Mantan TKI Sukses dengan Pabrik Roti

  • Mantan TKI Sukses dengan Pabrik Roti

Selepas menyelesaikan studinya jenjang D3 pada Akademi Maritim Belawan, Sumatra Utara, Mistar merasa bimbang soal pekerjaannya. Ia mengambil jurusan tersebut sebenarnya karena keinginannya untuk menjadi pengusaha. Namun, ia justru terbentur kenyataan setelah lulus. Ia bingung mencari pekerjaan terlebih lagi pada saat itu Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi. Dan ayahnya (Muhammad Sari) dan pakciknya (Supriyadi) juga ikut menjadi korban dari krisis sehingga mereka terkena PHK. Kondisi tersebut membuat Mistar semakin terbebani.

Langkah Mistar tak dapat berhenti karena itu. Dia diterima bekerja sebagai karyawan pabrik roti di Tanjungpura. Ternyata nasib buruk masih saja belum berhenti, toko-toko roti kecil juga ikut menjadi korban dari krisis yang sedang terjadi dan mengalami gulung tikar.

Pemuda asli Langkat ini mendapat pengalaman yang tak terlupakan dari pekerjaanya di pabrik roti tersebut. Dari sanalah keinginannya untuk menjadi pengusaha semakin kuat. Namun apa daya Mistar belum memiliki modal untuk memulainya. Ingin meminta pinjaman kepada sang ayah pun tak bisa, ayahnya saat itu hanya membuka toko kelontong kecil-kecilan di rumah dan pakciknya bekerja secara serabutan. Rumahnya terletak di perbatasan kebun kelapa sawit PTPN II Tanjung Bringin. 

Sang pemilik pabrik yang beretnis Tiong Hoa juga merasa takut menjadi korban dari krisis yang terjadi. Dan hal tersebut membuat Mistar menjadi pengangguran selama berbulan-bulan. Pernah ia mendaftar di salah satu pabrik elektronika di Tanjung Morawa tetapi tidak lulus pada tes kesehatan. Ia menjadi pengangguran kurang lebih selama satu tahun. Pada akhirnya pemuda kelahiran 25 Agustus 1977 ini memutuskan menjadi TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

Menjadi TKI dimulainya pada tahun 1999, dia berniat untuk mengumpulkan modal supaya dia bisa menjadi pengusaha di kampung halamannya. Dia mengaku semakin termotivasi untuk menjadi pengusaha karena banyak keluarganya juga yang menganggur dan hanya kerja serabutan.

Malaysia adalah negara yang menjadi saksi usaha kerasnya dalam mengumpulkan modal. Mistar bekerja pada sebuah pabrik tekstil. Gaji pokoknya sebulan sebesar 430 ringgit dengan ditambah kerja lembur menjadi 1000 ringgit per bulannya. Berbeda dengan teman-temannya yang membeli rumah dan tanah, Mistar lebih memilih mengumpulkannya sesuai dengan cita-cita awalnya.

Pada awalnya, dia hanya berencana hidup selama dua tahun di Malaysia namun modal yang ia kumpulkan belum terpenuhi. Akhirnya dia bekerja di Malaysia selama tiga tahun. Delapan bulan sebelum pulang ia mengirim modal usaha sebesar 20 juta rupiah kepada ayahnya. Uang tersebut digunakan untuk membuka usaha roti “Family”. Memilih pabrik roti untuk menjadi usahanya karena pakciknya pernah bekerja bersamanya di toko roti.

Ia menggunakan merk “Family” juga memiliki alasan, yaitu pekerjanya di sana memang rata-rata berasal dari keluarganya sendiri. Dari pakcik, ayahnya, dan tiga adiknya kerja secara bergotong-royong membangun pabrik tersebut. Ia menjual 500 rupiah per roti dengan target pasar adalah masyarakat kelas menengah ke bawah.

Awal usaha memang serba sederhana dari membeli peralatan dapur, dinding pabrik anyaman bambu, alasnya dari semen, dan ruang penguapan kue seluas 2 x 2 meter2. Ia membangunnya di belakang rumah orang tuanya. Peralatan adonan kue pun dia pesan dari teman yang memiliki bengkel las kenalannya dengan menghabiskan uang 2,5 juta rupiah apabila dia membelinya dari toko akan menelan biaya sampai 6 juta rupiah.

Perlahan tapi pasti pabrik “Family” berkembang. Mistar sampai meminjam 50 juta rupiah dari Bank Sumut Syariah dan 10 juta rupiah dari Lembaga Peningkatan dan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat (LP2KM). Tahun 2002, pabrik ini membutuhkan 5 sampai 6 karung terigu per harinya dengan jumlah kayawan hanya 10 orang. Dan kini ia memerlukan 15 karung terigu per hari dengan 70 orang karyawan, 25 orang pada bagian produksi, 25 orang di bagian pemasaran dan 20 orang bagian pengemasan. Rotinya dipasarkan ke beberapa warung di Langkat, Binjai, Deli Serdang, hingga sampai ke Aceh Timur. 

Family juga memasarkan roti kering yang dikelola oleh Tina Melinda (32) yang juga seorang mantan TKI. Tina melakukannya dengan bantuan 26 orang karyawannya. Supaya kualitas produknya terjaga, petugas kesehatan mengeceknya setiap tiga bulan sekali. Para mantan TKI punya kemampuan tersendiri dan bisa berhasil juga dikarenakan peran dari Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) yang selalu memberikan dukungan dan pelatihan. Sehingga ini mengantarkannya menjadi mantan TKI terbaik pada tahun 2006 yang diberikan langsung oleh Erman Suparno, Menteri Tenaga Kerja.


Sumber : mitrainvestor.co.id


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar