Kisah sukses Maria, anak petani sempat jadi pembantu kini punya 300 toko kue

  • Kisah sukses Maria, anak petani sempat jadi pembantu kini punya 300 toko kue

Kisah sukses Cleusa Maria ini mungkin bisa menginspirasi Anda yang hidup di desa dengan mata pencaharian petani. Bagaimana tidak, saat usia 9 tahun, Cleusa lebih mahir menggunakan cangkul dan garu dibanding harus bermain dengan boneka.

Tak seperti anak-anak sebayanya, wanita yang dibesarkan di pinggiran kota Sao Pao, Brazil ini harus menjalani usia mudanya untuk bekerja sebagai buruh anak. Setiap hari, Maria membantu sang ayah bekerja di kebun. Meski bukan milik sendiri, kebun yang digarapnya tersebut setidaknya bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Hari-harinya berjalan seperti biasa, hingga pada usia 12 tahun sang ayah meninggal dunia. Tidak ada lagi yang bisa menafkahi keluarga, ibunya juga harus berjuang mati-matian menghidupi Maria dan 9 saudaranya.

"Saat itu saya baru mengerti bahwa sesuatu bisa menjadi buruk kapan saja," tutur Maria.

Lantas, dia bersama ibu dan saudara-saudaranya memutuskan pindah ke rumah nenek. Maria dan sang ibu bekerja di pabrik gula menjadi buruh potong tebu. Setiap hari dia bekerja selama 10 jam.

Bosan dengan hidup yang serba kesusahan, Maria akhirnya bertekad untuk bisa mengubah nasibnya. Di usia 17 tahun, dia memutuskan hijrah ke kota untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Kehidupan yang dijalaninya kala itu pun jauh dari cukup. Dia hanya punya waktu libur dua hari selama sebulan. Semua gajinya pun dia kirim ke kampung untuk membantu ibu dan adik-adiknya.

Menjalani hidup sebagai pembantu rumah tangga tak lantas membuat Maria puas. Dia merasa banyak kesenjangan yang harus dirasakannya apalagi ketika bekerja dengan orang berada.

Dengan tekad yang besar, Maria akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Dia kemudian masuk ke sekolah kejuruan agar bisa bekerja kantoran sebagai seorang resepsionis.

Di tahun 1995, Maria dihadapkan pada satu kesempatan yang mengubah hidupnya. Istri dari bos tempat dia bekerja memintanya untuk membantu membuat kue. Tak tanggung-tanggung, Maria diminta merancang kue seberat 35 kilogram.

"Istri bos saya senang untuk menjual kue. Suatu hari, dia mengalami cedera kaki. Dia kemudian meminta saya untuk membantunya membuat kue. Saya tidak pernah memanggang sebelumnya, saya hanya mengikuti instruksi. Untungnya hasil kue itu memuaskan," cerita Maria.

Sang istri bos sangat senang dengan kue yang Maria buat. Dia pun menghadiahi Maria sebuah mixer dan meminta Maria membuat kue lebih banyak untuk teman-temannya.

Setelah itu, semua kesempatan makin terbuka lebar untuk Maria. Dia tak hanya bekerja sebagai resepsionis, kala malam Maria juga sibuk membuat pesanan berbagai kue.

Dua tahun setelahnya, Maria memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Dia membuka gerai toko kue pertamanya yang diberi nama Sensacoes Doces. Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, dia mampu membuka cabang di empat tempat berbeda.

Setelah mampu dikenal luas oleh masyarakat, salah seorang teman menyarankan Maria untuk membuat franchise. Meski dia tidak terlalu tahu tentang dunia franchise, wanita ini akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran temannya tersebut.

Benar saja, hanya dalam waktu singkat, gerai kuenya kini menjamur di 50 lokasi berbeda. Kini, Maria punya lebih dari 300 outlet. Dua dekade setelah dia membuka gerai toko pertamanya, Maria kini memiliki lebih dari 300 outlet di 13 negara bagian di Brasil. Tiap toko, dia mempekerjakan lebih dari 15 orang pegawai.

Maria menuturkan, dia memiliki dua mimpi besar dalam hidupnya. Dia ingin membuat sang ibu tidak lagi harus bekerja di ladang tebu. Dia juga ingin anak-anaknya tidak merasakan pengalaman pahitnya dulu.

"Awalnya saya takut bisnis ini berkembang sangat pesat dan saya tidak memiliki pengalaman yang cukup. Tapi di satu poin saya mengerti bahwa semuanya akan baik-baik saja. Saya bahkan harus bersyukur sudah bisa berada di titik ini," tutur Maria.





Sumber : merdeka.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar