Kisah Rachmat Saleh, Sang Legenda Kejujuran dari Madura

  • Kisah Rachmat Saleh, Sang Legenda Kejujuran dari Madura

1 Mei 1930 tentu menjadi hari yang membahagiakan bagi pasangan Lodan Djojowinoto dan Moeirah Djojowinoto karena di hari itu mereka dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Rachmat Saleh, yang kemudian dikenal sebagai seorang Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Perdagangan.

Rachmat Saleh dikenal sebagai pejabat yang jujur dan kerap memberikan kemudahan bisnis bagi para pengusaha muda. Dia juga suka membantu pengusaha pribumi.

Sejak kecil Rachmat Saleh justru diasuh oleh paman dan bibinya, Mohammad Saleh dan Moeirah. Sehingga Rachmat Saleh lebih dikenal sebagai anak tunggal dari pasangan tersebut.

Kehidupan Rachmat Saleh selalu berpindah-pindah, mulai dari Surabaya hingga Sampang. Karena pamannya harus bekerja berpindah-pindah.

Ketika SD ia pernah bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang kala itu dikhususkan untuk orang terpandang. Setelah itu, ketika SMP ia berpindah-pindah.

Saat SMA ia mengenyam pendidikan di Jember, tepatnya di Sekolah Menengah Tinggi (SMT). Namun baru duduk di kwartal terakhir kelas dua, sekolah tersebut terpaksa ditutup.

Tak berhenti keinginan untuk belajar, ia melanjutkan mondok di pesantren. Tak berlangsung lama, dia kemudian pindah ke Malang untuk melanjutkan pendidikannya

Di sana ia bersahabat dengan Widjojo Nitisastro, Rudini, dan Suhadi. Lantas persahabatan tersebut berlangsung hingga ia berkuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), Salemba, Jakarta Pusat.

Menuntut ilmu di UI, Rachmat Saleh diajar oleh Menteri Perdagangan dan Perindustrian Sumitro Djojohadikusumo yang kemudian menjadi orang yang berjasa dalam kehidupan dan karier Rachmat Saleh. Di sana, pria yang akrab disapa Pak Tjum terkenal sering membantu mahasiswanya yang dinilai cerdas untuk mendapatkan beasiswa sebagai dosen.

Meski begitu Rachmat tidak mendapatkan beasiswa menjadi dosen. Rachmat diberikan peluang untuk bekerja di Bank Indonesia.

Singkat cerita, Pak Tjum secara pribadi langsung menitipkannya kepada Gubernur BI kala itu Sjafruddin Prawiranegara. Bagi pak Tjum, Rachmat Saleh memiliki potensi besar untuk perkembangan BI dan memahami betul soal-soal monoter.

Rachmat Saleh pun masuk bekerja di BI pada 9 Februari 1956 sebagai calon pegawai dalam masa percobaan. Belum setengah hari menjalani pekerjaannya, Rachmat Saleh sudah dipanggil untuk menghadap langsung ke Pak Sjaf.

Rasa tegang dan berkecamuk sempat muncul di benaknya. Namun semua pikiran dan perasaan tersebut sirna setelah ia bertemu dan berbincang dengan Pak Sjaf. Sebab saat itu, Pak Sjaf hanya ingin mendengar pendapat Rachmat Saleh terkait kurs rupiah.

Pak Sjaf meminta Rachmat Saleh untuk memilih pendapat soal kurs rupiah menurut pandangan Pak Sjaf atau Pak Tjum. Pasalnya, kala itu kurs resmi BI adalah Rp 10/dolar AS, sedangkan di pasar gelar Rp 200/dolar, sehingga dolar menjadi ajang spekulasi pedagang sampai politisi.

Terkait hal itu, Pak Sjaf menilai lebih baik dolar dievaluasi menjadi kurs yang baru seperti harga di pasar. Sebaliknya, Pak Tjum menilai untuk membiarkan kurs seperti itu tapi meminta kepada setiap pembeli dolar untuk menyimpan rupiah di rekening cadangan pemerintah sebanyak selisih harga.

Dimintai tanggapan dari pertanyaan seperti itu, Rachmat Saleh pun menjawab sesuai penilaiannya. Menurutnya harga-harga di lapangan bisa terdorong untuk turun bila uang yang beredar berkurang dengan menyimpan sebagai jaminan alokasi devisa. Artinya secara tidak langsung ia lebih setuju dengan pendapat Pak Tjum.

Mendengar jawaban dari Rachmat Saleh, Pak Sjaf pun mengangguk-angguk seakan mempertimbangkan jawaban pria asal Madura itu. Pertemuan dengan orang nomor satu di BI tersebut pun selesai tapi hati itu ia masih digilir untuk para diwawancarai para direktur lainnya.

"Ya, sudah selesai interview kamu dengan saya. Silakan ke direktur-direktur yang lain yang akan wawancara kamu," kata Pak Sjaf kala itu seperti dikutip dari buku Legacy Sang Legenda Kejujuran Rachmat Saleh yang ditulis oleh Syafrizal Dahlan Dkk.

Senior Rachmat Saleh di BI Marathon Wirija Mihardja pun mengakui hal tersebut. "Memang cepat sekali loncatan karier Pak Rachmat Saleh di BI. Saya tidak memasalahkan karena sudah ada rezekinya masing-masing," ungkapnya.

Karier Rachmat Saleh melesat cepat, hingga akhirnya setelah 17 tahun mengabdi pada 4 Mei 1973 ia dilantik oleh Presiden Soeharto sebagai Gubernur BI.

Selama jadi Gubernur BI, banyak kebijakan yang dilakukan oleh Rachmat Saleh. Misalnya adalah memberi kredit untuk pengusaha muda dan pengusaha pribumi. Pengusaha nasional yang kini jadi taipan properti, Ciputra pun pernah mendapatkan kredit dari Rachmat Saleh. 

Banyak hal menarik soal Rachmat Saleh, termasuk saat dirinya drop out dari salah satu universitas paling favorit di dunia, Harvard University karena ada tugas yang harus diembannya. Kemudian saat dia menjadi Menteri Perdagangan dan memberi peluang ke semua pegawai untuk menjadi atase perdagangan di negara lain.

Mantan Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh dikenal rajin membantu pengusaha untuk mendapatkan kredit. Dia menjembatani para pengusaha yang kesulitan dapat kucuran modal untuk mengembangkan usahanya. 

Nama beken yang pernah merasakan jasa dari Rachmat Saleh adalah Abdul Latief yang membawa puluhan pengusaha muda. Selain itu, pengusaha senior yang kini jadi taipan properti Ciputra pun pernah dibantu oleh Rachmat. 

Dalam buku berjudul Legacy, Sang Legenda Kejujuran Rachmat Saleh yang ditulis Syafrizal Dahlan dkk, Rachmat Saleh disebutkan membantu Ciputra dalam mengembangkan pembangunan Ancol II - Dunia Fantasi (Dufan).

Kala itu, Ciputra yang akrab dipanggil Pak Ci ini, telah membuat studi kelayakan dengan konsultan asal Amerika untuk rencana pembangunan Ancol II. Namun tidak satu pun bank yang bersedia mengucurkan kredit untuknya.

Ia pun memberanikan diri untuk menghadap Rachmat Saleh dan mempresentasikan proyek tersebut dengan harapan pembangunan tersebut dapat dibantu pembiayaannya.

"Pertemuan itu paling-paling hanya membuat dia dan Rachmat Saleh berkesempatan berbincang ala kadarnya. Kalaupun membantu memperoleh kredit untuk proyek Ancol II, Rachmat Saleh paling banter cuma menelepon direksi bank," pikir Pak Ci seperti ditulis Syafrizal Dahlan Dkk dalam buku Legacy Sang Legenda Kejujuran Rachmat Saleh.

Namun siapa kira, pertemuan tersebut justru dibalas dengan pertemuan lainnya bersama Direktur Bank BNI kala itu Somala Wiria, Direktur Keuangan Bank BNI Teuku Abdullah, dan Kepala Divisi Kredit Widigdo Sukarman.

Lantas, kredit pun diberikan untuk pembangunan proyek dengan jangka tujuh tahun. Namun Pak Ci mambayar lunas cicilan tersebut dalam waktu empat tahun untuk mambalas kebaikan tersebut.

"Untuk membalas kebaikan Pak Rachmat dan direksi BNI, sebelum empat tahun semua kredit itu saya lunasi," terang Pak Ci.

Ia pun menilai bahwa Rachmat Saleh bukan lah seorang rasialis ataupun segregatif (pemisah berdasarkan ras atau etnis tertentu) seperti dipikirkan orang terkiat kebijakan untuk mendorong pengusaha pribumi.

"Pak Rachmat Saleh membantu siapa saja yang ingin memajukan Negeri ini. Pribumi dia bantu. Saya yang keturunan Tionghoa juga dia bantu," kisah Ciputra.





Sumber : detik.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar