Kisah Joko, mantan napi yang sukses jadi pelatih tari dan desainer

  • Kisah Joko, mantan napi yang sukses jadi pelatih tari dan desainer

Memiliki masa lalu kelam dan pernah masuk penjara, bukan berarti tak bisa menjalani hidup lebih baik. Bagi yang mau berusaha, masa lalu kelam bukanlah halangan.

Ari Harmoko atau biasa disapa Joko, mantan narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bogor, Jawa Barat menceritakan kisah suksesnya usai keluar dari penjara. Pria asli Aceh tersebut mengaku, saat mendekam di lapas dia mendapat pelatihan menari, dan desain baju.

"Setelah keluar saya pergi ke Pontianak, Kalimantan Barat. Di sana saya membuat sanggar tari dan wedding organizer," kata Joko saat Pameran Produk Unggulan Narapidana 2018 di Plasa Pameran Kementerian Perindustrian.

Joko masuk penjara pada 2010, kemudian keluar tahun 2011. Dia dipenjara selama 14 bulan karena membobol mesin ATM.

Awalnya dia divonis 2,5 tahun. Karena berkelakuan baik selama di lapas, dia mendapatkan remisi pada momen-momen tertentu. Sehingga dia hanya menjalani hukuman selama 14 bulan.

Ketika itu, saat hijrah dari Aceh ke pulau Jawa, Joko memang berkeinginan menjadi penari. Dan yang menjadi kota tujuan adalah Jakarta. Awalnya, dia berharap dengan kemampuan menari itu bisa mengubah hidup di Jakarta.

Tetapi, ternyata semua tak semudah itu. Joko malah terdesak masalah ekonomi, dan dia bergabung dengan komplotan pembobol ATM. Akhirnya dia tertangkap polisi, lalu ditahan di Lapas Bogor.

Digembleng di penjara

Ketika mendekam dipenjara, Joko didorong oleh pengurus lapas untuk belajar menari. Lapas Bogor sengaja mendatangkan pelatih tari dari luar. Joko dan warga binaan lainnya belajar di dalam Lapas.

"Aku kan ditanya sama Bu Kabag Pembinaan Lapas. Aku bilang suka menari, lalu dilatih saat aku di dalam lapas," ujarnya. Selepas keluar dari penjara, Joko kerap diminta untuk melatih tari di lapas di seluruh Indonesia. Dia juga mengisi acara di berbagai instansi pemerintahan.

Saat merantau di Pontianak, Joko mendirikan sanggar tari. Suatu hari, sanggar tari yang dia pimpin dapat order membuat kostum untuk acara Pemilihan Putra Putri Wisata Kalimantan Barat. "Akhirnya aku buatkan baju Dayak, aku buat baju Dayak Kubu. Karena Dayak Kubu tinggal di pesisir aku buat baju Dayak yang ada kerang-kerangnya," tutur dia.

Baju yang didesain oleh Joko ini menjadi baju Dayak terbaik se-Kalimantan Barat. Dia mendapatkan penghargaan dari gubernur di sana. Karena itu pula, karier Joko di dunia seni dan desain semakin moncer. Usahanya semakin maju.

Bisnis Wedding Organizer

Setelah sukses di dunia tari dan desain pakaian, Joko memberanikan diri membuka wedding organizer, dikhususkan untuk penyewaan baju pengantin, baju adat dan tata rias.

Banyak orang yang tertarik dan menyewa baju hasil karya Joko. "Usaha ini aku yang menjalankan dan teman-teman. Jadi setiap ada yang sewa baju Rp150 ribu, Rp50 ribu buat yang kerja. Rp100 ribu buat sanggar," ujar dia.

Setelah sukses di Pontianak, Joko mencoba melebarkan sayap ke Indonesia bagian timur. Dia kembali merantau ke Nusa Tenggara Timur (NTT). Sanggar di Pontianak dikelola teman-temannya.

Joko membuka sanggar di Kupang dan Maumere. "Itu sanggar punya aku, terus ada mamanya muridnya aku, ikut membantu. Support aku," ujarnya.

Joko mengaku, dalam satu tahun bisa mendapatkan 20 kali event. Dalam sekali event paling besar dibayar hingga Rp23 juta. Sekarang dia sudah memiliki beberapa sanggar tari. Dan kini dia mengembangkannya di Jakarta.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Kemenperin akan terus mendukung terciptanya citra positif kepada warga binaan lapas, misalnya melalui upaya fasilitasi penyelenggaraan pameran dan melakukan pembinaan program wirausaha industri baru.

"Dengan usaha ini diharapkan masyarakat dapat melihat secara nyata bahwa lapas bukanlah lembaga yang membelenggu kreativitas para narapidana," kata Airlangga. Sedangkan Pameran Produk Unggulan Narapidana ini sudah berjalan keenam kalinya. 




Sumber : merdeka.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar