MENUAI SUKSES USAI JATUH BANGUN BERBISNIS AROMATERAPI

  • MENUAI SUKSES USAI JATUH BANGUN BERBISNIS AROMATERAPI

Berkali-kali jatuh bangun tatkala menjalankan usaha aromaterapi, tak membuat Wayan Darsini gentar. Wanita ini tetap teguh dan terus bertekad mempertahankan usaha, walau berulang kali cobaan menerpa.

Usaha aromaterapi yang didirikan sejak tahun 2000 ini sempat menuai sukses besar. Akan tetapi dalam sekejap bisnis ini nyaris ambruk karena terjadi musibah ledakan yang dikenal dengan tragedi Bom Bali I pada tahun 2001.

“Saat itu, ekonomi masyarakat Bali seperti lumpuh. Padahal usaha saya sedang bagus-bagusnya. Permintaan dari berbagai art shop di Ubud rutin datang meminta pasokan aromaterapi,” ujar Wayan Darsini (50), pemilik usaha berlabel ‘Wayang Aromatic Incense’ di bilangan Panjer – Denpasar.

Tetap Bertahan Pasca Tragedi Bom Bali

Begitu terjadi tragedi meledaknya bom, seketika permintaan aromaterapi terhenti. Bisnis yang dijalankan Wayan Darsini hampir ambruk saat itu. Kesabaran dan keuletan wanita itu benar-benar diuji, akan tetapi dia memilih meneruskan usahanya. Walau permintaan pasar amat sepi.

Perlahan tapi pasti, roda perekonomian masyarakat mulai bergerak. Ini berimbas terhadap permintaan aromaterapi yang mulai lancar, meski dalam jumlah yang tidak begitu banyak. Untuk meningkatkan penjualan, Wayan Darsini mengajak anak-anaknya agar membantunya memasarkan produknya. Bersyukur dua orang anaknya bersedia, dan mulai memasakan produk itu ke berbagai toko hingga ke Kuta.

“Ketika mulai lancar, cobaan datang. Saya kan jual aromaterapi dengan sistem konsinyasi. Ada toko yang mengambil banyak. Ketika  produk sudah habis, terus saja mengulur pembayaran sampai akhirnya menghilang. Ternyata masa sewa tokonya sudah habis. Saya merugi sampai Rp10 juta. Benar-benar bangkrut ketika itu,” kata Wayan Darsini dengan ekspresi tegar.

Berkat dukungan keluarganya, khususnya suaminya (I Made Subadi), wanita ini tetap menjalankan usaha. Dengan bantuan permodalan, ia bangkit kembali dan mulai mereguk manisnya usaha karena permintaan selalu rutin datang. Untuk meminimalisir resiko, dia menerapkan pembelian secara ‘cash’ agar tidak terulang lagi peristiwa tertipu.





Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar