Fatimah, Raih Ratusan Juta Per Bulan dari Kuliner Khas Palopo

  • Fatimah, Raih Ratusan Juta Per Bulan dari Kuliner Khas Palopo

Bisnis kuliner memang menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat, bisnis ini merupakan salah satu bisnis yang tidak akan punah, pasalnya kuliner menjadi kebutuhan pokok semua orang. Di masa sekarang ini tak sedikit dari kita yang tidak mau direpotkan untuk membuat makanan sendiri di dapur, sehingga mereka lebih memilih untuk membeli.

Apalagi sekarang ini bisnis kuliner sudah banyak digandrungi dan persaingannya, dari situ para pebisnis dituntut terus memberikan pelayanan terbaik dan rasa yang memikat para pecinta kuliner.

Seperti halnya Pemilik Rumah Makan Kapurung Kasuari St Fatimah yang mampu memperoleh omzet hingga ratusan juta rupiah per bulan, dari bisnis kuliner khas Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel).

"Perhari rata-rata kami dapat memperoleh omzet sekitar Rp8 juta," kata St Fatimah yang ditemui di Makassar.

Ini berarti dalam sebulan, ia dapat meraih omzet hingga sekitar Rp240 juta.

"Pendapatan bersihnya sekitar 40 persen sampai 50 persen dari total omzet," ujarnya.

Beberapa menu andalan yang ditawarkan Kapurung Kasuari, diantaranya adalah Kapurung, makanan yang bahan utamanya adalah sagu dengan kuah sayur yang segar, dan pilihan taburan lauk ayam, udang, atau ikan.

Selain itu juga ada Barobbo,' makanan semacam sup jagung tradisional, dengan campuran sayur dan taburan ayam atau udang.

Di rumah makan yang terletak di Jalan Kasuari ini, pengunjung juga dapat menemukan Pacco' yang terbuat dari irisan ikan mentah, cabai, mangga, disiram dengan cuma dan perasan jeruk nipis, yang memberikan rasa pedas dan segar.

Ada pula Lawa' yang terbuat dari irisan ikan mentah, jantung pisang, kelapa sangrai, cabai, dan perasan jeruk nipis.

Lawa' dan Pacco' adalah jenis makanan yang cukup sulit ditemui di rumah-rumah makan di Makassar.

St Fatimah mengatakan bahwa salah satu hal penting yang harus dijaga adalah memastikan semua makanan yang dihidangkan terbuat dari bahan yang segar.

"Setiap hari kami mendatangkan sagu baru dari Palopo, sayuran, dan bumbu-bumbu yang lain juga dipastikan segar, dan untuk bumbu-bumbu khusus khas Palopo, kami datangkan langsung dari Palopo," jelasnya.

Menurut St Fatimah, awalnya agak sulit baginya untuk menjalankan bisnis ini. Dengan modal awal sekitar Rp40 juta, ia baru mencapai titik impas sekitar dua tahun setelah usaha ini berjalan.

"Awalnya agak sulit, karena orang belum kenal, tapi setelah dikenal, orang mulai ramai berdatangan," tuturnya.

Kini, ia mampu mempekerjakan sekitar 15 orang pekerja, yang direkrut langsung dari Kota Palopo.

"Kami melakukan pengadaan kembali peralatan setiap dua tahun," imbuhnya.

Meski cukup sukses, ia mengatakan pihaknya belum berminat untuk membuka cabang usaha.

"Banyak yang menawarkan untuk kerja sama, tapi kami belum berminat, khawatirnya jika membuka cabang, kualitasnya tidak terjaga dan berdampak ke unit usaha utama," pungkasnya.




Sumber : ayopreneur.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar