MENGEMAS MAKANAN TRADISIONAL KHAS PONTIANAK SECARA INSTANT

  • MENGEMAS MAKANAN TRADISIONAL KHAS PONTIANAK SECARA INSTANT

Terdorong dari keinginannya mengangkat makanan tradisional khas Pontianak ke pasar global, Muryannie (48) mencoba membuat inovasi bubur pedas instant dan teri kremes lidah buaya di bawah bendera CV. Citra Lestari Mandiri.

Sebelum membuat bubur pedas dalam kemasan, Muryannie telah dikenal sebagai pelaku bisnis camilan khas Kalimantan Barat yaitu teri kremes lidah buaya. Dengan mengusung nama “Gilang” sebagai brand produknya, dalam seminggu pengusaha sukses yang akrab dipanggil Yani ini mampu memproduksi 600 bungkus teri kremes lidah buaya, dengan omzet Rp 5 juta per bulan.

Sukses mengangkat teri keremes lidah buaya, Yani kembali membuat produk baru yakni bubur pedas khas Sambas yang dikemas dalam bentuk instan. Mengawali inovasinya di tahun 2015 silam, ia menciptakan kemasan yang praktis agar makanan khas Kalimantan Barat tersebut mudah dibawa ke luar kota.

“Selama ini, belum ada yang bisa membuat Bubur Pedas dalam bentuk kering dan sudah dikemas. Semua rumah makan dan pengusaha kuliner di Kalimantan Barat membuat bubur pedas yang sudah jadi dalam bentuk cair sebagaimana bubur pada umumnya, jadi sangat repot untuk dibawa ke luar kota,” ucapnya.

Waktu berada di luar Kalbar, Yani pernah mencoba membuat sendiri bubur pedas. Tapi masalahnya, daun kesum dan daun kunyit yang menjadi ciri khas rasa bubur itu hanya terdapat di Kalbar. Alhasil citarasa bubur pedas yang dihasilkan tidak sama dengan aslinya. “Saya terpaksa menggantinya dengan daun lain dan rasanya tidak sama dengan bubur pedas Sambas,” kata Yani.

Setelah dikemas secara instant bubur pedas buatan Yani bisa bertahan hingga 1 tahun lamanya meskipun tidak mengandung bahan pengawet. Ia hanya menggunakan rempah-rempah tradisional warisan leluhur sebagai pengawet alami. Dalam seminggu ia mampu membuat 50 bungkus bubur pedas, dengan omzet per bulan sebesar Rp 3 juta.

Tak berhenti disitu saja inovasi yang Ia kembangkan, selain bubur pedas, ia  juga membuat gule tarek dan kopi pinang muda. Gule tarek merupakan makanan anak-anak tempo dulu, terbuat dari gula merah yang ditaburi tepung tapioka. Sedang kopi pinang muda merek berkhasiat meningkatkan stamina bagi para lelaki. Dalam seminggu, dibantu 5 orang karyawan termasuk salah satunya sang putrid tercinta, ia bisa membuat hingga 50 bungkus kopi pinang muda.

“Omzet gule tarek Rp 3 juta per bulan, omzet kopi pinang muda Rp 1,5 juta per bulan,” ujar Yani.

Selain dijual di rumah, seluruh produk makanan khas Kalimantan Barat ini juga ia pasarkan melalui pameran UKM yang ia ikuti serta mulai merambah promosi online melalui akun pribadinya. “Pembeli berasal dari  Bekasi, Yogya, Batam, Bali, Bandung dan terjauh dari  Kuching,Malaysia Timur,” ungkapnya ketika ditanya perihal jangkauan pemasaran produk.

Sedangkan untuk pameran, Yani telah menjelajahi Pulau Bali, Jakarta, Banjarmasin, Singkawang, Sambas, Bengkayang, Surabaya, dan Batam. Ia juga sering memberi pelatihan kepada pelaku UMKM di daerah tentang pengolahan produk, dan cara pembuatan surat izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).






Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar