Kocek tebal berkat sambal

  • Kocek tebal berkat sambal

Iin sapaan akrab Indah Adiati tak pernah menyesali keputusannya mengundurkan diri dari perusahaan transportasi batubara karena ingin punya waktu lebih lama mengurus dua anaknya. Di sela-sela waktu luang mengurus buah hati, alumnus Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (Fisip) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini lebih banyak menyalurkan hobi memasak dengan melakukan beragam eksperimen mengolah beragam kuliner nusantara. Termasuk bergelut dan berinovasi dengan pedasnya cabai untuk menghasilkan sambal yang nikmat.

Iin dibantu adiknya yang juga chef di sebuah kapal pesiar. Dia setidaknya melakukan 10 kali uji coba sebelum akhirnya menemukan resep sambal yang lezat. Dengan modal RP 500.000, dia mulai merintis bisnis sambal.

"Pertama kali produksi sambal tanggal 20 September 2012. Modal itu untuk belanja botol 50 buah, cabai dan bumbu-bumbu. Alhamdulillah produk pertama langsung habis dalam dua hari. Saya makin bersemangat dan merasa yakin sambal saya diterima pasar," kenang Iin.

Iin melabeli produk sambal kemasannya dengan sebutan Sambal Tjap lombok Oedel. Dia menceritakan kisah di balik pemilihan merek itu. Nama itu diambil ketika Iin berwisata ke Dieng Plateau Wonosobo bersama keluarganya. Di sana dia bertemu warga yang memanen cabai merah gemuk dan agak bulat.

"Iseng-iseng suami saya bertanya apa namanya dan dijawab, ini namanya lombok (cabai) udel pak. Suami saya kemudian berkata ke saya, Ma, nama lombok udel kayaknya bagus buat brand kita nanti," tutur Iin.

Setahun membangun bisnis kecil-kecilan, Iin semakin terjun mempelajari teknik sterilisasi dan pengemasan sambal di Institut Pertanian Bogor. Dengan biaya sendiri, Iin juga melakukan studi banding hingga ke Thailand yang lebih maju dalam urusan sambal kemasan. Rumahnya di Jalan Kaliwiru II Nomor 42, Kota Semarang, disulap menjadi pabrik sambal skala rumahan.

"Dengan sambal kemasan, orang tidak perlu membeli cabe dan bumbu serta mengulek untuk makan sambal. Jika tidak habis, sambal kemasan juga bisa disimpan di kulkas," kata Iin.

Kini produksi Sambal Tjap Lombok Oedel sudah mencapai 4.000 botol per bulan. Ada empat varian yang ditawarkan yakni sambal bawang teri medan super pedas, sambal bawang teri medan pedas biasa, sambal bawang original dan sambal peda. Khusus di saat sedang musim petai juga ditawarkan sambel peda pete dengan cara pre-order. Dia boleh berbangga hati lantaran pasar sambal kemasannya tidak hanya di tanah air tapi sudah melanglang buana hingga lima benua.

Sambal buatannya kini sudah menjelajah sampai Australia, Belanda, Inggris, Spanyol, Perancis, Amerika Serikat, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, China, Jepang, Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Afrika Selatan. Kebanyakan dibawa sebagai oleh-oleh untuk warga Indonesia yang tinggal di luar negeri. Bahkan pernah dikirim untuk Pasukan Garuda yang bertugas di Sudan.

"Alhamdulillah, sambal oedel bisa diterima masyarakat. Perkembangannya jauh dari perkiraan saya," kata Iin.

Kisah Iin membuktikan bahwa sambal sudah menjadi komoditas bisnis menggiurkan dan sangat menguntungkan. Tengok saja Waroeng Spesial Sambal (SS) yang kini memiliki banyak gerai di Pulau Jawa dan Bali berkat menjual berbagai jenis sambal sebagai menu andalan. Padahal awal mula berdiri pada 2002 di samping Gedung Graha Sabha Pramana Universitas Gajah Mada, SS hanya berkonsep tenda.

Ide menjual sambal sebagai dagangan utama bermula saat pemilik SS melakukan riset terhadap sambal-sambal nusantara. Pelbagai jenis sambal nusantara itu kemudian diinovasi dengan beragam bahan campuran namun tidak menghilangkan cita rasa pedas dari cabai. Contohnya sambal mangga yang berbahan dasar cabai dipadukan irisan mangga. Atau sambal belut yang berbahan dasar belut goreng diiris dicampur cabai dan diulek hingga halus. Ada pula sambal teri, sambal udang, sambal cumi, dan sambal petai. Tidak hanya berinovasi dalam hal rasa, tapi juga tingkat kepedasan.

"Jadi di sini kami memang jualan varian sambal. Sementara ada 31 sambal, yakni diantaranya sambal-sambal yang paling sering dipesan yaitu sambal mangga muda, sambal belut, sambal teri, sambal udang, sambal cumi dan sambal petai," kata Kepala Waroeng SS Depok, Lukman.

Kini, dalam satu hari, Lukman bersama 90 karyawan lainnya mampu menjual hingga ratusan porsi sambal dengan lebih dari 20 kilogram cabai yang digunakan. Sambal-sambal tersebut dibanderol dengan harga terbilang murah, yakni mulai Rp 1.500 hingga Rp 7.000 per satu porsi.

"Yang pernah saya dengan dari pemilik SS itu sebenarnya kalau jualan sambal itu pas-pasan, walaupun untung itu kecil, kadang rugi, karena harga cabai itu mahal. Nah antisipasinya itu menanggulangi cabai kita harus efisiensi dalam hal lain, misal penggunaan tisu dikurangi. Hal itu untuk mengurangi harga cabai yang mahal itu, jadi kita bisa tetap dapat untung. Sehari itu kita bisa meraup untung ya kisaran Rp 5 juta lah," tuturnya.


Sumber : merdeka.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar