Kisah Sukses Latief Haris Usaha Sop Duren

  • Kisah Sukses Latief Haris Usaha Sop Duren

Begitu lamanya Tb Latief Haris berkecimpung di dunia pertanian, sehingga ia pun sukses membuka usaha jajanan yang berkaitan dengan bidang pertanian pula, yaitu buah duren yang diolah sedemikian rupa sehingga mendapatkan rasa enak dan nikmat.

"Buah duren yang sudah dibuang bijinya itu dicampur dengan es dan berbagai bumbu penyedap lainnya, sehingga berbentuk cair yang menyerupai sop. Karena di Bandung sudah dikenal dengan nama sop buah, maka biar tidak sama disebut dengan 'Sop Duren' saja, kemudian ditambah kata kedai didepannya, menjadi Kedai Sop Duren," kata Latief menceritakan awal munculnya nama tersebut.

Nama 'Kedai Sop Duren', sudah melekat di telinga masyarakat Banten, khususnya di Kota Serang. Agar tidak ditiru oleh orang lain, maka nama tersebut ia patenkan dengan mendaftarkannya ke Haki (Hak atas Kekayaan Intelektual).

"Nama Kedai Sop Duren ini sudah kami patenkan dan sudah terdaftar di Haki. Tujuannya agar nama ini tidak ditiru oleh orang lain. Sebab sudah banyak orang menjual sop duren ini, silahkan orang lain membuat nama sop duren apa gitu, asal jangan kedai sop duren," katanya.

Dunia pertanian tampaknya tidak akan pernah lepas dari ingatannya, selain ia memang pernah bekerja sebagai tenaga pendamping pertanian, ia  juga pernah mengenyam pendidikan di Institut Pertanian (Instiper) di Yogyakarta.

"Saya tamat SMA di Bandung, setelah itu pada Tahun 2002 saya hijrah ke Yogyakarta dan di sana bekerja sambil kuliah," kata Latief  menceritakan pengalaman hidupnya saat masih remaja.

Pria asli Banten ini tampaknya memang tidak pernah puas dengan pekerjaan. Setelah tidak lagi menjadi pendamping petani, ia mencoba bergerak di usaha ekspor kambing bersama temannya, tepatnya pada Tahun 2005 dan 2006 jadi eksportir kambing tujuan ke Malaysia.

Kemudian ia balik ke kampung halamannya di Kota Serang pada 2007, dan masih menjadi eksportir kambing sambil membuka usaha kuliner.

"Karena disana kerja sama, kadang-kadang harapan tidak sama, akhirnya saya coba mandiri menjadi eksportir sendiri dengan ekspor perdana sekitar 600 ekor kambing, namun usaha ini tidak dapat bertahan lama, karena orang Malaysia sendiri mencoba pula mengembangbiakkan kambing sehingga permintaan kambing pun menjadi menurun, kata Latief yang memutuskan menetap di Kota Serang.

Latief yang menikahi Katharina Indarta pada 2003 dan dikaruniai tiga anak itu mencoba membuka usaha di Kota Serang, yaitu kuliner, sementara sang istri dengan keahliannya membuat kerajinan dari batok kelapa sewaktu masih di Yogyakarta, di Serang ia bekerja di perusahaan tupperwer.

Dengan modal gerobak dan mesin jus, Latief dibantu istri menjual jus buah di depan rumah orang tuanya di Jalan Ciwaru Raya No. 12 RT 07 RW 17 Sumur Pecung, Kota Serang, Provinsi Banten.

Ia mengakui pertama kali jual jus buah, tidak banyak yang membeli bahkan tidak ada satupun yang datang, sehingga hasil yang diperoleh per hari pernah hanya Rp15.000 dan paling tinggi Rp60.000.

"Pembeli kebanyakan tetangga waktu itu, tapi kami tetap optimistis karena untuk meningkatkan pelanggan perlu dilakukan membuat kuliner yang inovatif dan kreatif," kata Latief.

Pada 2008, Latief mencoba meningkatkan variasi makanan dan minuman yang dijajakannya, tidak hanya jus buah, tetapi ada sop buah, float drink, empek-empek, Batagor, es cream goreng, dan sekarang yang sedang tren dan maju adalah sop duren.

Kehadiran sop duren, menjadi penyemarak usaha Latief, yang ditandai pembeli lebih cenderung memilih sop duren ketimbang minuman lainnya, karena rasanya yang khas dan kental dengan rasa durennya.

Sejak kehadiran sop duren, usaha Latief dari tahun ke tahun terus berkembang, yang tadi omzet per hari hanya Rp15.000 meningkat menjadi antara Rp500.000-Rp700.000 per hari pada Tahun 2008, kemudian berkembang lagi menjadi Rp1,5 juta per hari.

Inovatif dan kreatif, itulah kunci kesuksesan Latief mengembangkan usahanya. Ia tidak segan-segan mencoba berbagai macam ragam buah-buahan diolahnya sedemikian rupa untuk mendapatkan rasa yang enak dan nikmat, mulai dari stroberi, sirsak dan buah-buahan lainnya, dan keputusan terakhir jatuh kepada duren yang ternyata sangat disukai pembeli.

"Pertama kali saya coba stroberi, dan kini namanya tetap melekat Barry's, tapi dalam perjalanan ternyata tidak selaris sop duren, tapi jus stroberi tetap dijual," kata anak dari pasangan Tb Halimi dan Nining (alm) ini mengisahkan munculnya nama Barry's  di nama kedainya tersebut.

Ayah dari Tb Isa Khairun Sabil, Tb Dawud Qaululhaq dan Tb Ibrahim Qalbussalim ini memang tidak pernah berhenti berinovasi, sop duren yang sudah nikmat tersebut terus dicoba dengan berbagai ramuan lain agar mendapatkan rasa yang lebih segar lagi, seperti diberi keju.

Setelah diketahui oleh warga Kota Serang melalui mulut ke mulut, pembelinya pun menjadi banyak, tidak hanya didatangi warga sekitar saja, tetapi tidak sedikit yang sengaja singgah baik menggunakan sepeda motor maupun mobil.

Alhasil, Kedai yang ukuran relatif kecil tersebut tidak mampu menampung pembeli yang cukup banyak, sementara rumah yang dijadikan kedai tersebut terancam tersita oleh bank karena terjadi kemacetan dalam mencicilnya. 


Sumber : ayopreneur.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar