DULU PUNGUT BUNGA DI JALANAN, KINI BISNIS BUNGA KERING SAMPAI JERMAN

  • DULU PUNGUT BUNGA DI JALANAN, KINI BISNIS BUNGA KERING SAMPAI JERMAN

Bingung mencari ide bisnis? Coba lihat seksama apa yang ada di sekitar Anda. Seperti yang dijalani Asri Kardha dan keluarganya, yang melihat potensi bunga-bunga berserakan di jalanan. Kini keluarga ini sukses dikenal sebagai perajin bunga kering, dan produknya mampu memikat hingga konsumen di Jerman.

“Sekitar tahun 1998, ketika bepergian ke mana-mana, kami sekeluarga sering tiba-tiba berhenti kalau melihat bunga liar, biji, buah atau ranting tanaman berserakan. Kami memungutnya dan dibawa pulang. Sampai di rumah kami rangkai menjadi hiasan bunga kering,” ujar Asri Kardha, pelaku bisnis bunga kering di kawasan Renon, Denpasar, Bali.

Tak disangka, berawal dari memungut bunga liar di sepanjang perjalanan ini, belakangan malah melahirkan inspirasi bisnis bunga kering dengan bahan baku dari alam. Seperti, buah lamtoro, pelepah pinang, buah teratai, dahan cemara, buah pinus, buah bintaro dan masih banyak lagi.

Menuai Banyak Anugerah Penghargaan dari Bahan Sampah

Proses membuat bunga kering ini tidak tergolong rumit, namun memerlukan kesabaran. Mulai dari proses penjemuran, perendaman bahan kimia agar bersih, dan kembali dijemur sampai benar-benar kering. Setelah itu, baru bahan baku siap dirangkai menjadi rangkaian bunga kering yang menawan.

“Memang kerajinan ini menggunakan bahan sampah. Tapi setelah dirangkai kemudian menjelma menjadi rangkaian bunga yang cantik. Ketika kami berjualan pada even Pesta Kesenian Bali (PKB) pada tahun 2001, semua stok bunga kami ludes terjual. PKB berlangsung sebulan, tapi hanya dalam waktu dua minggu, kami kehabisan rangkaian bunga untuk dijual,” ujar putri dari Wayan Sutedja Kardha dan Diyah Yudiasriani.

Dengan mengusung nama ‘Indah Asri’, usaha ini kemudian berkembang seiring partisipasi dalam berbagai even pameran. Tak berselang lama, produk rangkaian bunga Indah Asri kemudian dikenal masyarakat dan sering dipesan berbagai hotel untuk dekorasi ruangan.

Bahkan, tidak hanya konsumen dari wilayah Bali yang tertarik pada rangkaian bunga Indah Asri, sejumlah pembeli dari Jerman pun dibuat jatuh hati. Umumnya konsumen dari Jerman ini memesan bunga dengan warna yang lembut, sesuai karakter tanaman di alam.

Sayangnya, ketika sempat terjadi krisis ekonomi di Eropa, permintaan dari pembeli Jerman sempat terhenti. Namun, Asri Kardha bertekad untuk menjajaki kembali pasar luar negeri agar pemasaran usahanya lebih meluas.

“Harga yang kami tawarkan relatif terjangkau dan variatif. Mulai Rp75 ribu hingga Rp2,75 juta. Disesuaikan dengan desain dan penggunaan bahan baku. Permintaan masih stabil, dan semoga ke depan bisa menjangkau konsumen yang lebih banyak lagi,” ucap alumnus Fakultas Pertanian-Universitas Udayana ini.

Menghadapi persaingan pada era perdagangan bebas, Asri Kardha mengaku tidak gentar menghadapi pebisnis dari negara tetangga. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kekhasan bahan baku yang berbeda. Misalnya, jika di Bali banyak dijumpai buah pinus, maka di tempat lain belum tentu ada.

Selain itu, ucap dia, setiap produk karya masing-masing orang, pasti memiliki ciri khas tersendiri. Terkait dengan ini, maka dia rajin membuat model rangkaian bunga yang baru dan inovatif agar konsumen tidak jenuh. Inspirasi membuat rangkaian bunga, bisa berdasarkan pesanan konsumen, atau berdasarkan tren yang sedang berkembang. Meski mengikuti tren, tentu saja gaya rangkaian bunga ini tetap memiliki pakem produk Indah Asri.

Berkat konsistensi menekuni bisnis bunga kering, maka Asri Kardha berkali-kali meraih penghargaan. Meliputi UKM Kreatif 2010 – Wali Kota  Denpasar, PKBL BUMN Award 2011, Mitra Binaan Terbaik Nasional  kategori industri kreatif 2011, Wanita Wirausaha kategori kerajinan  bunga kering 2011 dan beberapa penghargaan lainnya.



Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar