KEKOMPAKAN KELUARGA MENGANTARKANNYA SUKSES DI BISNIS CAMILAN

  • KEKOMPAKAN KELUARGA MENGANTARKANNYA SUKSES DI BISNIS CAMILAN

Melihat kesuksesan kedua orangtuanya menjalankan bisnis camilan dari aneka olahan ikan dan belut, Novianti, Spd (25) mulai tertarik meneruskan bisnis keluarga yang telah dirintis kedua orangtuanya sejak tahun 2011 silam. Alumni Universitas Negeri Yogyakarta ini mengaku tak menemui banyak kendala meski program studi yang Ia ambil sangat bertolak belakang dengan dunia usaha.

“Awalnya ibu saya mendapatkan pelatihan dari Dinas Kelautan dan Perikanan. Kemudian beliau mulai mengembangkan usaha dari masakan yang beliau kuasai, yaitu crispy lele dan belut goreng sampai sekarang ini,” ujar putri sulung dari Suwandi (47) dan Suwarmi (46) tersebut.

Meski menyandang gelar Sarjana Pendidikan (Jurusan Bimbingan Konseling), namun Novi bercerita bahwa Ia sudah cukup lama tertarik menekuni bisnis camilan ini sebelum kedua orangtuanya memproduksi keripik ikan dan belut Sari Rasa.

“Saya mulai terlibat sebelum ibu saya punya usaha, saya belajar dari tante dan saudara-saudara yang bergelut di bidang wirausaha. Kemudian setelah ibu saya membangun bisnis ini, saya mulai terjun membantu ibu dalam segi pemasaran, aktif mengikuti pameran, dan beserta adik saya juga membantu dalam mengikuti kegiatan-kegiatan di Pemda,” tuturnya.

Mengatasi Kendala Usaha Dengan Positif

Menekuni bisnis camilan aneka olahan ikan dan belut sejak lima tahun yang lalu, Ia mengaku di awal-awal merintis usaha Novi cukup kesulitan untuk meyakinkan calon konsumen. Bahkan saat itu Novi bersama sang adik Muhammad Rizky (19) harus melakukan tes pasar untuk mengetahui respon pasar. “Sejak dulu saya selalu memberikan tester produk gratis kepada teman-teman kampus, dari situlah saya mulai memperbaiki kualitas produk,” ungkap pengusaha muda ini.

Mengusung Sari Rasa sebagai merek dagang yang dipasarkan-nya, di musim-musim tertentu Novi juga cukup kesulitan untuk mendapatkan bahan baku keripik belut. Untuk mensiasati kondisi tersebut, Novi mencoba membuat produk-produk tambahan seperti misalnya crispy lele, keripik ikan nila, keripik wader, crispy ikan nila, abon lele, dan lain sebagainya.

Tidak hanya itu saja, untuk bisa menjangkau semua konsumen Ia juga mulai mengemas produk dalam berbagai ukuran. “Kita juga memberikan solusi bagi orang-orang yang membutuhkan produk tidak terlalu banyak, kita membuat kemasan kecil seperti misalnya kemasan 1 ons dengan kisaran harga yang terjangkau dari mulai Rp 20.000,- sampai Rp 25.000,-,” kata Noviyanti.

Terbukti cara ini cukup efektif untuk mengatasi kendala-kendala usaha yang Ia hadapi selama ini. “Dalam seminggu kita bisa menggoreng keripik belut sekitar 50 kilogram, sedangkan untuk crispy lele kapasitas produksi bisa mencapai 30 kilogram,” tambahnya.

Kompak Mengelola Bisnis Keluarga

Dalam menjalankan bisnisnya, selama ini Novi masih memanfaatkan peran serta seluruh anggota keluarga. “Kami belum merekrut karyawan. Saya, kedua orangtua saya, dan adik saya. Jadi, tim produksi adalah kita, dan pemasaran juga kita lakukan sendiri,” begitu kata Novi.

Ketika ditanya mengenai strategi pemasaran yang dijalankan oleh Sari Rasa, sambil mengenang awal mula merintis usaha Novi berkata bahwa Ia memasarkan produknya dari teman-teman di kampus, memberikan tester kepada para dosen, hingga memperkenalkan produk mereka ke Dinas-dinas terkait.

“Dari situlah kami diajak pameran-pameran dari yang lokal, kemudian sifatnya nasional, atau pun internasional. Awal-awal kita mengikuti pameran di kecamatan, balai desa, dan untuk luar kota kita sering pameran ke Jakarta, Surabaya, dan Sumatera,” terangnya. Selain itu, Novi juga menggandeng beberapa toko oleh-oleh dan hypermart yang ada di Yogyakarta untuk menitipkan produk keripik belut Sari Rasa.

Di era digital seperti sekarang ini, bersama sang adik Ia juga mulai memanfaatkan social media untuk mengoptimalkan pemasaran produk. “Mulai dari Twitter, Facebook, Instagram, sampai Blackberry Messenger, semuanya sangat membantu kami dalam memasarkan produk,” imbuh Novi.

Kedepannya, Novi berharap bisa memiliki toko oleh-oleh sendiri sehingga bisa bekerjasama dengan agen-agen tour agar produk dari Kabupaten Sleman bisa dinikmati masyarakat luas, tidak hanya masyarakat Sleman saja yang bisa menikmatinya. Selanjutnya, saya juga berharap bisa mengikuti pameran di luar pulau bahkan tidak menutup kemungkinan bisa mengikuti pameran di luar negeri.

“Yang paling kami jaga adalah kualitas dari produk itu sendiri. Jadi, jangan sampai kualitas produk malah menurun. Misalnya tidak bisa meningkatkan kualitas, minimal standarnya tetap terjaga dan lebih enak dari produk merek yang lain,” tukasnya.





Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar