Dapat SMS Nyasar, Kini Sukses jadi Pengusaha Roti

  • Dapat SMS Nyasar, Kini Sukses jadi Pengusaha Roti

Peluang bisnis bisa datang dari momentum tak terduga. Seperti halnya yang dialami Pengusaha Roti, Monica Harijati H, owner Monique Bakery. Perempuan yang pernah menjabat manajer perusahaan real estate tersebut, mengaku tak pernah membayangkan menekuni bisnis kuliner.

“Saya sejatinya sudah lama berkecimpung di handycraft, khususnya clay,” ucap Monica Harijati saat ditemui enciety.co di kediamannya Jalan Darmo Indah Selatan FF 26, Surabaya. Rumah itu selain dihuni Monica bersama keluarganya juga ditempati sebagai workshop.

Lantas, bagaimana kisah hingga Monica kepincut menekuni bisnis roti?

Ceritanya Februari 2012. Ketika itu, Monica saya mendapat SMS nyasar dari fungsionaris Pahlawan Ekonomi (PE) Surabaya, sebuah asosiasi yang concern memberdayakan usaha mikro kecil (UMK). Isi SMS terkait undangan pelatihan kuliner.

“Sebenarnya saya agak bertanya-tanya, kok isi SMS-nya itu (mengajak) saya ikut memasak?” tutur Monica. Ia mengira SMS tersebut salah alamat. Karena memang ikut PE Surabaya, namun di bidang handycraft. Bahkan ia pernah menyabet Juara I Kategori Home Industry.

Namun tak lama, ia mendapat SMS lagi. Isinya sama, undangan untuk mengikuti pelatihan memasak. Lantaran tak sabar, ia pun menunjukkan itu kepada suaminya. “Pa, kok aku dapat undangan pelatihan memasak dari Pahlawan Ekonomi?” kata Monica.

Sang suami pun hanya tersenyum seraya berucap, “Mungkin itu sudah jalan-Nya, Ma. Jalani dan ikuti saja,” kata Monica menirukan ucapan suaminya.

Monica lalu memutuskan untuk mengikuti pelatihan memasak itu. “Saya pikir, nggak apalah. Toh, itung-itung saya juga ingin pengalaman baru,” cetus dia.

Setelah ikut demo dan pelatihan masak, Monica akhirnya mengerti soal bumbu-bumbu. Ia juga bisa bikin kue. Monica ingat betul, saat menghadap Lukman Hakim, juri Pahlawan Ekonomi Surabaya yang juga salah satu pendiri Surabaya Hotel School (SHS). Ketika itu, ia membawa roti yang dibeli dari brand terkenal di Surabaya. Dia bilang ke Lukman,”Pak, tolong saya diajari membuat roti seperti ini”. Lukman Hakim menjawab, “Iya Bu, nanti kita ajarkan.”

Juni 2012, Monica diajari cara membuat roti oleh Chef Muawal sama Chef Eko,(keduanya juri Pahlawan Ekonomi Surabaya. Monica membuatnya dengan memakai tangan karena waktu itu ia tidak punya mixer. Saking seringnya ngoleni, telunjuk dan jempolnya menjadi kasar. Bahkan, beberapa kali tangannya keseleo.

Setelah jadi, kue-kue hasil buatannya dikritik suaminya. “Suami saya yang ikut bantu ngoleni sering protes. Katanya kurang empuk lah, kurang bagus lah,” imbuh dia.

Kritik suaminya itu ternyata menjadi cambuk baginya. Ketika kue dipasarkan, eh hasilnya keras. Tidak bagus. Kue-kue kurang diminati pembeli. Pagi hingga sore, tak banyak yang membeli rotinya. Monica tak patah arang,  Ia lantas jual murah, seribuan dan laku. “Itung-itung buat ganti ongkos produksi saja. Tidak mubazir,” ujarnya.

Pengalaman itu membuat Monica belajar. Pelan tapi pasti ia mencoba berbagai resep. Membuat roti kemudian dicicipi. Tak terhitung berapa kali ia mencobanya. Hasilnya lama-lama menjadi bagus. Rotinya empuk dan lezat. Ketika dilempar ke pasar, pembelinya banyak. Mayoritas pembeli berkomentar rotinya enak. Enam bulan produksi, Monica bisa beli oven besar dari hasil menjual roti di 10 tempat.

Kini, roti buatan Monica sudah banyak dipasarkan di beberapa gerai dan mal. Order dari berbagai instansi juga membanjir. Beberapa pengecer juga kerap antri di rumahnya untuk membeli roti buatannya.

“Kalau sekarang roti saya diujikan dengan roti merek terkenal, saya berani karena hasilnya bagus,” ujar Monica optimistis.

Monica juga membagi tips membuat roti kepada teman-temannya di PE Surabaya. Dia bilang yang penting membuat kue saat meng-oven. Ia belajar pakai oven kecil ditaruh di atas kompor, hanya dapat diisi empat roti sampai antre beberapa jam. Jadi, kalau satu resep satu 1 kg jadi 30 biji itu butuh waktu beberapa jam.


Sumber : enciety.co


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar