Penjual Soto Lamongan Mengasilkan Omset 25jt/bulan

  • Penjual Soto Lamongan Mengasilkan Omset 25jt/bulan

Mendekati sore, di lokasi Menteng, Jakarta Pusat, pria kelahiran 1942 itu duduk enjoy di depan warung kepunyaannya. Aroma sate kambing serta raungan sepeda motor bercampur aduk waktu saya menemuinya.

Dengan cara fisik, warung kepunyaannya sekalipun tak menarik. Sempit serta agak panas. Akan tetapi, janganlah ragukan masalah kelezatan menunya. "Sate Sabang memanglah khas. Sate kambing serta sate ayamnya empuk. Tiap-tiap ke Jakarta, saya sempetin makan disini," kata Muflichun, asal Sulawesi Selatan, yang mengakui jadi berlangganan setia sejak lima belas tahun silam.

Didalam restoran, saya juga bersua lima orang pegawai negeri. Mereka barusan menyelesaikan makan siang. "Awalannya tahu dari mulut ke mulut. Pernah cobalah, kok enak, jadi balik lagi, balik lagi," kata salah-seorang salah satunya


Warung Sate Sabang, begitulah sebutan khas warung itu. Letaknya di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, tak jauh dari Gedung Sarinah. Jali Suprapto, pemiliknya, yaitu warga kota Lamongan, Jawa Timur.

Dimulai juga sebagai penjual soto di pinggiran jalan ibu kota pada tahun 1963, cerita perjalanan Jali Suprapto benar-benar dari bawah. "Bila saya dahulu diberi modal Rp 50,000 sama mertua. Namun ya nggak segera jalan. Pernah jatuh. Ingin minta lagi, ya tidak enak. Tidak berani. Pada akhirnya utang orang lain," kata Jali membuka perjalanan awalannya menekuni usaha kuliner Soto Lamongan di Jakarta.

Namun itu dahulu. Sekarang ini, beberapa warga Lamongan yang merantau di Jakarta mengetahui pria asal Desa Siman, Kecamatan Sekaran, Lamongan itu juga sebagai orang berhasil.

Mereka bahkan juga meminta saya untuk mewawancarainya, bila mau tahu semula hadirnya penjual soto Lamongan di ibu kota dan cerita suksesnya.

"Omzet warung saya saat ini seputar Rp 25 juta per bulan. Adapun karyawan saya 15 orang," ungkap bapak enam orang anak ini. Cerita kesuksesan Pak Jali berjualan soto ayam di ibu kota lalu jadi narasi dari mulut ke mulut diantara beberapa perantau asal Lamongan. Serta pada masanya, kisahnya itu jadi daya tarik untuk anak-anak muda dari beberapa desa di pinggiran Lamongan untuk ikuti jejaknya di ibu kota Jakarta.

Mengimpikan memperoleh keuntungan seperti usaha Pak Jali, tetapi tak seluruhnya selesai dengan cerita yang mengasyikkan, setidaknya untuk sekarang ini.

Di trotoar Jalan Sumenep, di lokasi Menteng, Jakarta Pusat, saya bersua pria berkulit gelap asal Lamongan. Dia tengah melayani konsumen soto ayam kepunyaannya yang melingkari gerobaknya.

"Saya masih ingat pada tahun 1986, bulan 8 (Agustus), tanggal 17, saya buka warung soto Ayam di Jakarta," ungkap Supratman, warga asal Lamongan, yang berjualan soto ayam di suatu gerobak.

Ditemani istrinya, Supratman siang itu melayani belasan orang konsumen yang melingkari gerobaknya. Diakuinya pernah diusir petugas Tramtib dari tempat awalnya berdagang.

"Dagang (soto ayam) pertama, saya memperoleh (penghasilan) Rp 12.500," katanya, disusul tawa getirnya. Diakuinya berkali-kali geser tempat serta merubah menu sajiannya.

Dimuka kehadirannya, dia teringat begitu sulitnya "memberikan keyakinan" warga ibu kota untuk mengkonsumi sajian menu istimewanya: lele goreng.

"Saya pernah jual lele goreng 1 kg (baru habis) sepanjang lima hari. Geli orang ingin makan. Namun kesininya, makin cepat orang makan pecel lele, ayam goreng, serta soto Lamongan," tuturnya kembali mengenang.

Pernah alami kejayaan di tahun 1990-an, yang ditandai diantaranya kemampuannya beli lima rumah serta warung permanen, naik haji, menolong adik-adiknya, Supratman mengakui sudah alami jatuh-bangun dalam usaha kuliner soto Lamongan.

Saat ini dia meniti lagi dengan berjualan soto di tepi Jalan Sumenep, serta mulai diminati oleh hadirnya konsumen yang menyemut di depan gerobaknya, meskipun dengan kemungkinan diusir oleh tramtib kota.

Selesai mencicipi sotonya, saya lalu ajukan pertanyaan seperti apa filosofinya dalam menggerakkan usaha kuliner. "Keuntungan itu nomer 10 buat saya. Yang pertama, kita mesti kontrol masakan. Bagaimana soto saya ini di kenal enak. Dari dahulu saya demikian," ungkap bapak 10 anak ini.

Dahulu malu sebut "Soto Lamongan"

Penjual soto, pecel lele atau pecel ayam, tahu campur dengan atribut "Lamongan" di belakangnya, acap didapati di beberapa ruas jalan di Jakarta serta kota-kota besar yang lain.

Bahkan juga hadirnya warung Soto Lamongan sekarang ini diklaim telah layak disejajarkan dengan hadirnya Restoran Padang atau Warung Tegal yang lebih dahulu di kenal di kota-kota besar.

"Ada beberapa orang Lamongan tidak ingin menamakan Soto Lamongan. Dahulu namanya Soto Surabaya, lantaran dia malu," kata Wakil Ketua Paguyuban putra asal Lamongan dengan kata lain Pualam, Bambang Suryodarmo.

"Saat ini lantaran Lamongan hebat, kemajuannya hebat, di dukung pemerintahan Lamongan, mereka menyebutkan dianya Soto Lamongan. Saat ini Soto Lamongan merajalela," kata Bambang yang merantau di Jakarta mulai sejak tahun 1980-an awal.

Tak di ketahui mulai sejak kapan warga Lamongan buka usaha kuliner di Jakarta, tetapi menurut Bambang, kemungkinan mulai sejak awal th. 1960-an. "Cikal bakalnya (warung Soto Lamongan di Jakarta) di daerah Menteng," tuturnya seraya menyebutkan Warung Sate Sabang yang didirikan Jali Suprapto.

Merantau untuk merubah nasib yaitu motivasi paling besar yang mengantar anak-anak muda Lamongan ke Jakarta, kata Bambang. Tetapi pada masanya, menurut Bambang Suryodarmo, keterbelakangan Lamongan bikin warganya mengambil keputusan untuk meninggalkannya.

"Daerah Lamongan itu dulunya minus. Orang Lamongan itu dahulu malu menyebutkan datang dari Lamongan," akunya. "Lantaran, dahulu, bila banjir, kita tidak dapat apa-apa. Serta bila musim kemarau tak ada air," katanya lagi.

Serta saat ini, cerita berhasil penjual Soto Lamongan di perantauan, menurut Bambang, beresiko segera pada kehidupan ekonomi keluarganya di kampung atau desanya. "Dahulu rumah bambu, saat ini tempat tinggalnya bagus. Ekonomi Lamongan itu demikian % itu datang dari kesuksesan usaha kuliner," kata Bambang seraya menyebutkan suatu desa di Lamongan yang beberapa besar warganya merantau ke Jakarta.

Sudah pasti tak seluruhnya warga Lamongan yang buka usaha kuliner di Jakarta, bisa bernasib semujur seperti Pak Jali Suprapto atau sebagian yang lain yang namanya berkibar dalam usaha soto atau pecel lele Lamongan.

Akan tetapi, warga Lamongan yang menekuni usaha kuliner makanan tradisional jenis soto atau pecel lele, saat ini bisa menyebutkan dianya sejajar dengan yang memiliki restoran Padang atau Warung Tegal yang lebih dahulu di kenal.


Sumber : hobianekausaha.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar