Modal Nekat dan Berani Utang, Kini Bejo Jadi Pengusaha Sukses

  • Modal Nekat dan Berani Utang, Kini Bejo Jadi Pengusaha Sukses

Penampilannya yang bersahaja justru menunjukkan bahwa Bejo, panggilan akrab Bejo Prayitno, berangkat dari kerja keras demi mendulang sukses. Datang sebagai anak rantau dari Blora, Jawa Tengah, pada 1997, Bejo membiasakan diri menempuh jarak untuk berjualan roti. Ia mengayuh sepeda menjajakan roti jualan yang diambilnya dari sebuah pabrik roti. "Saya berpindah-pindah kerja, ikut orang," katanya.

Kerusuhan pada sekitar 1998, kemudian, memakan korban. Pabrik roti tempat Bejo bekerja bangkrut. Bejo pusing tujuh keliling. Dia harus memutar otak, mencari akal untuk bertahan hidup. "Saya tidak punya pengalaman membuat roti," imbuhnya lagi.  

Kendati begitu, mengandalkan modal nekat, Bejo memberanikan diri belajar membuat roti. Ia meminta adiknya mengajarkan cara membuat roti. Dua minggu lamanya dia belajar. "Berhasil, saya bisa membuat roti sendiri," ujarnya sembari tersenyum.

Kepiawaian membuat roti menjadi hal luar biasa bagi Bejo. Pasalnya, ia sama sekali tak menggunakan mesin. Semua dikerjakan dengan tangan, bahkan untuk membuat adonan roti menjadi pas untuk dimasak. Asal tahu saja, adonan roti dari tepung, telur, dan berbagai bahan lain yang kenyal harus berkali-kali dibanting agar komposisinya  memadai. "Saya membanting adonan di lantai," kenangnya.

Lagi pula, saat itu, Bejo baru mampu membuat roti dari 3 kilogram tepung. "Masih segitu," katanya.

Bejo, pria berperawakan sedang ini juga masih menjajakan roti buatannya menggunakan sepeda. Pikirannya berubah saat merasakan bahwa dengan menggunakan sepeda, daya  jangkaunya menuju konsumen amat terbatas. Lantaran keterbatasan itu, perolehannya sehari-hari pun ikut-ikutan minim. Rata-rata ia hanya mampu mengantongi duit Rp 20.000 dari berjualan roti keliling.

Maka dari itulah, menurut hematnya, beralih menggunakan sepeda motor adalah alternatif baik. "Saya mengambil kredit motor pada 2006,"  kata Bejo.

Kendala memang belum mau beranjak dari pria berusia 34 tahun itu. Bagi Bejo, berutang adalah hal yang menakutkan. "Saya takut berutang. Takut enggak bisa bayar," akunya.

Namun begitu, setelah mengalami meluasnya daya jangkau ke pelanggan menggunakan sepeda motor, barulah Bejo menangguk sisi positif berutang. "Sekarang, memang harus ngutang. Kalau enggak, saya enggak maju," katanya yakin.

Bejo melanjutkan, sekarang ia tinggal di Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Dari kecamatan berpenduduk sekitar 300.000 jiwa itu, Bejo, kini, mampu melepas ke pasaran sekitar 2.000 potong roti ke berbagai wilayah seperti Cikande, Balaraja, dan Tigaraksa. Wilayah-wilayah itu memang masih di dalam Kabupaten Tangerang. "Jarak tempuh paling jauh sekitar satu jam dari Pasar Kemis," tuturnya.

Tahun demi tahun, usaha Bejo memang makin berkembang. Dari sebuah sepeda motor tujuh tahun silam, sekarang, Bejo sudah memunyai 60 unit sepeda motor. Karyawannya pun ada 50 orang. "Omzet saya per hari sekarang antara Rp 7 juta sampai dengan Rp 8 juta," katanya.

Mendedikasikan jerih payahnya untuk keluarga, Bejo mengabadikan nama anak untuk merek rotinya. "Mereknya Juan & Haykel," katanya bersungguh-sungguh.

Asal tahu saja, untuk masa depan, Bejo sudah merintis usaha baru di samping bisnis roti. Selama setengah tahun ini, Bejo sudah memunyai ruang pamer (showroom) sepeda motor baru maupun bekas. "Di situ, sepeda motor yang sudah lunas kreditnya, saya jual lagi," katanya.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar