DULU BELAJAR OTODIDAK KINI PRODUKSI MINIATUR TUGU PONTIANAK

  • DULU BELAJAR OTODIDAK KINI PRODUKSI MINIATUR TUGU PONTIANAK

Mengawali usahanya pada tahun 2009, awalnya Yudhy yang mengikuti pameran di Yogya Expo di Mall Ambarukmo, Yogyakarta, berkenalan dengan seorang pelaku UKM asal Yogyakarta yang membuat miniatur perahu dari bahan kain flannel. “Miniatur itu ia masukkan ke dalam sebuah botol kaca bening, dengan tali kawat dan benang,” tuturnya.

Yudhy yang kala itu membawa produk berupa miniatur Tugu Khatulistiwa dan miniatur meriam karbit dikemas dalam media kotak kaca, terkesan dengan kerajinan orang Yogyakarta tersebut yang dikemas dalam botol kaca.

Singkat cerita, Yudhy belajar secara otodidak saat di pameran itu. Lantas, sepulangnya ke Kalimantan Barat Ia mencoba membuat miniatur tugu khatulistiwa dengan membelah bagian bawah botol kaca bekas sirup dan saos lalu direkatkan kembali dengan lem khusus dan ditutup dengan benang dari karung goni. Dan saat mengikuti pameran INACRAFT Mei 2016 silam di Jakarta, Yudhy bertemu kembali dengan teman lamanya dari Yogyakarta yang pernah mengajarinya dulu.

Sekarang ini produk yang dihasilkan oleh “Mitra Meriam” nama brand milik Yudhy berupa miniatur tugu khatulistiwa, miniatur meriam karbit, serta patung dayak dari bahan resin atau fiber. “Patung Dayak dari bahan resin saya buat sejak 2013 silam,” jelas Yudhy. Khusus pembuatan miniatur dengan media botol kaca, dalam waktu satu hari Yudhy hanya bisa menghasilkan sepuluh buah produk.

Seiring dengan pertumbuhan bisnis kerajinan miniatur tersebut, kini produk karya Yudhy juga diditipkan di Galeri Dekranasda Kota Pontianak dan Galeri Kota Pontianak di Rumah Radakng. Dengan harga jual produk buatannya mulai Rp 25.000-Rp 1,5 juta, omzet per bulan yang ia peroleh sekitar Rp 5 juta.

Selain membuat miniatur kerajinan khas Kalbar, Yudhy juga mempunyai usaha percetakan yang bertempat di lantai II rumahnya. Pameran yang pernah ia ikuti mulai dari Pontianak, Surabaya, Yogyakarta, Palangkaraya, hingga Jakarta. Yudhy juga pernah menitipkan prodduknya ke pameran di Batam dan Kuching, Sarawak, Malaysia.

Kendala yang Dihadapi

Yudhy merasakan kendala yang dihadapi para pelaku UMKM ketika hendak mengajukan pinjaman di bank, mereka harus menyertakan agunan berupa sertifikat rumah. Selain itu, pemasaran masih skala lokal.

“Tiap rumah di Pontianak belum tentu ada miniatur Tugu Khatulistiwa. Beda dengan di Jawa Tengah yang mana hampir setiap rumah pasti ada miniatur Candi Borobudur” ujarnya.

Produk kerajinan khas Kalbar karya Yudhy dititipkan di Toko Oleh-Oleh kawasan PSP. Produknya juga pernah dibeli oleh Kkonsulat Malaysia di Kalbar untuk dijadikan souvenir. Ke depan, Yudhy ingin menitipkan produknya di hotel-hotel di Pontianak. Yudhy juga berkeinginan membuat hiasan lampion yang dikombinasikan dengan kain Corak Insang khas Pontianak.

Yudhy mengakui, ia juga pernah membuat miniatur Tugu Khatulistiwa dari bahan fiber yang ternyata gagal. Setelah di cek, ternyata aluminium yang merupakan bahan utama membuat kepala tugu mengandung unsur minyak, sehingga ketika dicor, produknya retak dan akhirnya pecah.

Selain itu, ia juga pernah membuat miniatur Meriam Karbit yang dipaksa masuk ke dalam botol dan hasilnya tidak bagus. Maket perahu lancang kuning dan miniatur rumah adat melayu juga beberapa dari produk buatannya yang gagal karena proses pengerjaannya yang rumit, terutama membuat miniatur rumah adat melayu.




Sumber : bisnisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar