Hendi Rachmat Bisnis Antar Barang Pakai Sepeda Beromzet Ratusan Juta

  • Hendi Rachmat Bisnis Antar Barang Pakai Sepeda Beromzet Ratusan Juta

Kemacetan di Jakarta yang semakin hari semakin mengular membuat Hendi Rachmat merintis bisnis Westbike Messenger Service. Bisnis layanan antar menggunakan sepeda dimulainya pada 2013 lalu.

Memulai bisnis kurir sepeda berawal dari kemacetan di Jakarta yang semakin mengular. Sedangkan, kebutuhan akan jasa kirim barang kian hari kian dibutuhkan banyak orang.

Founder dan COO Westbike Messenger Service Hendi Rachmat mengatakan, kurir sepeda menjadi solusi mengantar barang di tengah kemacetan Jakarta. Sepeda bisa menembus kemacetan dan mengantarkan barang ke tujuan lebih cepat dibandingkan jasa kurir lainnya.

"Saya lihat di jalan Jakarta makin macet. Terus kemacetan itu timbul polusi tinggi, lalu ngerasain banget sepeda saat macet nggak pernah kena macet. Kita mikir wah kayanya efektif mengantar dokumen pakai sepeda," ujar Hendi.

Di awal perjalanannya merintis bisnis di 2013, baru ada dua orang rider atau kurir sepeda yang melayani jasa antar barang. Jumlah kurir sepeda pun bertambah setiap bulannya hingga kini mencapai 85 orang.

Perjalanan bisnis Hendi dimulai dari toko sepeda fixie yang berada di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Tren sepeda fixed gear yang meredup membuatnya memutar otak agar tetap bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dari hobinya.

Pada 2013 silam, ojek online belum begitu familiar, sehingga pasar untuk antar dokumen dan barang bisa diambil oleh Westbike Messenger Service. Ia pun memasarkan jasa antar barang menggunakan sepeda melalui sosial media Instagram.

"2013 itu kan sosmed baru booming. Memang dari awal mengkampanyekan jasa ramah lingkungan. Semua promosinya melalui sosmed di Instagram lebih aktif, cepet lah akhirnya viral sosmed," ujar Hendi.

Hendi pun memperkenalkan lagi jasa antar barang menggunakan sepeda yang sebelumnya sudah dipopulerkan oleh PT Pos (Persero) dalam mengantar surat. Namun, populernya layanan ojek online di tahun 2015 membuat jumlah pesanannya juga berkurang.

"2013-2014 waktu kita booming sehari bisa 80-90 paket per hari. Kemudian di 2015 ojek online hadir cukup drop 90% turun karena nggak bisa lawan promosi mereka, kita mau kasih ke anak-anak (rider) berapa," kata Hendi.

Hendi masih ingat betul berapa modal awal yang ia gelontorkan untuk membesarkan bisnis ini. Kala itu, ia merogoh Rp 2,5 juta untuk mencetak tanda terima. Sedangkan, untuk kantor ia menggunakan toko sepeda lamanya.

Setiap harinya, pesanan untuk antar barang atau dokumen melalui Westbike Messenger Service mencapai 5.000 pesanan. Layanan ini juga sudah bisa dinikmati di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Lampung.

Sebanyak 5.000 paket diantar setiap harinya oleh 85 rider menggunakan sepeda dengan jarak beragam. Tujuan paket yang diantar pun pada umumnya di daerah perkantoran yang sangat mudah diakses oleh pesepeda.

"Sudah 85 rider udah ada di Bandung, Surabaya, Medan dan Lampung," kata Hendi.

Di tahun kelima bisnisnya, Hendi sudah berhasil mengantongi omzet hingga Rp 250 juta. Ke depannya, ia juga berencana melakukan ekspansi bisnis ke kota lain.

"Per bulan sekarang sudah Rp 250 juta udah jadi bisnis serius sejak 2016 tadinya main-main kemudian di 2016 jadi PT, jadi badan hukum," tutur Hendi.

Westbike Messenger Service juga berencana merilis sepeda kargo agar mampu mengantar lebih banyak barang. Untuk mengembangkan bisnis ke depan, ia juga membuka peluang bagi investor untuk masuk menanamkan modalnya.

"Kalau rencananya sih bergerak ke daerah-daerah lain penginnya sama JNE nasional di Indonesia. Kalau penambahan internal ada kita namanya mau keluarin produksi sepeda kargo, sepeda keranjang lebih gede di depan sama lagi nunggu bapak angkat, investor," kata Hendi.



Sumber : finance.detik.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar