Kisah Eks Napi Narkoba Tobat dan Sukses Bisnis Singkong di Salatiga

  • Kisah Eks Napi Narkoba Tobat dan Sukses Bisnis Singkong di Salatiga

Banyak yang menyebut Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) merupakan "sekolah" bagi tahanan maupun narapidana (napi). Hal ini mengingat setelah keluar dari Lapas, justru kembali beraksi, bahkan naik kelas melakukan tindakan kriminal. Namun hal ini tak berlaku bagi eks napi narkoba, Hardadi (46).

Soal narkoba, katanya Hardadi, tidak mengenal orang kaya maupun orang miskin pun bisa terkena. Dari awalnya hanya dikasih gratis hingga membuat ketagihan lagi. 

"Saya mulai mengenal sejak 1997, kemudian tahun 2009 di daerah Tipes, Solo tertangkap," tutur Hardadi

Dari penangkapan bersama tiga rekannya, ia pun dijatuhi vonis hakim selama 6 bulan penjara. Ia harus menjalani hukuman di Blok D-9, yang merupakan kamar bagi para napi yang tersangkut masalah narkoba. 

Meski demikian, baik istri, keluarga besarnya hingga para tetangganya memberikan dukungan dan tidak membencinya. Bahkan mereka justru memberi semangat padanya agar berubah menjadi orang yang lebih baik.

"Rasanya seperti kiamat. Saya justru saat berada di lapas tersebut ketemu Ustadz Abu, Hanung dan Pondra. Ketemu di masjid belajar baca Alquran dan mendapatkan pencerahan bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Keyakinan saya untuk berubah, pokoknya berubah yang baik," tuturnya.

Tepatnya pada 22 Agustus 2009, Hardadi bebas dari lapas kemudian pulang menuju rumahnya di Salatiga. Setelah itu, teringat orang berjualan singkong goreng di Jakarta. Untuk itu, ia mulai merintis berjualan nasi dan es.

Kemudian dari berjualan nasi dan es tersebut, labanya disisihkan untuk membeli singkong. Dari praktik sendiri, kemudian menjual singkong yang menawarkan dengancara mulut ke mulut.

"Awalnya saya kirim SMS kepada saudara, tetangga maupun lainnya menawarkan singkong keju. Saya pun siap mengantarnya dengan bungkus kardus snack seharga Rp 5 ribu. Kami pakai merek D-9 sebagai pengingat," kenang Hardadi.

Selanjutnya, pada awal tahun 2010 dia memperoleh pinjaman sebesar Rp 2 juta dari Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). Uang pinjaman itu digunakannya untuk membuat gerobak. 

Selanjutnya, Hardadi berjualan di seputaran Lapangan Pancasila Kota Salatiga. Selain itu, ia aktif mengikuti bazar maupun pameran UKM di Kota Salatiga hingga luar kota.

"Setelah 2 tahun berjualan di Lapangan Pancasila, saya memutuskan berjualan di rumah. Kebetulan, di sekitar rumah saya ada yang jualan getuk maupun singkong juga," ujar suami dari Dyah Kristanti (40) itu.

Dyah menambahkan, seluruh keluarga mendukung setiap usaha yang dilakukan suaminya. 

"Kami sekeluarga mendampingi dan mendukung Pak Hardadi karena beliau layak diperjuangkan. Pak Hardadi bertaubat dari masa lalunya yang kelam dan bertekad memulai hidup baru," kata melalui pesan singkat dalam perjalanan dari Solo.

Semula hanya ada satu karyawan, kini ada sekitar 100 karyawan yang dilibatkan dalam produksi Singkong Keju D-9, itu. 





Sumber : news.detik.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar