Dari Pelayan Jadi Juragan

  • Dari Pelayan Jadi Juragan

Nasib manusia ibarat roda yang berputar. Ada kalanya susah, disusul masa bahagia, selanjutnya kembali menderita. Ini sudah umum. Tapi ada nggak ya orang yang hidupnya berujung dengan kebahagiaan den nggak pernah lagi susah? Ada, tapi tidak banyak. Dan mungkin salah satu sosok yang beruntung itu adalah Suyat Martowiyono, Presiden Direktur PT Entertainment International, Tbk.

Dalam dirinya, kebahagiaan bukan terletak pada seberapa besar seseorang berlimpah harta benda, melainkan sejauh mana dia bisa membagikan pengalaman dan pengetahuan hidupnya kepada generasi sesudahnya.

Pria yang sangat mahir bercakap dengan bahasa Prancis dan Jepang ini, di jagat waralaba juga dikenal sebagai 'engineer' restoran. Maju tidaknya restoran, ujarnya, kuncinya terletak pada para pekerja yang penuh dedikasi den selalu mengutamakan kemajuan.

Suyat paham betul mengenai bisnis yang satu ini. Dia bilang bahwa restoran seharusnya bukan lagi dilihat semata-mata sebagai aset mendulang keuntungan. Tapi sekaligus berfungsi sebagai tempat menimba ilmu den persaudaraan.

"Saya sudah terbiasa dengan total customer satisfaction service. Hasilnya sangat luar biasa untuk sebuah kemajuan bisnis. Hal-hal seperti ini yang perlu kita tularkan kepada mereka yang ingin maju," terang pria paruh baya ini.

Meski menyandang posisi nomor wahid di grup perusahaan waralaba itu, Suyat tetaplah orang Wonogiri yang akrab dengan kesederhanaan. Kasta pekerja atau direktur seolah melebur menjadi entitas tunggal di 'rumah' itu.

Karena itu dia berani bilang kalau PT Eatertainment adalah perusahaan milik bersama, tak ada monopoli atau pemegang mayoritas. Prinsipnya dikelola bersama, tumbuh den besar bersama, demi kesejahteraan bersama.

"Saya hanya orang yang kebetulan dipercaya para pemegang saham menjadi Presdir, mengingat saya sudah bekerja di sini selama 23 tahun sejak 15 Agustus 1983," kata lelaki 59 tahun ini menyampaikan alasannya.

Tiga puluh tujuh tahun lalu, Suyat tak pernah berpikir menjadi Presdir. Terlintas pun tidak. Pokoknya, selepas jebol dari sebuah sekolah perhotelan di Bandung (NHI), dia harus kerja cari uang. Titik. Awal bekerja, Lelaki berputra tiga ini terdampar di Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, sebagai pelayan. Biar rada keren, kata 'pelayan' kita ganti dengan istilah Bar Waiters saja. Jabatan itulah yang dia sandang pertama kali.

Entah kenapa, keberuntungan sudah mendampingi pria yang saat itu masih melajang. Dari situ, dia langsung dipindahkan ke Oasis Restoran, den naik posisi sebagai Bartender, di sebuah hotel di bilangan Raden Saleh Jakarta.

Pangkat Suyat terakhir di sana adalah sebagai tukang ngicipin wine. Pada 1972-1976 posisi Suyat makin empuk. Dia dipercaya sebagai Kepala Bartender (head bartender) di Presiden Hotel (sekarang Hotel Nikko).

Tahun 1980, dia meloncat lagi ke Sari Pan Pacific dengan posisi terakhir sebagai Bar Manager. Di situ, dia sempat belajar bar management di Hawaiian Regent Hotel, Honolulu.

"Sebelum pulang ke Jakarta, saya training di Ginza Tokyu Hotel Tokyo selama satu bulan," tambah pria yang menikahi Suti, gadis Gunung Kidul, pada 1981.

Akhirnya karir pria sawo matang ini makin meroket. Pada 1980-1983 dia terbang ke negeri eksotik, Abu Dhabi. Lagi-lagi sebagai Bar Manager di Le Meridien. Seolah tak ingin membuat malu keluarga dan kampung halamannya, di sana dia bekerja keras.

Akhirnya gelar Manager of The Year disabet juga. Anugerah ini nggak main-main. Sebagai pekerja asing, dia harus bisa bekerja sama dengan 16 negara di hotel itu. Bonusnya, dia berhak menghadiri ultah Le Meridien di Paris selama tiga minggu.

Sekembalinya dari Abu Dhabi, Suyat pulang ke Tanah Air dan bergabung dengan Ponderosa Group, yang kala itu ditukangi oleh Ron Mullers. Waktu itu, dia mau menerima tawaran sebagai Beverage Operation Manager.

Di perusahaan itu, pria ini menuntaskan perjalanan karirnya. Akhirnya, Suyat berada di jajaran manajemen tingkat atas. Bersama rekan-rekannya, Suyat berhasil mendirikan PT Setyamandiri Mitratama Tbk.

Meski kala itu Setyamandiri sudah melantai di Bursa Efek Surabaya (BES), tapi agar larinya secepat jaguar, maka pada November 2004, perusahaan itu berubah menjadi PT Eatertainment International Tbk. (PT Eatt). Tentu saja setelah mengantongi restu dari Depkeh dan HAM.

Di bawah tanggung jawabnya, PT Eatt kini berhasil mengelola beberapa perusahaan franchise lokal yang siap go international. Antara lain Papa Rons Pizza dan Amigos restoran Meksiko. Dia menegaskan bahwa dalam waktu dekat, restoran-restoran itu akan hadir di Timteng, Kep. Guam dan Saipan, di tengah Samudera Pasifik.

Bukan Suyat kalau dia sampai lupa membalas kebaikan budi karyawannya. Dia sadar betapa berat tanggung jawab yang dipikul para karyawannya.

"Saya merasa I am nothing. I am big because of the employees. Sebab, saya dulu juga seperti mereka. Tanpa mereka, perusahaan tidak ada artinya," kata lelaki yang bertanggung jawab mencukupi hajat hidup hampir seribu orang karyawan ini.

Sehubungan dengan hal itu, terbesit keinginan dia dan rekan-rekannya untuk memberikan ESOP (Employee Stock Option Programme) atau saham untuk karyawan. Tampaknya, rencana ini demikian serius. Di penghujung bulan Mei 2006, rencana tersebut akan dibahas dalam RUPS.

Memang tidak ada ketentuan pasti kalau karyawan boleh memegang saham perusahaan. Bahkan, ada perusahaan di Jakarta yang ramai-ramai ingin menjual saham karyawannya.

Tapi sang Presdir punya pandangan lain bahwa saat ini tak ada lagi batas antara perusahaan dan karyawan. "Kami merupakan sebuah family, dan I am taking care of them. Mereka tidak lagi melihat saya sebagai dirut, tapi sayalah yang menjadi bagian dari mereka," tuturnya diplomatis.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar