Kisah Melanie Perkins, ditolak ratusan investor hingga punya bisnis Rp 13,7 triliun

  • Kisah Melanie Perkins, ditolak ratusan investor hingga punya bisnis Rp 13,7 triliun

Wanita cantik asal Australia, Melanie Perkins merupakan pengusaha muda dengan bisnis bernilai lebih dari USD 1 miliar atau Rp 13,74 triliun (USD 1=Rp 13.742). Kesuksesan yang diraih Melanie terbilang tak mudah karena harus mengalami ratusan kali penolakan.

"Normalnya, setelah 'No' yang ke-100 kali, orang lain akan berhenti. Tapi saya tidak begitu. Saya terus menuangkan seluruh energi mencari apa yang dapat saya perbaiki," terang Melanie Perkins seperti dikutip dari The Entrepreneur.

Wanita berusia 30 tahun ini mengatakan, seluruh penolakan yang dialaminya merupakan hal sangat penting demi terus fokus pada seluruh tujuan bisnisnya. Setiap kali dia dan tim mendapatkan pertanyaan sulit dari investor atau alasan mengapa mereka tak akan berinvestasi, Perkins tetap fokus pada apa yang bisa diubah.

"Aku ubah banyak hal penting setelah setiap pertemuan dengan investor, lebih dari 100 kali tahun ini. Itu demi menjawab pertanyaan atau alasan kami ditolak," tuturnya.

Sebenarnya, bisnis kreatif Perkins pertama kali dimulai saat dirinya baru berusia 14 tahun. Kala itu dia meluncurkan bisnis rancangan dan penjualan syal buatan tangan.

Di usia 22 tahun, Perkins mendirikan perusahaan pertamanya, sebuah sistem online untuk merancang buku tahunan bagi sekolah-sekolah, Fusion Books. Kini, Fushion Books menjadi penerbit buku tahunan terbesar di Australia dan juga dibuka di Prancis serta Selandia Baru.

Pada 2013, Perkins sukses meluncurkan bisnis ketiganya, Canva. Bisnis tersebut bergerak di bidang desain di mana setiap orang dapat menciptakan desainnya sendiri tanpa mementingkan tingkat keterampilan tertentu.

Kini, Canva telah memiliki 10 juta pengguna terdaftar dari 190 negara berbeda. Sarana desain tersebut juga tersedia dalam 100 bahasan berbeda dan memiliki koleksi tiga juta gambar, dengan tambahan inspirasi setiap harinya.

Perusahaan tersebut kini telah memiliki tim yang berjumlah lebih dari 250 orang. Hingga Januari 2018 lalu, nilai bisnisnya mencapai USD 1 miliar.

"Komunikasi yang baik merupakan salah satu aspek paling penting dalam menjadi atasan yang baik. Dengan begitu saya dapat membantu tim membuat keputusan hebat dalam mencapai tujuan bersama," tandasnya.





Sumber : merdeka.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar