KERANJANG MANIK-MANIK MANACIKA DI EKSPORT SAMPAI AS

  • KERANJANG MANIK-MANIK MANACIKA DI EKSPORT SAMPAI AS

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat belum lama ini. Tentu berdampak pada daya beli masyarakat yang semakin menurun. Penurunan daya beli itu membuat sebagian para pengusaha pikir-pikir ulang dalam memproduksi suatu barang. Hal seperti ini yang dialami oleh Made Pung Winata dari Manacika Art Gallery.

“Perlambatan ekonomi ini memang berdampak sekali terhadap produksi kerajinan keranjang manik-manik. Manacika Art Gallery, setahun belakangan ini tidak banyak berproduksi barang,” keluh Made beberapa waktu lalu di Kemayoran, Jakarta.

Namun, bukan berarti Made harus pasrah terhadap kondisi perlambatan ekonomi. Untuk mengantisipasinya, Made menginvestasikan aset-aset atau barang yang sudah diproduksi dalam bentuk tabungan. Dan untungnya, cost flow-nya masih tetap terjaga tanpa harus mengurangi tenaga kerja yang ada.

Manacika Art Gallery memiliki produk utamanya berupa keranjang manik-manik. Dan untuk membuat kerajinan keranjang manik-manik tersebut dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Untuk pembuatannya sendiri Manacika Art Gallery sangat mengandalkan para pengrajin-pengrajin lokal di Bali. “Jadi pengrajin itu bisa kita bayar di depan atau pada akhir setelah barang itu jadi, sistemnya diterapkan seperti itu untuk menjaga cost flow,” tuturnya.

Made mengatakan, dia bersama Manacika Art Gallery sudah berkecimpung dalam bisnis kerajinan ini mulai dari tahun 2000-an di Ubud, Bali. Made berujar bukan tanpa alasan, manik-manik digunakan menjadi cover dari kerajinan keranjang produksinya. Alih-alih sebagai nilai jual dari hasil produksinya, Made menambahkan, produk kerajinan berupa keranjang yang beredar di pasar terkesan itu-itu saja dan untuk membedakan dengan kerajinan keranjang lainnya, maka keranjang itu ditambahkan oleh hiasan manik-manik.

Untuk urusan penjualan dari keranjang yang terbuat dari rotan dan kayu ini, Made memfokuskan pada pasar luar negeri dan dalam negeri. Untuk pasar luar negeri, Amerika Serikat merupakan negara tujuan eskport utama dari keranjang manik-manik Manacika Art Gallery. ”Sampai sekarang AS merupakan pasar potensial bagi kerajinan keranjang manik-manik Manacika Art Gallery” tuturnya.

“Untuk promosi, kami pernah melakukan pameran di San Francisco, AS, di tahun 2007 dan responnya sangat bagus. Orang-orang disana sangat mengapresiasi produk lokal Indonesia. Selain memasarkan kerajinan keranjang manik-manik ini Manacika juga menjual lukisan-lukisan yang dikumpulkan dari komunitas pelukis yang berada di Ubud”.

Dalam mengembangkan usahanya tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masalah klasik yang dihadapi Made adalah persoalan modal. Hanya saja dengan usaha yang keras dan promosi, roda produksi dapat terus berputar secara berkesinambuangan. Persoalan kedua adalah pengrajin, lantaran produknya merupakan produk tradisional, Manacika Art Gallery tidak terlalu “menggenjot” produksinya. Prinsipnya, pengerjaan dilakukan pelan-pelan akan tetapi konsisten dalam memproduksi. Produksi Manacika membandrol kisaran harga, mulai dari Rp 200 ribu sampai Rp 5 Juta.

Kedepannya, Made bersama Manacika Art Gallery berencana akan melebarkan pasar produknya, termasuk pasar dalam negeri. “Harapannya orang Indonesia akan semakin mencintai produksi dalam negeri, karena dari mencintai akan menghargai dan membeli produk ini, hal ini sangat berimbas bagi penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat,” pungkas Made.





Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar