi swasta,” ungkapnya lagi sembari sumringah.

Tidak hanya dikenal di Tanah Air, ternyata kuliner olahan Fatoni juga dikenal hingga mancanegara. Menurut dia, beberapa kali dia kedatangan reporter dari salah satu tabloid Amerika Serikat.

”Tujuannya mewawancarai saya. Saya sangat bersyukur usaha saya dikenal oleh kalangan luas,” ujar Mr. BW (Bawelo) julukan Fatoni di kalangan jengkolers.

Laki-laki berambut pelontos yang memiliki hobi melukis itu juga mengaku, akan terus menekuni usahanya. Karena menurut dia, berjualan kuliner dengan bahan dasar jengkol adalah unik dan jarang. Khusus nasi goreng spesial jengkol, dirinya menyediakan daging sapi untuk jengkolers yang tidak menyukai daging kambing.

”Saya semangat mengembangkan usaha ini. Karena kuliner berbahan jengkol adalah sesuatu yang berbeda,” terang pehobi lukis yang dulu mengaku kerap mengikuti pameran di galeri galeri di Jogjakarta sambil tertawa.

Bahkan karena lezatnya olahan jengkol ala Fatoni, membuat tempat usahanya pernah didatangi oleh beberapa artis, salah satunya Jenita Janet.

”Karena olahan masakan saya dari jengkol, temen-temen suka panggil saya Presiden jengkol. Buat saya jengkol itu enak. Kenapa harus takut? Kalau bisa mengolahnya pasti tidak bau,” ujar Fatoni sambil tertawa.



Sumber : ayopreneur.com

Sumber : http://pengusahadahsyat.com/meraup-rupiah-dari-olahan-jengkol-detail-34167