Kisah Fauziah dan Ikan Kayu Cap Kapal Tsunami

  • Kisah Fauziah dan Ikan Kayu Cap Kapal Tsunami

Gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 silam masih menyimpan cerita. Kala itu ada kapal nelayan yang hanyut hingga tersangkut di atas atap rumah warga di Desa Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.

Sejumlah warga yang selamat dari hantaman gelombang setelah berhasil menaiki kapal tersebut menjadi bukti sejarah. Kini, kapal itu dijadikan monumen dan salah satu lokasi wisata tsunami oleh Pemerintah Kota Banda Aceh.

Sebelum tsunami, kapal itu memang diparkir oleh pemiliknya di dermaga Pelabuhan Lampulo karena sedang rusak. Hal ini dituturkan Fauziah (45), salah seorang warga Lampulo yang selamat setelah berhasil naik ke dalam kapal itu.

Fauziah mengaku bisa selamat bersama lima anaknya di dalam kapal, setelah sebelumnya sempat mencoba mengungsi ke dalam rumah tetangga yang berlantai dua. Saat gelombang tsunami datang, kapal itu hanyut dan menyangkut di rumah tersebut.

"Saya langsung membongkar seng atap rumah yang tersangkut kapal itu. Hanya muat badan saja. Langsung naik ke dalam kapal itu sehingga saya dan kelima anak saya selamat di atas kapal saat itu. Di atas kapal itu juga ada sekitar 50 orang, sedangkan suami saya hilang diterjang gelombang tsunami karena setelah gempa dia pergi ke pasar," kata Fauziah.

Trauma dan duka yang mendalam akibat musibah guncangan gempa dan gelombang tsunami dirasakan Fauziah karena ia harus rela kehilangan suami dan seluruh harta bendanya. Namun setahun pasca-tsunami, Fauziah pun perlahan bangkit untuk memulai awal hidup barunya karena ia memiliki tanggung jawab untuk membesarkan dan menyekolahkan kelima anaknya yang selamat dari musibah gempa dan tsunami. 

Ia mengaku mulai aktif untuk mengikuti berbagai pelatihan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang datang ke Aceh karena sebelumnya Fauziah juga punya usaha kue kering kecil-kecilan.

"Saat saya tinggal di pengungsian, saya mulai berpikir apa yang bisa saya lalukan untuk menghasilkan uang. Saat itu, saya buat kue kering untuk dijual. Apa saja yang bisa, saya lakukanlah. Yang penting menghasilkan," kata dia.

Bermodal uang Rp 500.000 dan pengalaman yang dia dapatkan dari berbagai pelatihan industri rumahan, Fauziah memulai usaha pengolahan ikan kayu (salah satu makanan khas orang Aceh) atau dalam bahasa Aceh disebut ikan kemamah.

"Karena saya tinggal dekat laut, jadi harga ikan murah. Makanya saya buka usaha pengolahan ikan kayu. Selain itu, ikan kayu juga salah satu makanan khas orang Aceh," katanya.

Usaha pengolahan ikan kayunya yang diproduksi dalam bentuk kemasan itu bisa dibilang yang pertama di Aceh. Sebelumnya, ikan kayu yang ada di pasaran masih dalam bentuk batangan dengan ukuran besar.

"Ikan kayu memang dari dulu sudah ada, tapi ukurannya besar, jadi saya buatlah dalam kemasan dan saya iris kecil-kecil sehingga praktis bagi pembeli, tinggal cuci dan langsung masak," terang dia yang saat ini dibantu oleh 10 tenaga kerja.

Fauziah pun memberi label ikan kayu cap kapal tsunami pada produknya, dengan kemasan bergambar kapal di atas rumah. Produk Fauziah ternyata disambut dengan baik oleh pasar. Bahkan, kini Ikan Kayu Cap Kapal Tsunami menjadi salah satu oleh-oleh Banda Aceh bagi wisatawan, baik  lokal maupun mancanegara. Ia pun sebulan meraup omzet antara Rp 15 juta dan Rp 20 juta.

Tak terasa hampir sembilan tahun sudah gempa dan tsunami yang mengguncang Aceh berlalu, usaha ikan kayu Fauziah pun kian maju. Kelima anaknya bisa dibesarkan dan sekolah hingga ke perguruan tinggi dengan usaha Ikan Kayu Cap Kapal Tsunami.




Sumber : ekonomi.kompas.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar