Gagal bisnis bakso, Rizka raup Rp 25 juta per hari di bisnis kue

  • Gagal bisnis bakso, Rizka raup Rp 25 juta per hari di bisnis kue

Tekun menjalani usaha disertai dengan kerja keras tentu akan membuahkan hasil yang maksimal. Itulah yang diyakini Rizka Wahyu Romadhona, pengusaha lapis dengan merek Lapis Sangkuriang di Bogor, Jawa Barat.

Menjadi produsen kue lapis sejak 2011, kini Rizka mengantongi omzet ratusan juta dari bisnisnya ini. Dalam sehari, dia rutin memproduksi 1.000 kotak kue lapis. Bentuk kuenya sendiri kotak seukuran batu bata.

Untuk memproduksi kue sebanyak itu, Rizka menghabiskan bahan baku berupa talas yang merupakan sayuran khas Bogor. Bermula skala produksinya masih sangat kecil.

"Modal awal saya hanya Rp 500.000," ujarnya.

Untuk membantu bisnisnya, awalnya Rizka hanya dibantu suami. Kendati serba terbatas, dia tetap optimis bisnis kue lapisnya bakal berkembang. Rizka pun mengaku tak pernah menyerah meski banyak tantangan menanti di depan mata.

Kesuksesan Rizka tidak datang begitu saja. Dia juga mengaku sempat gagal. Kegagalan itu dialaminya saat mencoba berdagang bakso. Saat itu profit penjualan baksonya tak berumur panjang. Alasannya banyak mitra yang nakal dengan mencampur baksonya dengan bakso lain sehingga mengurangi kualitas rasa baksonya.

"Dulu usaha bakso kami bangkrut selama tiga tahun," ungkapnya.

Seiring dengan waktu, jerih payahnya ini baru membuahkan hasil setelah dua tahun menekuni usaha. Permintaan terhadap kue lapis buatan Rizka terus meningkat. Sejak itu, bisnis kue lapis ini berkembang dengan pesat. Kini, dia mempekerjakan sebanyak 20 karyawan. Dia juga sudah membangun rumah produksi sendiri di Bogor.

"Sekarang kami memproduksi seharinya 1.000 box kue lapis, dengan harga Rp25.000 per box," jelas dia.

Gerai Lapis Sangkuriang yang terletak di Jalan Pajajaran, Bogor tak pernah sepi. Hampir sepanjang waktu, pengunjung menjejali gerai yang menjual kue lapis.

"Kalau lagi penuh pengunjung antri hingga dua jam, untuk itu kami gunakan sistem nomor antrian biar sama-sama enak, kasirpun tidak kelabekan dan pembeli pun merasa enak," ungkapnya.

Rizka juga aktif mengikuti pameran yang diselenggarakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Ini dilakukannya untuk menginspirasi kualitas produknya sehingga mempunyai ciri khasi yang lekat dengan Kota Bogor. "Pameran paling sering di Jakarta," tutup dia.




Sumber : merdeka.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar