Kisah Sukses Kiki Gumelar Padukan Cokelat dan Dodol

  • Kisah Sukses Kiki Gumelar Padukan Cokelat dan Dodol

Ketika mendengar nama Garut, apa kira-kira yang terbayang dalam pikiran? Mungkin Anda akan menyebutkan dodol sebagai salah satu jawaban. Memang, dodol sudah lama jadi ciri khas Kabupaten Garut. Tidak pas rasanya jika tak memboyong dodol sebagai oleh-oleh ketika berkunjung ke Garut. Namun, ternyata, dodol bukan satu-satunya penganan khas dari daerah dengan sebutan Swiss Van Java tersebut. Kabupaten ini juga merupakan salah satu penghasil cokelat olahan di dalam negeri.

Adalah Kiki Gumelar yang tertantang mengembangkan industri cokelat di tanah kelahirannya, Garut. Dus, sejak 2009, Kiki mendirikan perusahaan Tama Cokelat Indonesia. Melalui perusahaan itu, ia memproduksi chocodot, yakni campuran cokelat dengan dodol.

Seiring berjalannya waktu, Kiki mengembangkan produk lain berbahan dasar cokelat. Hingga kini, ia sudah punya lebih dari 350 produk yang berupa campuran cokelat dengan bahan-bahan lain. Harganya cukup terjangkau, di kisaran  Rp 2.000–Rp 35.000 per potong.

Kapasitas produksi cokelat di Tama Cokelat saat ini berkisar 10 ton–15 ton per bulan. Dari usaha ini, pria kelahiran 17 November 1980 ini pun bisa meraup omzet ratusan juta rupiah saban bulan. Total gerai chocodot saat ini ada 10 outlet. Sebagian besar berada di Garut.

Gerai lain berada di Bandung dan Tasikmalaya. Sementara, karyawan chocodot sekarang mencapai 150 orang.

Kiki bercerita, chocodot ditemukannya secara tak sengaja ketika ia masih menjadi karyawan di PT Nirwana Lestari. Perusahaan itu merupakan distributor cokelat yang cukup besar di Yogyakarta. Pada April 2009, ibunya datang dari Garut untuk berkunjung. Sebagai oleh-oleh, dia membawa dodol.

Kebetulan, Kiki sedang memasak cokelat. Pria yang sempat terpilih sebagai Jajaka Garut pada 1997 ini memang hobi memasak. Lantaran tidak terlalu doyan dodol, Kiki malah iseng memasukkan dodol dalam lelehan cokelat yang sedang dipanaskan. “Hasil campuran itu ternyata enak dan disukai keluarga saya,” kata dia.

Di sisi lain, Kiki tengah bergumul dengan kariernya. Dia tak melihat adanya peluang naik jabatan setelah lima tahun bergabung. “Sejak itu muncul niat berwirausaha dan saya resign per November 2009,” kisahnya.

Sebelum benar-benar meninggalkan PT Nirwana Lestari, Kiki sudah merintis bisnisnya. Dia memproduksi chocodot dengan kapasitas 30 kg per bulan. “Waktu itu hanya dibantu satu karyawan dan ibu ikut membantu,” kenang dia.

Kiki menawarkan produknya ke sejumlah toko di Garut. Dari 10 toko yang ia sambangi, hanya empat toko yang bersedia menjual chocodot. Maklum, saat itu chocodot belum dikenal.

Meski begitu, Kiki tak berkecil hati. Dia optimistis produknya bisa diterima masyarakat. Meminjam kartu kredit milik ibunya, Kiki berutang uang sebesar Rp 17 juta. Modal itu digunakannya untuk mengontrak toko kecil di Garut dengan biaya sewa Rp 6 juta per tahun. Sisa uang pinjaman difungsikan untuk membeli peralatan membuat cokelat serta membuat brosur untuk promosi. “Saya minta adik menjaga toko, sementara saya mengurus pemasaran dan promosi,” terang dia.

Belajar dari pengalamannya, Kiki bilang, cara paling ampuh meningkatkan penjualan ialah dengan promosi. Pasalnya, jika produk tak dikenal maka akan susah juga untuk dijual. Kiki pun memanfaatkan media sosial dalam hal pemasaran.

Ia membuat akun di beberapa media sosial, seperti Facebook dan Twitter, serta website chocodot. Animo masyarakat pun membeludak. “Sejak promosi di media sosial, justru pemilik toko oleh-oleh di Garut yang datang ke toko saya karena banyak konsumen yang mencari chocodot,” tandasnya.

Selain itu, Kiki mengandalkan jaringan untuk mengembangkan produknya. Ia memperkenalkan chocodot ke kerabat dan kenalannya dari Garut, yang kini tersebar di berbagai kota. Tujuannya, agar mereka tidak lupa membeli chocodot saat pulang kampung.

Tak lupa, Kiki berpromosi di kantor-kantor pemerintahan, baik kabupaten maupun kantor pusat. Hasilnya, Kiki sering diajak untuk mengikuti pameran kuliner dan industri kreatif. Selain itu, Kiki rajin mengakses situs duta besar Indonesia di luar negeri. “Dari situ saya tahu kalau mereka mau mengadakan pameran dan saya menawarkan diri ikut pameran,” tambahnya.

Segala upaya dijalaninya, karena dia menganggap brand awareness sangat penting. “Ketika produk semakin dikenal, orang-orang akan tertarik dan mencari-cari produk kita,” ucap dia.

Uniknya lagi, Kiki seperti tak pernah kehabisan ide dalam mengembangkan produk cokelat miliknya. Setelah terkenal dengan cokelat yang dicampur dodol, chocodot juga punya banyak varian lain. Misalnya saja cokelat gawat darurat, cokelat anti galau, cokelat enteng jodoh, cokelat kece badai, dan lainnya. Semua varian cokelat ini terinspirasi oleh kekayaan alam Indonesia dan kehidupan sosial masyarakat.

Tiap varian punya kisah tersendiri dengan rasa yang berbeda-beda pula. Sebut saja cokelat gawat darurat yang berisi dark chocolate. Pasalnya, dark chocolate bisa menghilangkan lapar dalam sekejap meski sifatnya sementara. “Saya selalu membuat cerita di balik suatu produk. Ini bagian dari marketing juga,” tutur dia.

Saat ini Kiki membangun pabrik produksi seluas 1.200 meter persegi di Garut. Lantaran kapasitas produksinya yang masih terbatas, Kiki kerap menolak orderan atau kerjasama dari luar negeri. Baru-baru ini, ia dapat tawaran membuat cokelat untuk perusahaan Kanada. “Saya masih memikirkan kerjasama dengan pihak luar karena kapasitas kami belum mencukupi,” katanya.

Jadi dalam dua tahun ke depan, Kiki tetap ingin fokus mengembangkan kapasitas produksi sembari meluncurkan varian baru dari chocodot.

Saat ini, Indonesia tercatat sebagai penghasil kakao ketiga terbesar di dunia. Posisi pertama dan kedua dipegang oleh Pantai Gading dan Gana. Tahun depan, Indonesia digadang-gadang jadi penghasil kakao terbesar di dunia.

Melihat fakta itu, Kiki Gumelar bermimpi bisa mencokelatkan Indonesia. Menurut dia, masih banyak yang belum tahu potensi cokelat di dalam negeri. “Ini tantangannya: menghasilkan cokelat terbaik, setidaknya di negeri sendiri,” ujar dia.

Kiki pun tak pernah berhenti belajar. Ia sempat studi banding ke perusahaan cokelat, seperti Hershey’s di Amerika Serikat. Ia juga berniat mengunjungi Cadburry di Inggris. “Saya juga ingin punya museum cokelat sebagai tempat wisata edukasi cokelat,” ucapnya.

Bak cokelat yang kadang terasa pahit, demikian juga dengan bisnis cokelat yang digeluti Kiki. Bisnisnya tak selamanya manis. Pada tahun pertamanya, Kiki sempat ditipu oleh distributor. Uang sebesar Rp 50 juta lenyap karena distributor tak membayar cokelat yang sudah dikirimkan. “Uang segitu bagi saya sangat besar nilainya, sehingga kami hampir gulung tikar,” ujar dia. Beruntung, Kiki bisa melanjutkan usahanya hingga bisa sukses seperti saat ini.

Kiki juga bercerita, ia pernah meluncurkan merek baru bernama cokelat Roso di Yogyakarta. Roso merupakan produk cokelat dengan cita rasa khas Jawa, seperti jamu-jamuan.

Namun karena manajemen yang kacau, setelah setahun, produksi cokelat Roso pun terhenti. “Manajemen saya percayakan pada orang lain, tapi ternyata tak diurus dengan baik. Jadi saya tutup sementara,” ujarnya. Berkaca dari pengalaman itu, kini Kiki lebih hati-hati menaruh kepercayaan. “Bisnis memang harus dimulai dari kepercayaan. Tapi bukan berarti kita jadi tidak waspada terhadap kemungkinan negatif,” ungkap Kiki.


Sumber : ayopreneur.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar