Henry Sy, dari Toko Kelontong hingga Taipan Berharta Rp 253 T

  • Henry Sy, dari Toko Kelontong hingga Taipan Berharta Rp 253 T

Sulit untuk tidak kagum saat mengetahui cerita kesuksesan seseorang yang merintis usahanya dari nol. Termasuk bagaimana seorang Henry Sy menghadapi berbagai tantangan zaman yang dilaluinya.

Mungkin banyak yang tidak tahu siapa itu Henry Sy. Tapi pria asal China ini bisa jadi sangat populer di Filipina dengan kerajaan bisnisnya SM Investment atau SM Group.

Henry merupakan orang terkaya di Filipina dengan total harta mencapai US$ 17,5 miliar atau setara Rp 253,7 triliun (kurs Rp 14.500). Henry bahkan telah menduduki posisi tersebut selama 11 tahun berturut-turut.

Namun yang lebih mengagumkan adalah bagaimana dia menggapai semuanya ini dengan melalui beberapa kali terpaan krisis. Di sini kita akan melihat kisah seorang pria perantau yang berjuang di setiap langkah, hingga akhirnya menjadi orang terkaya di negeri orang.

Henry Sy adalah seorang pengusaha China keturunan Filipina yang memulai karirnya dengan berjualan di toko kelontong yang sederhana. Dari toko kelontong ini, Sy kini memiliki sebuah perusahaan induk bernama SM Prime Holdings, kerajaan bisnis yang mengembangkan pusat perbelanjaan, ritel, real estat, perbankan hingga pariwisata.

Henry Sy telah melewati banyak kesulitan dalam hidupnya. Dia mengalami pasang surut seperti kebanyakan dari kita. Tetapi apa yang membuatnya berbeda dan akhirnya membuatnya sukses seperti yang dia nikmati sekarang adalah dia tak pernah menyerah untuk mengejar mimpinya.

Henry T. Sy lahir pada 15 Oktober 1924, dari keluarga miskin di Jinjiang, Quanzhou, Cina. Orang tuanya adalah Henry H. Sy dan Tan O. Sia. Dia berumur dua belas tahun ketika dia pertama kali tiba di Filipina, bekerja di toko kelontong kecil ayahnya selama lebih dari dua belas jam sehari, setiap hari. 

Toko itu terletak di tempat yang sekarang dikenal sebagai Jalan Carlos Palanca Sr. di Quiapo, Manila. Di toko inilah ia merancang strategi yang akan memberinya keuntungan lebih besar dan membuatnya jadi salah satu pengusaha ritel paling sukses di Asia bahkan dunia.

Ketika Sy datang ke Filipina, Sy kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya di tanah asing, terutama dengan belajar berbahasa Inggris. Selama Perang Dunia II, ekonomi Filipina runtuh dan toko Sy juga sempat terbakar habis. Sy bahkan ditinggal Ayahnya kembali ke Tiongkok saat itu, tetapi dia tetap tinggal di Filipina.

Setelah tokonya terbakar, Sy terus berjualan di jalanan untuk menghidupi dirinya sendiri, dengan kondisi ayahnya tak lagi di sisinya. Bahkan Sy pernah ditembak oleh peluru nyasar di jalanan dan hampir mati kehabisan darah jika tak langsung dilarikan ke rumah sakit saat itu.

Setelah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945, Sy terjun ke bisnis ritel sepatu. Bisnisnya berkembang pesat, membuka lebih banyak toko dengan bermitra bersama teman-temannya. 

Setelah sukses dengan cabang-cabangnya, Sy memutuskan untuk membuka toko sepatu bermerk Shoe Mart (SM). Toko itu juga sangat sukses hingga dia memutuskan untuk membuka lebih banyak cabang lagi. 

Sy kemudian mendiversifikasi barang dagangannya karena adanya keterbatasan pasokan dari supplier. Dia kemudian menjual pakaian jadi dan berbagai barang-barang lainnya.

Dia terus belajar dari orang-orang di sekitarnya. Sampai akhirnya Sy memperluas rantai bisnisnya dengan membuka sebuah department store. Pada titik ini, kemalangan terbesar dalam hidupnya justru datang.

Sy membuka department store pertamanya pada tahun 1972, di masa tengah terjadi darurat militer di Filipina. Akhirnya keadaan semakin sulit dengan ekonomi yang turun, terutama dengan utang Filipina yang ikut menekan hingga terjadinya pembunuhan Ninoy Acquino.

Namun, Henry Sy tak terpengaruh kritik untuk menahan bisnisnya. Dia juga menghadapi krisis Asia 1997 yang membuatnya harus menunda pengembangan bisnis ritelnya. Tapi kini, malnya ada di mana-mana.

Henry Sy telah menunjukkan kepada orang-orang Filipina, bahwa terlepas dari semua kesulitan, dengan ketekunan pada akhirnya semua akan terbayar. Dia telah menyatakan bahwa peluang adalah di mana kita menemukannya, bukan di mana dia menemukan kita. Ini adalah kata-kata yang kita semua dapat jalani, di mana ketika seseorang menemukan krisis, mereka juga justru dapat menemukan peluang. 

Bersama SM Investment, Sy juga telah merambah bisnisnya ke dunia perbankan. SM Group saat ini adalah operator Banco de Oro dan pemilik Chinabank. Pada tahun 2006, Sy membeli PCI Bank, dan pada 2007 menggabungkannya dengan Banco De Oro, yang pada saat itu merupakan pemberi pinjaman ketiga terbesar di Filipina. Dia juga berkecimpung dalam bisnis makanan dan minuman dengan membeli 11% saham San Miguel, sebelum akhirnya menjualnya pada tahun 2005 seharga US$ 680 juta.

Kisah Sy adalah cerita hebat yang kita semua bisa jadikan pelajaran. Bagaimana dia berhubungan dengan pelanggan dan pemasok, dan membuat semuanya bekerja dengan cara bisnis yang luar biasa. Dia adalah orang yang penuh dengan ide-ide hebat yang melihat peluang di segala situasi.



Sumber : finance.detik.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar