Laku Dibeli Kolektor Hingga Menteri, Gitar Bambu Adang Juga Sampai ke 12 Negara

  • Laku Dibeli Kolektor Hingga Menteri, Gitar Bambu Adang Juga Sampai ke 12 Negara

Inspirasi membangun bisnis bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah dengan mengolah bambu menjadi barang yang memiliki nilai jual tinggi.

Hal ini dilakukan oleh Adang Muhidin (42). Pria kelahiran Bandung, 21 Januari 1974 ini berhasil membuat berbagai macam alat musik yang dibuat dengan bahan dasar bambu. Produknya yang paling dikenal adalah gitar bambu.

Adang memulai bisnisnya ini di tahun 2011. Namun siapa sangka, ia mengaku tidak memiliki latar belakang di bidang musik atau memproduksi alat musik. Adang hanya lulusan teknik logam yang mencoba mengembangkan bakatnya memproduksi alat musik secara otodidak.

Basic saya tidak ada sama sekali musik. Saya lulusan atau alumni logam, jadi ilmu logam saya terapkan ke bambu,” ungkap Adang.

Dengan kemampuan seadanya, ia mulai memproduksi gitar bambu di tahun 2011 melalui Indonesian Bamboo Community (IBC). Pembuatan alat musik pertama kali dilakukannya secara sederhana di rumahnya yang terletak di Jalan Melong Asih, Cimahi, Jawa Barat.

“Misalnya untuk gitar, kalau untuk gitar itu kan ada kekuatan untuk naiknya, jadi mulai dari elastisitasnya saya hitung, kuat tariknya saya hitung,” bebernya.

Pada saat pertama kali memulai usahanya ini, Adang hanya menggelontorkan modal Rp 100 ribu. Dari modal tersebut, ia kemudian membeli peralatan seperti bor, baut, obeng, serta perkakas lainnya, yang dapat digunakan untuk membuat alat musik yang diinginkannya.

“Saya masih ingat waktu itu modalnya Rp 100 ribu. Itu beli bahan-bahan untuk membuat alat musik,” sebutnya.

Perjuangan Berat Membangun Brand Alat Musik Bambu

Langkah Adang Muhidin memproduksi sekaligus mengenalkan alat musik bambu seperti gitar dan lainnya tidak semudah membalikan telapak tangan. Terbatasnya modal menjadi kendala saat ia memulai usahanya di tahun 2011 melalui Indonesian Bamboo Community (IBC).

“Kalau duka dulu pas tiga tahun pertama dukanya sangat banyak. Pertama saya kan nggak punya modal dan saya tidak bisa memainkan alat musik satu pun,” keluhnya.

Hal ini ditambah karena masyarakat Indonesia kurang tertarik dengan alat musik dari bambu buatan Adang. Salah satu penyebabnya adalah tingginya harga yang ditawarkan.

Tidak putus asa, Adang lalu memberanikan diri menggelar pameran produk-produk miliknya di luar negeri. Di luar dugaan, ternyata produk bambunya justru banyak diminati. Produk IBC yang dikenal dengan nama “Virageawie” itu, dihargai dan diapresiasi di luar negeri.

“Waktu itu pada tahun 2012, ada dari Kementerian Perdagangan siapa saja boleh ikut pameran dan festival. Dari situ ternyata ada orang asing yang mau  beli alat musik kita,” ujarnya.

Sejak kejadian itu, produk buatan Adang sedikit-sedikit mulai dikenal. Pembelinya juga tidak hanya didominasi dari luar negeri tetapi masyarakat Indonesia juga mulai tertarik. Di tahun 2013, Adang kemudian membuat lagi varian alat musik dari bambu lainnya. Total ada 14 jenis alat musik yang sudah ia produksi seperti gitar bambu, bass bambu, biola bambu, saxophone bambu, dram bambu, selo bambu, dan kecapi bambu.

“Dari situ saya berpikir berarti alat musik kita ini ada nilai harganya. Dari situ kita mulai membuat inovasi yang lain, soalnya kan alat musik kita yang pertama dibuat itu kan benar-benar manual dan benar-benar masih kasar jadi belum sempurna. Baru setelah  mendapatkan buyer juga ada modal kita membuat lagi dan kita sempurnakan itu sekitar tahun 2013 akhir dan akhirnya kita mulai merambah ke luar negeri,” tukasnya.

Dibeli Musisi Papan Atas, Kolektor Sampai Dijual ke 12 Negara

Berbagai macam alat musik yang dibuat oleh Adang Muhidin memberikan kesan unik dan langka. Tidak jarang, produk buatannya diincar oleh berbagai kalangan menengah ke atas seperti konglomerat dan kolektor.

“Ya kita memang membidik kalangan menengah ke atas. Kalau di Indonesia sendiri yang belinya itu baru menteri dan beberapa kolektor. Tapi kita juga ingin masyarakat luas bisa menikmatinya. Dengan menciptakan produk untuk menengah ke bawah juga,” tutur Adang.

Selain dibeli oleh orang berduit, alat musik bambu buatan Adang juga digunakan oleh beberapa musisi papan atas. Salah satunya adalah Iwan Fals.

“Ada Iwan Fals dan beberapa artis yang lainnya. Pernah juga produk kita dibeli sama salah satu musisi terkenal Saxophone dari Meksiko,” tambahnya.

Kemudian secara bertahap sejak tahun 2013, alat musik bambu dengan brand “Virageawie” yang dibuat oleh IBC sudah tersebar hingga ke-12 negara. Ke-12 negara tersebut antara lain, Malaysia, Singapura, Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Meksiko, Qatar, Belgia, Perancis, hingga Yunani.

Alhamdulillah alat musik kami sudah menyebar ke 12 negara. Yang paling jauh itu ada Meksiko, Belgia, Prancis, Yunani, Rumania, Amerika, Inggris, Jepang, India, Malaysia, Filipina,” sebutnya.

Dijual Hingga Rp 28 Juta/Unit

Siapa yang bilang alat musik berbahan dasar bambu yang dibuat Adang Muhidin harganya murah? Justru sebaliknya! Adang mematok harga cukup mahal untuk berbagai alat musik yang dibuat dari bambu seperti gitar, bass, biola, saxophone, dram, selo, dan kecapi.

“Kalau gitar itu harganya dimulai dari Rp 7 juta sampai tak terhingga,” ucap Adang.

Bahkan Adang pernah menjual salah satu gitar bambu buatannya dengan harga Rp 28 juta. Pembelinya datang langsung dari negara Prancis.

“Kita pernah menjual gitar harga Rp 28 juta, itu produk termahal yang pernah kita jual. Itu kita jual ke Prancis,” imbuhnya.

Menurut Adang, tingginya harga jual gitar bambu disebabkan karena sulitnya proses pembuatan. Kemudian intonasi suara yang dihasilkan oleh gitar bambu memiliki ciri khas yang berbeda bila dibandingkan dengan gitar biasa.

“Yang pertama Sudah pasti bahannya, kalau yang lain kan kebanyakan dari kayu sementara kami dari bambu. Yang kedua di setiap alat musik yang kami ciptakan ada karakter khas bambunya jadi kami tidak menghilangkan suara khas dari karakter bambunya. Jadi tidak sama dengan musik yang terbuat dari kayu,” paparnya.

Dalam proses produksi, Adang juga menggunakan bambu berkualitas. Bambu yang dibeli olehnya tidak hanya dikirim dari Pulau Jawa tetapi dari Lampung, Jambi hingga Kalimantan.

“15% bambu yang ada di dunia kan ada di indonesia. Bambu di indonesia itu sangat melimpah dan kurang dimanfaatkan lebih oleh masyarakatnya. Yang pasti semua adalah bambu, bukan ranting atau kayu. Kita manfaatkan bambu yang ada di indonesia tapi jangan lupa menanam juga. Dan bambu yang kita dapatkan itu bambu dari Lampung, Jambi, Kalimantan dan Yogyakarta,” jelasnya.

Raup Omzet Ratusan Juta Rupiah

Dari usahanya itu, Adang Muhidin mengaku dapat mengantongi keuntungan hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya. Dengan omzet yang cukup besar itu, kini ia dapat membangun sebuah worshopgallery di daerah Cimahi, Jawa Barat.

“Saya tidak bisa bilang angkanya, tapi lumayan saya mampu membangun tempat workshop, kantor, studio itu  dua tingkat,” sebutnya.

Adang juga mengaku cukup lega dan nyaman dalam menjalani bisnisnya ini. Di Indonesia, Adang adalah pemain tunggal bisnis produksi alat-alat musik dari bambu. Intinya adalah belum ada kompetitor yang mampu memproduksi alat musik dari bambu selain dirinya.

“Setahu saya, Sejauh ini memang belum ada,” sahutnya.

Adang juga kini telah memiliki 48 karyawan yang membantunya memproduksi berbagai macam alat musik dari bambu. Keinginan ke depan adalah agar ia bisa memproduksi alat musik dari bambu secara massal. Hal ini dilakukan agar alat musik yang dibuatnya bisa dinikmati semua kalangan.

Sementara untuk memperbesar pasarnya keluar negeri, Adang juga giat mengikuti berbagai pameran/event sampai aktif di sosial media. Cara ini baginya efektif dalam menggenjot penjualan produk buatannya.

“Awalnya sih target bidik marketnya itu ya di indonesia. Tapi ternyata market di indonesia sendiri tidak tertarik dengan produk kami. Mungkin karena kami membuatnya dari bambu yang sebagian orang menilai bambu adalah barang murahan, makanya banyak yang tidak tertarik dengan produk kami, tapi dari situlah awal inspirasi untuk menjual produk kami ke luar negeri. Kami pun kemudian mulai mempost karya kami ke media sosial. Kemudian ikut pameran-pameran,” tuturnya.

Selain itu, Adang juga memiliki impian agar ia bisa lebih banyak memberdayakan masyarakat Indonesia dalam mengolah bambu menjadi barang yang memiliki nilai jual tinggi. Oleh karena itu, ia aktif memberikan pelatihan, pendidikan sekaligus sharing pengetahuan agar bambu menjadi sumber utama pendapatan ekonomi masyarakat.

“Kami juga ingin sekali mengenalkan ke masyarakat, jadi awalnya kami sendiri yang memproduksi tapi sekarang kami sering juga mengadakan pelatihan-pelatihan ke masyarakat agar masyarakat membuat juga. Jadi kami ingin seperti angklung. Jadi semua orang bisa membuat alat musik bambu, semua orang bisa memproduksi, semua orang bisa menjual, walaupun kami yang pertama,” tutupnya.


Sumber : news.indotrading.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar