Butuh Uang Jajan Tambahan Saat Kuliah Jadi Alasan Anggun Berbisnis 13th Shoes

  • Butuh Uang Jajan Tambahan Saat Kuliah Jadi Alasan Anggun Berbisnis 13th Shoes

Merancang dan memulai bisnis bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti yang dialami Anggun Citra Wulandari (26). Anggun tidak menyangka bila dirinya saat ini menjadi salah satu pebisnis sukses di bidang fashion yaitu menjual sepatu khusus wanita.

Anggun mencoba bercerita tentang awal mula ia menekuni bisnis penjualan sepatu khusus wanita. Menurut dara kelahiran 9 April 1990 itu, bisnisnya ini dimulai sejak masa kuliah tepatnya di tahun 2009. Anggun sendiri menempuh pendidikan di jurusan Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika, Telkom University, Bandung.

“Memulai bisnis ini sebenarnya pada tahun 2009. Awalnya itu pas aku lagi kuliah, masalah utamanya karena kepentok masalah uang jajan sih. Aku mikir bagaimana caranya dapat uang jajan lebih,” kata Anggun.

Anggun menjelaskan ia mulai mencari cara bagaimana bisa mendapatkan tambahan uang jajan. Kemudian ia iseng-iseng mengunjungi salah satu mal di kota Bandung, Jawa Barat.

“Lalu pada akhirnya pas aku lagi jalan di salah satu mal di Bandung, aku ketemu salah satu toko sepatu yang menjual sepatu handmade (buatan tangan)Dijual dengan harga yang lumayan murah sekitar Rp 70-80 ribu per pasang,” tambahnya.

Setelah itu Anggun kepikiran membeli sepatu tersebut dan kemudian mencoba menjualnya kembali kepada teman-temannya. Di lain sisi, belanja sepatu di mal adalah hobi Anggun sejak lama.

“Nah dari situ aku mikir mau coba jualan ke teman-temen SMA yang di Jakarta. Dulu aku jadi reseller dan sistem pembayarannya pre order. Belum terlalu mikir gimana gitu. Yang penting ada uang jajan saja,” ucapnya.

Kemudian ia memberanikan diri menjual kepada temannya. Tidak disangka, justru banyak teman-temannya yang suka dengan jenis sepatu yang Anggun jual. Akhirnya Anggun benar-benar mendapatkan tambahan uang jajan dari usaha jualan sepatu.

Bisa mendapatkan keuntungan bikin Anggun keranjingan. Anggun lalu aktif mempromosikan seluruh jenis sepatu yang ia beli dan bakal dijual melalui media sosial Facebook miliknya.

“Aku menggunakan media Facebook waktu itu dan akhirnya nggak hanya temen SMA aku saja yang minat dengan produknya, tapi ada orang lain juga. Bahkan mereka trust ke aku. Aku pun semakin tertarik dan termotivasi lagi untuk menggeluti jualan sepatu,” jelasnya

Menawarkan Sepatu Buatan Tangan Pengrajin Cibaduyut

Anggun semakin giat menampilkan berbagai sepatu wanita miliknya di Facebook. Alhasil, banyak orang yang semakin tertarik membeli dan memesan. Hanya saja saat itu, produk sepatu wanita yang dijual Anggun masih terbatas sehingga ia harus mencari cara lain.

“Lalu kemudian aku nanya orang tuaku yang memang asli Bandung terkait pembuatan sepatu di Cibaduyut. Akhirnya aku ke Cibaduyut dan menemukan satu tempat sepatu yang memang sesuai dengan selera dan harapan aku,” tuturnya.

Di Cibaduyut, Anggun mulai memesan sepatu ke salah satu pengrajin yang ia pilih. Desain dan ukuran dibuat sesuai dengan pesanan dan permintaan dari pelanggan Anggun. Saat menekuni usahanya ini, Anggun mengatakan ia sama sekali tidak mengeluarkan modal.

“Akhirnya aku pakai mereka (pengrajin di Cibaduyut), dimulai dari PO (Pre Order) karena nggak ada modal. Nah kalau PO itu kan DP (Down Payment) 50%,” ungkapnya.

Lewat cara ini, pelan-pelan hasil penjualan dari sistem PO Anggun kumpulkan dan dijadikan modal. Modal tersebut akhirnya terbentuk dan Anggun mulai membeli beberapa aset produksi seperti mesin cetak sepatu, sewa tempat hingga merekrut beberapa pengrajin sepatu.

“Pelan-pelan dari modal itu pun aku beli aset, beli ini dan itu buat menunjang usaha aku. Hingga akhirnya aset mereka beralih ke saya. Karena waktu itu penjualan yang lebih tinggi itu dari saya jadi mereka mengalihkan usaha mereka ke saya. Dari situ saya lalu sewa tempat yang lebih besar dan beli aset lainnya seperti cetakan sepatu, alat-alat mesin,” paparnya.

Usaha produksi sepatu khusus wanita secara mandiri akhirnya dimulai. Anggun kemudian menamai produk sepatu wanita miliknya dengan brand 13th Shoes.

“Angka 13 tuh hampir sebagian orang menganggap angka sial. Tapi kita menepis hal itu dan kita jadikan angka 13 angka keberuntungan kita. Sebenarnya kita tidak percaya dengan angka-angka gitu sih tapi tiba-tiba saja kepikiran 13,” ujarnya.

Bidik Konsumen Khusus Wanita

Brand 13th Shoes resmi berdiri dan dibuat langsung di salah satu galeri yang berada di pojok kota Bandung. Sang pemilik, Anggun Citra Wulandari menjelaskan bila model sepatu yang ia produksi adalah khusus untuk wanita.

“Karena wanita itu menurut saya pasar paling baik ya untuk usaha sepatu ini. Wanita itu beli sepatu itu sering dan bahkan beli lebih dari satu pasang, suka gonta-ganti, dan itu yang paling menguntungkan,” ucapnya.

Sepatu 13th Shoes yang dibuat Anggun berasal dari bahan sintetis grade A. Ia menjamin modelnya selalu up-to-date. Ia juga menyebut yang membuat desain adalah suaminya dengan membidik target konsumen usia 15-40 tahun.

“(Target pasar) Wanita produktif sekitar usia 15-40 tahun. Tapi karena kita membuat ukuran yang beragam jadi terkadang yang beli anak kecil pun ada, nenek-nenek pun juga ada. Dengan size 35-42,” sebutnya.

13th Shoes dijual mulai Rp 295 ribu hingga Rp 415 ribu per pasang. Semakin sulit model tersebut dibuat, semakin mahal harga yang ditawarkan. “Harga yang ditawarkan dari Rp 295 ribu hingga Rp 415 ribu per pasang. Yang membedakan itu dari model,” ucapnya.

Hasilnya pun mulai kelihatan. Jika pada tahun pertama yaitu di tahun 2010 hanya terjual 50 pasang per bulan, tahun berikutnya penjualan 13th Shoes naik dua kali lipat yaitu 100 pasang lebih setiap bulan. Kini, Anggun bahkan sudah mampu memproduksi 800-1.000 pasang sepatu per bulan, dengan 20-30 model berbeda.

“Sebenarnya kalau omzet tergantung bulannya. Pas bulan Juli 2016 kemarin itu Rp 187 juta. Pas lagi bulan puasa kemarin omzet kita tembus Rp 220 juta. Kalau standar bulan biasa itu Rp 150-170 juta per bulan. Pasti ada ya peningkatan, bahkan jauh banget. Kalau dilihat secara grafik dari tahun 2009 sampai sekarang meskipun sedikit-sedikit tapi terus naik, tidak stagnan,” jelasnya.

Bisnis Moncer Lewat Endorse Artis dan Sosial Media

Penjualan sepatu 13th Shoes milik Anggun Citra Wulandari kian melejit. Anggun menerapkan berbagai strategi pemasaran menarik yang bikin produknya laku terjual.

“Pada waktu 2009-2010 itu karena belum fokus dan tujuannya hanya untuk menambah uang jajan saja jadi jatuh bangunnya belum terasa,” katanya.

Diakui Anggun, 13th Shoes mulai terkenal di tahun 2011. Dari sana, Anggun mulai percaya diri dan melirik kalangan artis untuk berkolaborasi. Salah satunya artis sinetron yang mau diajak berkolaborasi adalah Shireen Sungkar. Anggun kemudian mengirimkan dua pasang 13th Shoes gratis ke Shireen.

Tanggapannya sangat bagus. Shireen bahkan mau bekerja sama, dan menjadi pelanggan. Artis lain yang ikut memberikan endorsement pada 13th Shoes adalah Natasha Rizki, Zaskia Sungkar, Momo Geisha, hingga Zaskia Adya Mecca yang menggunakan 13th Shoes di acara Jakarta Fashion Week (JFW). Ia juga berkolaborasi dengan selebgram Mega Iskanti.

Dengan berkolaborasi dengan para artis, Anggun mengakui penjualan 13th Shoes semakin meningkat.

“Dan di tahun 2011 karena kolaborasi dengan Shireen Sungkar itu jadi up banget kan. Dan kita merasa up banget itu di tahun 2012. Tahun 2011-2012 itu banyak banget permintaan. Saya juga melakukan endorse terakhir kita kolaborasi dengan selebgram hijabers,” tuturnya.

Namun cara berkolaborasi dengan para artis sudah ditinggalkan oleh Anggun. Anggun kini lebih berkonsentrasi pada penjualan langsung melalui gerai miliknya di kota Bandung hingga menitipkan di beberapa toko stockist seperti PopShop, Happy go Lucky, Widely Project, dan Satvrdays di beberapa kota besar.

“Dan lebih baik melakukan kolaborasi dibandingkan dengan endorse. Kolaborasi itu misalnya kita bekerjasama dengan perusahaan lain atau dengan siapa. Kita akan membuatkan sepatu yang sesuai dengan keinginan mereka. Kolaborsi itu lebih signifikan hasilnya kalau dibanding endorse,” paparnya.

Cara lain yang dilakukan Anggun untuk menggenjot penjualan adalah dengan memasarkan 13th Shoes melalui website dan media sosial. Setelah itu, Anggun juga aktif menghadiri bazar dan pameran fashion.

“Sebenarnya untuk marketing produk kita tuh nyebarin ke stockist-stockist. Kita naro barang di daerah Bandung, Surabaya, Jakarta dan Bogor. Jadi dengan kita taruh produk-produk kita di beberapa toko stockist ini juga termasuk melancarkan pemasaran agar mereka tahu brand 13th shoes. Selain itu juga ikut bazar,” jelasnya.

Meroketnya penjualan 13th Shoes sempat menimbulkan masalah baru bagi Anggun. Jumlah permintaan dan pemesanan 13th Shoes yang lebih besar tidak sebanding dengan sumber daya pengrajin yang ada.

“Banyaknya permintaan kita jadi tidak bisa handle karena kurangnya pekerja waktu itu. Karena banyak yang tidak ke-handle kita jadi sering di-complain sama customer,” keluhnya.

Akhirnya, sejak saat itu Anggun menambah jumlah pengrajin yang bekerja menjadi 17 orang. Ia juga mulai menambah jumlah karyawan lainnya yang menangani di bidang administrasi dan pemesanan secara online.

“Dulu kan karena masih jarang ready stok. Mungkin itu lah keluhan-keluhan nya yang pernah kita hadapi. Jadi kalau berbicara jatuh bangunnya sampai down banget Alhamdulillah belum dan jangan sampai. Cuma tahun sekian naik, tahun sekian turun dan itu menjadi pelajaran untuk kita lebih inovatif lagi,” jelasnya.

Diekspor ke Malaysia Hingga Jerman dan Kuwait

Selain moncer di pasar dalam negeri, sepatu wanita buatan Anggun, 13th Shoes juga sudah diekspor keluar negeri. Sejak tahun 2011, 13th Shoes sudah diekspor ke Singapura dan Malaysia.

“Kita sudah ekspor kalau market kita yang tetap dan paling banyak itu adalah Singapura dan Malaysia. Itu dari tahun 2011 saat saya berkolaborasi dengan Shireen Sungkar,” katanya.

Selain ke Singapura dan Malaysia, 13th Shoes sudah melalang-buana hingga ke Jerman dan Kuwait. Warna sepatu yang paling laku adalah cream, maroon, navy, black and white.

“Awalnya kita bingung gimana caranya buat kirim ke sana. Tapi kita dimudahkan oleh Pos Indonesia. Dan Alhamdulillah nggak ada kendala karena sebelum kirim pun saya sudah survey dulu terkait ekspor barang tuh seperti apa. Di Singapura sudah ada tawaran di Ion Orchard,” tambahnya.

Dikatakan Anggun, masyarakat luar negeri sangat menyukai produk buatannya. Selain memiliki jahitan yang rapi, desain sepatu 13th Shoes juga terkesan modern. Klaim Anggun lainnya adalah 13th Shoes nyaman saat dipakai.

“Jadi kita buat pola itu tidak asal dan kita itu banyak research developmentnya. Untuk satu model tuh kita bisa bikin dua sampai tiga kali. Kita terus mencoba apakah sepatu kita ini bisa dipakai lama,” cetusnya.

Kendati bisnisnya kian moncer dan dikenal masyarakat, Anggun tetap terus berinovasi. Dirinya tidak pernah merasa khawatir dengan persaingan pasar sepatu yang semakin ketat di dalam dan luar negeri. Anggun memiliki impian 13th Shoes bisa besar dan terus berkembang di tahun mendatang.

“Seandainya aku mikirin yang lain, nggak fokus di usaha yang sekarang, mungkin saja usaha aku ini nggak berjalan lancar. Bahkan mungkin jatuh. Aku juga belum bisa percaya orang lain untuk pegang usaha ini. Saya memegang teguh kata-kata dari Jusuf Kalla, sebuah perusahaan itu bisa berjalan sendiri selama 20 tahun, kalau misalnya usaha kalian belum bisa berjalan sendiri ibaratnya tanpa tangan kalian pun usaha itu sudah bisa berjalan, boleh kita merambah ke yang lain,” tutupnya.



Sumber : news.indotrading.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar