Keripik Tempe Suratno Tembus Singapura

  • Keripik Tempe Suratno Tembus Singapura

Suratno (46) dan Yanti istrinya warga Jl Adi Sucipto Km 12 No 1 Tanjungpinang tak menyangka jika hanya dengan menekuni pembuatan keripik tempe bisa mengundang kehadiran Rini Suwandi Menteri Perindrustrian dan Perdagangan RI  tahun 2003 silam.

Dan berkat usahanya yang gigih dalam membuat produk keripik tempe dan pemasarannya hingga ke Singapura itulah, Suratno mendapat penghargaan Menaker tahun 2007 serta penghargaan dari HIPMI Kepri tahun 2008.

Usaha keripik tempe yang dulu hanya bermodal awal Rp 60 ribu tahun 1996 kini sudah beromset lebih dari Rp 80 juta perbulan dengan memperkerjakan 14 karyawan dari tetangganya. Dan sejak memperoleh pengakuan Bintang Satu Kemanana Pangan dari BPOM RI Desember 2004, produknya terus membanjiri kota kota besar di Kepri, Sumatera dan menembus pasar Singapura.

Ditemui di tempat produksinya, tampak Suratno beserta para karyawannya sedang mempersiapkan tempe yang dipotong-potong menggunakan mesin. Sebagian lagi ada yang packaging tempe keripik ke dalam bungkus plastik merk Keripik Tempe Sarimas, sedangkan karyawan yang lain menggoreng dan membumbuinya. Suasana kerja tampak akrab dan tertib dalam dapur yang bersih dan ukuran besar.

"Dulu kami bermodal awal hanya Rp 60 ribu tapi sekarang alhamdulillah sudah berkembang. Satu bungkus berkisar harga Rp 9 ribu hingga Rp 20 ribu sesuai ukurannya. Selain dipasok ke mal di Kepri juga dikirim ke Singapura," kata Suratno beberapa waktu lalu.

Suratno dan Yanti mengaku bangga karena produknya bisa menembus pasar luar negeri hanya dengan modal puluhan ribu saja. Dan sejak awal keluarga tersebut ingin memiliki usaha sendiri secara mandiri mampu menghidupi keluarga serta membantu tetangga.

Dijelaskannya, produksi keripik tempe dilakukan setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00  kecuali hari libur. Proses pembuatannya, semula tempe dipotong dengan mesin pemotong, kemudian dimasukkan ke dalam tepung yang sudah diberi bumbu. Tempe digoreng sekitar 10 menit kemudian di dinginkan dan proses dikemas dalam plastik.

Sekarang ada karyawan 4 lelaki dan 10 perempuan yang direkrut dari tetangganya.  Kapasitas produk maksimal  2.500 kilogaram per bulan. Penghasilan yang didapat dari produksinya  sekitar Rp 80 juta perbulan. Keluarga tersebut senang karena bisa menggerakkan dan memberi semangat tetangganya untuk mandiri.

Suratno makin yakin usahanya berkembang setelah produknya disukai warga Singapura dengan memesan keripik tempe khas produksinya, baik yang beli langsung di Tanjungpinang, maupun  dikirim ke Singapura.  Dia berharap agar warga Kepri mampu mengembangkan potensi yang ada untuk berani membuka usaha sendiri walau dimulai dengan modal kecil. 


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar