Kisah Bu Esther jualan gudeg di Abu Dhabi, obati kangen para WNI

  • Kisah Bu Esther jualan gudeg di Abu Dhabi, obati kangen para WNI

Tinggal di negeri orang bukan berarti melupakan negeri sendiri. Bagi sebagian WNI, tinggal di luar negeri adalah kesempatan untuk memperkenalkan Indonesia ke dunia. Mulai dari kebudayaan hingga kuliner khas Indonesia. Salah satunya adalah RA Estherlita Suryoputro (57).

Akrab disapa Esther, ibu satu anak yang hampir 12 tahun tinggal di Abu Dhabi ini mengembangkan bisnis kuliner khas Indonesia. Di Abu Dhabi, Esther sering 'buka kantin', ini adalah istilah di mana dirinya menerima pesanan masakan khas Indonesia setelah terlebih dahulu mengunggah menu yang akan diolahnya pada hari-hari tertentu melalui jejaring sosial (pre order).

Sistem pre order ini dilakukan lantaran sulitnya mendapatkan izin usaha di Abu Dhabi. Esther sendiri sempat memiliki usaha jasa boga atau catering saat masih tinggal di Bontang, Kalimantan Timur. Meski Esther piawai mengolah berbagai masakan, namun menu paling dicari di Abu Dhabi adalah gudeg dan presto.

"Menu khas saya adalah prestoan ayam dan bandeng presto, yang meski namanya sama tapi sengaja saya kembangkan, mempunyai rasa yang khas. Juga gudeg, saya sengaja bikin yang bisa diterima semua lidah, maksudnya gak terlalu manis tapi masih bercita rasa gudeg," ujar Esther

Esther mengaku kesulitan untuk membuka bisnis catering di Abu Dhabi lantaran otoritas setempat tidak mudah memberikan izin usaha penganan. Oleh sebab itu, pelanggan Esther adalah WNI yang tinggal di Abu Dhabi.

"Pelanggan WNI semua karena kalau saya jual ke warga lokalnya, agak repot kudu daftar ke dinas kesehatan dulu. Tetapi karena warga Indonesia juga banyak, ya lumayan juga sibuknya. Saya gak berani jual ke warga lokal, karena kalau gak daftar ke dinas kesehatan mereka kalau ada apa-apa bisa dituntut nantinya saya, bahaya itu. cari yang aman saja," terang Esther.

Di sisi lain, Esther menilai selera warga lokal terhadap masakan berbeda dengan WNI. Hal ini juga membuat Esther harus memutar otak untuk memperkenalkan gudeg ke lidah warga lokal.

"Tetapi ada juga warga Indonesia yang nikah dengan warga arab yang pernah beli, cuma gak tahu suka atau enggak karena pada prinsipnya makanan Arab itu gak ada yang manis kalau masakan, tapi kalau dessert tobat manisnya. Agak beda di sini persepsi makanan," tutur Esther.



Sumber : merdeka.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar