Jadi Pengusaha Katering Usai Kena PHK

  • Jadi Pengusaha Katering Usai Kena PHK

Terpaksa berhenti dari pekerjaan karena satu kondisi tak melulu menjadi mimpi buruk. Kepandaian memutar otak untuk tetap bisa mencukupi kehidupan bisa jadi pemecut yang kemudian melahirkan kesuksesan.

Adalah Lynda Permatasari yang membuktikan hal tersebut. Mantan karyawati di sebuah perusahaan fotografi ini kini mereguk untung usai kena PHK.

Uang pesangon yang cukup lumayan dimanfaatkan memulai bisnis katering kecil-kecilan. Tahun berganti tahun, bisnis mulai menggurita dan meraup omzet hingga puluhan miliar rupiah. Jumlah fantastis dan satu bukti kesuksesan bisnis yang patut ditiru banyak orang.

Berikut petikan Lynda berbagi cerita lika-liku hingga usahanya Puspita Sawargi bisa menuai untung besar di kediamannya Bilangan Kalimalang Jakarta Timur.

Awal mula usaha

Usaha Lynda lahir pada saat krisis moneter melanda pada tahun 1999 dan membuat perusahaan tempatnya bekerja bangkrut hingga harus melakukan PHK banyak karyawan. "Kebetulan saya karyawan Polaroid dan termasuk yang terkena PHK. Saya diberikan pesangon Rp 200 juta," jelas dia.

Nah, dengan mengantongi uang Rp 200 juta tersebut Lynda berupaya mencari pundi rejeki lain. Pilihannya jatuh dengan membuka usaha katering. Kebetulan sang bunda pandai memasak. Bersama sang bunda usaha dimulai dari menerima pesanan katering pernikahan dengan budjet murah. 

Bermodal uang pesangon Rp 200 juta, Lynda mulai melakukan persiapan. Ruang tamu dan garasi disulap menjadi kantor untuk melayani pelanggan yang datang memesan. 

Pada awal berdiri, Lynda dibantu 11 pekerja. Lambat laun jumlah pekerjanya bertambah terus hingga kini mencapai 500 orang lebih.

"Kita kalau untuk di office sendiri 40 orang, di pantry sekitar 50, di gudang sekitar 30, dan di lapangan waitress sekitar 500 orang, karena eventnya yang banyak," jelas dia.

 Strategi pemasaran

Memulai usaha dari bawah dan menerapkan strategi jitu membawa Lynda kini mampu menarik pelanggan yang dulunya masih kalangan menengah-bawah, berubah menjadi menengah-atas. Itu terjadi selang 5 tahun terakhir. Para pelanggan tersebut masih tersebar di wilayah Jabotabek.

Tak ingin hanya menunggu pemesan datang, Lynda berupaya melakukan 'jemput bola' agar usahanya dikenal orang. "Jadi kita datang ke gedung-gedung, dulu yang pertama kali yang saya lakukan adalah mencari data di gedung, kemudian kita datangi gedung-gedung di seluruh Jakarta, banyak yang ketemu di gedung kita langsung ambil namanya, kita follow up, kita undang di event kita," kata dia.

Dia pun memberikan contoh makanan buatannya. Tak lupa menggelar presentasi. Strategi ini ternyata berhasil membuat banyak pelanggan mulai berdatangan. Strategi jemput bola masih diterapkan hingga saat ini.

Omzet Usaha

Usaha yang terus membesar, tentu dengan hasil besar pula. Lynda blak-blakan jika dalam 3 tahun terakhir omzet yang diraih mencapai Rp 10 miliar. Itu angka minimal dengan jumlah kontrak hanya 100 event.  "Tapi kan yang pesan tidak hanya 100 (juta rupiah-red), kadang ada yang 200, 250, ada yang 150," terang dia.

Ini yang membuat dia yakin usahanya bisa terus berkembang. Dengan berpatokan pada filosofi selama ada kelahiran berarti akan ada yang mau menikah. Itu pun sejalan dengan ajaran agama Islam yang dianut Lynda.

"Yang penting kita memberi harga yang tidak mahal, kita bisa menjangkau masyarakat baik dari bawah sampai ke atas dengan harga yang tidak terlalu memberatkan mereka, kita memberikan inovasi, kreatifitas dan juga kepuasan kepada pelanggan yaitu jujur," terang dia.

Suka Duka

Bukan usaha jika tak ada aral melintang. Lynda mengaku duka dari membuka usaha adalah saat menghadapi permintaan klien yang setinggi langit.

"Waktu awal-awal saya mendapatkan klien yang luar biasa bawel, banyak permintaannya dengan harga yang tidak mau dinaikkan, tetapi karena kita ingin mendapatkan popularitas dan kepercayaan dari masyarakat, jujur waktu awal  kita mungkin break event point sudah bagus, kalaupun ada kelebihan sedikit kita juga sudah sangat senang," jelas dia.

Namun dia tetap berupaya memenuhi keinginan klien tersebut. Dengan pemikiran jika kepuasan berhasil diberikan memberikan keuntungan lain berupa promosi. Selain orang biasa, klien Puspa Sawargi kini dikenal di kalangan pejabat dan artis. 

Dalam menawarkan jasa katering, Lynda mengaku sangat berhati-hati mempertahankan rasa dan jenis makanan yang beragam. "Boleh di cek di internet atau forum wedding-ku, sampai sekarang empal gentong kita masih juara, dendeng balado kita juga masih juara, lasagna kita juga juara. Memang di bidang menu makanan kita kasih yang berbeda dari yang lain dan rasa yang lebih enak dari yang lain," terang dia.

Tak cuma makanan, masalah dekorasi tak luput dari perhatian. Inovasi dan memperhatikan tren dekorasi dan keinginan pelanggan.

Dia pun berharap ke depan ingin Puspita Sawargi catering tetap eksis di bidang jasa pernikahan.




Sumber : http://bisnis.liputan6.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar