BISNIS CAMILAN KERIPIK PISANG DENGAN MODAL 20 RIBU

  • BISNIS CAMILAN KERIPIK PISANG DENGAN MODAL 20 RIBU

Memulai bisnis di awal tahun 2016, Evyanty (57) yang kini tengah menekuni bisnis camilan keripik pisang sebelumnya berprofesi sebagai tukang jahit pakaian. Dengan modal Rp 20.000 yang Ia dapatkan dari hasil keuntungan jasa menjahit pakaian, Evy nekat membuat cake pandan satu loyang untuk dititipkan di warung kopi. Langkah kecil inilah yang mengantarkan Evy menjadi pengusaha keripik pisang.

“Waktu itu dengan naik sepeda saya titipkan cake pandan tersebut di warung kopi. Keuntungan yang saya dapat dari menjual secetak cake pandan, saya putarkan kembali dan sebagian keuntungan saya tabung untuk mengikuti pelatihan Inkubator Bisnis UKM BI Kalba,” ujar Evy yang pernah mengengkol sepeda selama 1 jam lebih dari rumahnya di Desa Kapur, Kabupaten Kubu Raya menuju Pontianak.

Ketika mengikuti pelatihan Inkubator Bisnis UKM BI, ia mendapat pelatihan cara membuat keripik pisang. Dari sinilah, cikal bakal bisnis camilan Keripik Pisang Benza dimulai. Kini, Evy sudah mempunyai badan usaha berbentuk CV yang ia beri nama CV Benazqa Cipta Kreasi.

Di bawah bendera CV Benazqa Cipta Kreasi, Evy menjual dua produk andalan berupa Keripik Pisang Benza dan Minuman Leci Rumput laut. Dengan harga jual Rp  80.000 per kg  dan harga jual per bungkus Rp 1.000 yang dititipkan ke warung-warung di sekitarnya, setiap bulan Evy bisa mengantongi omzet sekitar  Rp 3 juta-Rp 4 juta.

“Sekarang saya sudah mampu membeli sepeda motor dari hasil usaha keripik pisang, dan sudah mampu membeli tablet untuk menunjang usaha,” ucapnya penuh syukur.

Suka Duka Merintis Bisnis Camilan Keripik Pisang

Hidup kadang seperti roda, dan tak jarang kita harus berada di titik terbawah hidup kita. Evy menceritakan pengalaman pahit yang ia alami setelah ditinggal kabur suami 15 tahun silam. Evy yang saat itu terpaksa membawa 6 anaknya yang kala itu masih kecil ke panti asuhan, karena sudah tidak ada barang lagi di rumah yang bisa ia jual, kini tengah menikmati kerja keras yang ia jalankan selama ini.

“Sekarang anak pertama saya sudah menjadi dosen di Garut. Yang kedua dan ketiga menjadi chef di salah satu hotel dan restoran di Pontianak. Selama menjalankan bisnis camilan keripik pisang, kendala terbesar dari segi modal untuk mengembangkan usaha keripik pisang,” jelas Evy.

Evy bercerita bahwa di awal merintis usaha keripik pisang Ia hanya menulis merek Benza dengan pulpen di atas kertas dan ia  fotokopi sendiri karena waktu itu belum punya uang untuk mencetak stiker.

Kini, dibantu buah hati tercinta, dalam waktu 3 hari dalam seminggu Evy mampu memproduksi 35-40 kg keripik pisang. Seminggu pertama mereka membuat sebanyak 3 kg hingga menjelang lebaran kemarin ia membuat lebih dr 50 kg untuk memenuhi pesanan dari Depok, Bekasi dan Jakarta.

“Selama ini produk keripik pisang Benza dipasarkan di Pontianak, Kubu Raya, Depok, Jakarta, dan Bekasi,” kata Evy yang sampai saat ini juga masih aktif sebagai pengajar kursus menjahit. Ke depan, selain bisa mengembangkan bisnis camilan keripik pisang, ia juga ingin membuka sekolah keterampilan menjahit dan kuliner.

“Saya ingin mengumpulkan ana-anak putus sekolah dan kurang mampu untuk saya ajar menjahit dan membuat produk kuliner,” tutupnya.





Sumber : bisisukm.com


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar