GADIS 23 TAHUN INI RAIH OMZET BELASAN JUTA DARI USAHA SEPATU HANDMADE

  • GADIS 23 TAHUN INI RAIH OMZET BELASAN JUTA DARI USAHA SEPATU HANDMADE

Beberapa tahun terakhir sepatu handmade menjadi primadona di kalangan anak muda khususnya wanita. Mereka yang menginginkan sepatu bernilai seni, eksklusif, namun dengan budget terjangkau, mencari sepatu handmade. Peluang itu pun dimanfaatkan oleh Lilis Maryati dengan mendirikan usaha sepatu handmade berlabel Limaryshoes.

Lilis termasuk generasi awal yang melihat peluang bisnis sepatu handmade ini. Perkembangan internet yang sangat pesat berhasil ia baca sebagai peluang besar. Ia pun memasarkan produk sepatunya secara online melalui media sosial seperti twitter dan instagram.

Berkat kegigihannya, di tahun keempat ini Lilis sudah mampu memproduksi rata-rata 60 pasang pesanan sepatu per bulan. Omzetnya pun kini mencapai belasan juta rupiah. Dan yang paling penting bagi Lilis, kebanyakan dari pemesannya merupakan loyal customer. Ia meraihnya saat online shop lain jarang mendapat repeat order. Salah satu keberhasilannya.

Rahasia sukses Limaryshoes ternyata tak jauh dari pribadi hangat seorang Lilis. “Rahasianya hanya passion. Itu saja. Semula hanya menyenangi sepatu, lalu mencoba produksi sendiri, ketagihan terus mencoba menjualnya,” ujar gadis 23 tahun ini. Kalau sudah menjadi passion, lanjutnya, jalannya terbentang lebar, ibarat sudah ada pijakan dari Tuhan dan tinggal mengikutinya saja.

Modal Kepercayaan

Di saat anak seusianya sibuk bermain, Lilis remaja sudah iseng membuat banyak sekali desain sepatu. Berselamg tahun, ia mencoba wujudkan desainnya dengan mencari tenaga ahli. Baginya mencari tenaga ahli yang mempunyai kemampuan sekaligus dapat dipercaya sangat sulit. Ia pun sempat mendatangi banyak tukang sepatu sebelum akhirnya bertemu Rubiyanto.

Bermodal kepercayaan, Lilis pasrahkan pembuatan sepatu pada Rubiyanto yang sudah 17 tahun lebih bergelut dengan produksi sepatu. Sementara itu Lilis lah yang memilih bahan, mendesain, membuat pola, dan melakukan kontrol kualitas.

Rubiyanto sendiri mengaku awalnya tak langsung bisa memenuhi keinginan Lilis. “Biasanya kan saya membuat sepatu resmi. Kenal Mbak Lilis mau tak mau harus belajar membuat wedges, clog, heels dan lainnya. Mbak Lilis dengan sabar mengajari saya,” ungkap Rubiyanto di rumahnya di Kampung Cenderejo, Gilingan, Banjarsari, Solo.

Sementara produksi dikerjakan di Cenderejo, display dan penjualan Limaryshoes dipusatkan di dekat sebuah universitas swasta di perbatasan Solo-Sukoharjo. “Saya ingin sekali buka toko offline. Nah, karena target pasar Limaryshoes itu anak muda, saya mencicil punya gudang di dekat universitas dulu,” ungkap Lilis.

Diskusi dengan Sesama Penyuka Sepatu

Hal lain yang membuat Lilis senang dengan usaha ini adalah Limaryshoes mampu mempertemukannya dengan sesama penyuka sepatu, yang tak lain adalah customernya. Berkat usahanya itu ia sering berdiskusi dengan para customer mengenai fashion yang tengah berkembang, bahan sepatu yang bagus, dan lain sebagainya. Tak jarang ia dapat masukan dan ilmu baru dalam menjalankan usaha.

Setali tiga uang, kebanyakan customer merasa senang karena dilibatkan. Keterbukaan Lilis ternyata mampu membuat produk Limaryshoes benar-benar eksklusif di mata customer. “Berdiskusi dengan customer juga meminimalisir komplain. Gak percaya? Dicoba saja,” ujarnya Lilis.

Saat ini sepatu Limaryshoes buatan Lilis dibandrol dengan harga bervariasi berkisar ratusan ribu rupiah. Modelnya pun beragam mulai dari boot, heels, platform, clog, hingga flatshoes. Ia juga tengah membuat inovasi couple shoes khusus bagi pasangan yang ingin kembaran memakai sepatu.

Ditanya soal masa depan, Lilis mengaku sangat senang bila ia bisa membuat lebih banyak sepatu lagi, entah dari idenya sendiri maupun diskusi dengan customer. “Tak ada yang lebih menyenangkan dari mewujudkan desain sepatu menjadi kenyataan,” tutupnya sambil tersenyum.





Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar