Kaleng Bekas Made in Eni: Bernilai Ratusan Juta Hingga Tembus Pasar Australia

  • Kaleng Bekas Made in Eni: Bernilai Ratusan Juta Hingga Tembus Pasar Australia

Bagi sebagian orang, sampah sering dianggap sebagai barang yang tidak berharga. Namun di tangan Eni Aryani (37), sampah justru menjadi sumber pemasukan tambahan dengan omzet yang cukup besar.

Dengan hanya bermodal kaleng dan kayu bekas, Eni mampu meraup omzet hingga puluhan bahkan ratusan juta setiap bulannya. Ia berhasil menyulap sampah seperti kaleng dan kayu bekas menjadi barang hiasan dan kerajinan tangan yang memiliki nilai jual.

“Jadi Wastraloka ini usaha yang bergerak di bidang hiasan dan dekorasi rumah yang dihias oleh seni lukisan.” ujar Eni.

Eni mengatakan barang hiasan kerajinan tangan yang ia buat biasanya berasal dari kaleng dan kayu bekas serta memiliki ciri khas keunikan yang berbeda dari produk kerajinan tangan lainnya. Selain itu, Eni juga memberikan sentuhan berbeda pada motif dan desain agar menarik perhatian para pelanggannya.

Alhasil, wanita kelahiran Yogyakarta, 22 Desember 1979 ini telah berhasil membuat lebih dari 20 macam produk, misalnya kaleng kerupuk, tenong, guci tempel, vas bunga, ceret angkringan, dan barang-barang keperluan rumah tangga lainnya.

“Ada kotak pos, kaleng untuk tempat kerupuk dan kue, ember, pensil, ceret angkringan, siraman bunga, tenong, dan lain lain,” jelas Eni.

Meski hanya berasal dari kaleng dan kayu bekas, barang hiasan kerajinan tangan buatan Eni ternyata dijual cukup mahal yaitu dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Salah satu alasannya adalah karena semua barang hiasan kerajinan tangan dibuat sepenuhnya dengan menggunakan tangan (handmade).

“Mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 1,2 juta (per item). Yang paling mahal itu biasanya hiasan atau pajangan yang custom,” ucap Eni.

Ubah Barang Bekas Jadi Barang Berkualitas

Eni Aryani merintis bisnis Wastraloka sejak tahun 2014 lalu. Ia membuat berbagai macam barang hiasan kerajinan tangan yang memiliki nilai jual hingga jutaan rupiah.

Namun siapa sangka saat pertama kali bisnis ini dirintis, Eni tidak mengeluarkan modal yang cukup besar. Hal ini disebabkan karena Eni hanya memanfaatkan barang-barang bekas seperti kaleng dan kayu bekas yang sudah tidak terpakai.

“Hampir sebagian besar kan kita menggunakan material nya kaleng dan seng, tapi ada juga kayu dan benda-benda lainnya yang notabene-nya sudah tidak digunakan lagi,” kata Eni.

Karena terbuat dari barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, Eni mengaku tidak pernah merasa kesulitan mencari barang bekas. Barang bekas biasa ia dapatkan dari pabrik atau peralatan elektronik rusak yang sudah tidak terpakai.

Eni juga kerap mendapatkan suplai barang bekas dari para pengepul. Kebetulan di sekitar tempat tinggalnya banyak pengepul yang siap sedia memasok barang-barang bekas secara rutin kepadanya.

“Kebetulan semua sumber daya itu ada di sekitar kita. Di daerah kami itu isinya adalah pengrajin semua. Jadi bahan-bahan bekas untuk bahan material ini ada semua dan mudah didapat. Bahan seperti seng dan kaleng ada pengepulnya sendiri juga,” papar Eni.

Setelah terkumpul, barang bekas tersebut kemudian dipilih dan dibersihkan. Kemudian barang bekas kembali masuk ke tahap sortir hingga dirancang menjadi sebuah barang hiasan baru oleh para pengrajin.

Eni juga menambahkan beberapa kreasi motif gambar unik di setiap barang hiasan kerajinan tangan yang ia buat. Misalnya motif batik, bunga, sampai angsa yang terkesan eksotik.

“Kaleng kita ambil sisa-sisa dari pabrik, seperti kulkas. Dari sisa itu kita ada pengrajin untuk membentuknya, dari desain kita sendiri juga ada, dari desain yang sudah jadi atau sudah umum juga ada, misalnya kaleng kerupuk kan desain umum, tapi kita modifikasi, bagaimana kaleng itu bisa beda dengan kaleng yang lain. Nah setelah desain kalengnya sudah jadi, kita membuat cat dasar putihnya,” tuturnya.

Eni mengklaim barang kerajinan tangan buatannya memiliki kualitas yang cukup tinggi meski sebagian besar dibuat dari barang-barang bekas. Agar berkualitas dan barang tahan lama, Eni menggunakan cat akrilik. Penggunaan cat akrilik diperlukan terutama agar barang kerajinan tangan miliknya bisa bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Yang kita gunakan adalah cat akrilik. Sebenarnya cat tapi berbasis air dan di campur juga pake air, cat akrilik itu tidak mudah terhapus. Setelah itu kita sketch dan kita warnai dengan cat akrilik tadi kemudian di-coating agar ngunci, agar tidak luntur, dan kena panas pun masih aman,” ujar Eni.

Dengan Modal Rp 5 Juta Mampu Raup Omzet Hingga Ratusan Juta

Pada saat bisnis Wastraloka berdiri di tahun 2014, Eni mengaku hanya menggelontorkan modal sebesar Rp 5 juta. Modal tersebut sebagian besar digunakan untuk membeli bahan baku berupa barang bekas serta cat akrilik yang digunakan sebagai pewarna.

“Saya waktu itu mengeluarkan modal awal sebesar Rp 5 juta,” ujar Eni.

Dengan modal tersebut, Eni berhasil membuat berbagai macam kerajinan tangan yang memiliki nilai jual hingga jutaan rupiah. Misalnya kaleng kerupuk, tenong, guci tempel, vas bunga, ceret angkringan, dan barang-barang keperluan rumah tangga lainnya.

Setelah berjalan satu tahun, usahanya terus berkembang. Permintaan barang kerajinan tangan miliknya terus mengalami peningkatan setelah Eni membangun sistem pemasaran secara online.

“Kalau tempat workshop sih di Yogyakarta. Tapi untuk pemesanan bisa melalui telepon, WhatsappInstagram, dan website,” tambahnya.

Dengan besarnya permintaan maka tidak heran bila omzet yang didapat Eni cukup besar. Eni mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya. Bila beruntung, omzet yang didapat bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

“Kalau omzet sih naik turun. Kalau  saya mengikuti pameran omzetnya bisa mencapai puluhan juta bahkan Rp 100 juta. Kalau bulan biasa, tidak mengikuti pameran, paling di atas Rp 20 juta,” ucapnya.

Singkat cerita, produk Wastraloka semakin dikenal banyak orang. Apalagi setelah setahun menjalankan bisnis ini atau tepatnya di tahun 2015, Eni mulai mendapatkan tawaran  untuk mengikuti ajang pameran kerajinan tangan terbesar di Indonesia, Inacraft.

Eni menceritakan awalnya ia  mengalami dilema. Hal ini karena untuk bisa mengikuti ajang Inacraft 2015, ia harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Untungnya, saat itu ia berhasil mendapatkan modal mengikuti Inacraft 2015 dari uang asuransi.

“Tahun 2015 tiba-tiba ada tawaran untuk ikut Inacraft. Nah untuk modal ke Inacraft itu pas kebetulan uang saya dari asuransi cair. Jadi bisa digunakan untuk modal ke Inacraft.  Kan modal untuk pameran Inacraft secara mandiri tidak sedikit, sekitar belasan juta. Itu pas saya diajak pas ada permintaan produk dari customer,” papar Eni.

Eni mengaku beruntung bisa mengikuti ajang Inacraft 2015. Bagi Eni ajang Inacraft 2015 dapat membantu dirinya membuka pasar kerajinan tangan yang jauh lebih luas. Namun saat mengikuti ajang ini, Eni mengaku ada sedikit kendala teknis.

“Kita sebenarnya kesulitannya itu akses penyelenggaranya. Kalau awal-awal sebagai pemula atau pengusaha-pengusaha startup lebih ke informasi persyaratannya. Inacraft kan ada saratnya seperti harus jadi anggota ASEPHI (Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia),” jelas Eni.

Sukses Diekspor ke Pasar Jepang Hingga Australia

Setelah dua tahun menggeluti bisnis barang kerajinan tangan Wastraloka dan mendapatkan omzet yang cukup besar, Eni mengaku ingin lebih fokus menggarap bisnisnya. Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta ini berniat ingin mengundurkan diri dari perusahaannya saat ini.

“Saya sampai sekarang masih kerja kantoran juga dan tengah proses untuk resign karena ingin fokus ke usaha saya,” tegas Eni.

Sementara itu ketika ditanya mengenai lokasi produksi Wastraloka, Eni mengatakan ia memiliki tempat workshop kerajinan tangan yang berpusat di kota Yogyakarta. Namun, Wastraloka juga memiliki sebuah galeri pemasaran di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Dari berbagai macam barang kerajinan tangan yang dihasilkan, Eni mengatakan peminat produknya di dalam negeri cukup beragam. Pembeli tak hanya datang dari kalangan perorangan atau individu tetapi juga dari korporasi besar seperti hotel dan restoran.

Tidak hanya itu, produk kerajinan tangan Wastraloka buatan Eni pun sudah dipasarkan ke berbagai negara. Misalnya pasar Jepang dan Australia.

“Kita berusaha meraup pasar Indonesia. Kita juga sudah ada market di luar negeri, sudah ada di Australia dan Jepang. Waktu itu yang dikirim ke Jepang konsepnya adalah untuk gift. Nah kalau di Australia, kita sudah ada kerjasama dengan gallery seni di sana,” ujarnya.

Sedangkan dalam proses pengerjaannya, Eni dibantu oleh 8 orang pegawai. Namun jika permintaan (order) sedang banyak, Eni juga mempekerjakan 5 orang freelancer.

“Kalau untuk pengrajin kalengnya ada tiga dan ada dua orang yang freelance. Kalau untuk pelukisnya itu ada 5 orang dan 3 orang yang freelance.  Jadi kalau produksi lagi full, kita mempekerjakan freelance juga,” pungkas Eni.





Sumber : news.indotrading.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar