Berkah dari Sepincuk Tengkleng

  • Berkah dari Sepincuk Tengkleng

Bagi warga Solo, nama Ediyem memang kurang populer tapi ketika menyebutnya dengan sapaan Bu Edi tengkleng Pasar Klewer, hmm.. siapa yang tak mengenalnya. Lebih-lebih mereka yang pencinta kuliner khas Solo.


Tak seperti kebanyakan warung tengkleng lain yang menghidangkan gulai encer tulang dan jeroan kambing itu dengan piring, tengkleng Bu Edi dihidangkan dengan alas daun pisang alias pincuk. Rasanya pun, menurut para penggemar fanatiknya, selalu bikin kangen.

Sejak awal berdagang, Edi mengaku tak mengubah sedikit pun bumbu maupun cara penyajiannya yang menggunakan pincuk. “Sejak bakulan tengkleng keliling Pasar Kliwon-Pasar Gede, ya seperti itu bumbunya,” jelasnya. Begitu populernya tengkleng yang dijual dengan harga Rp 15.000 per pincuk ini, sampai-sampai ada yang mengaku kurang lengkap jika berkunjung ke Pasar Klewer tanpa mencicipi masakan ini.

Tak hanya di Pasar Klewer, nama Bu Edi ini juga populer di kawasan Yosodipuran, Pasar Kliwon, Solo, sebagai pengusaha kuliner yang sukses. Bertanya kepada warga di kawasan ini, mereka pun langsung menunjukkan rumah-rumah Edi. Jerih payah Edi memang tak sia-sia. Hasil kerja kerasnya,dia mampu menyekolahkan keempat anaknya hingga jenjang universitas. 

Dirinya pun dapat menikmati hasil kerja kerasnya itu dengan memiliki dua rumah baru dan beberapa bidang tanah. Tak hanya itu, sebuah mobil Toyota Fortuner pun manis terparkir di rumah pertama Edi. Rumah keduanya terletak tak jauh dari rumah pertama. Sedangkan rumah ketiga sering disebut juga pawon (dapur) tengkleng.

Sehari-hari, Edi berada di pawon tengkleng ini. Untuk mengolah tengkleng, dia dibantu dua orang asisten, menantu dan anak-anaknya. Seperti namanya, rumah ini layaknya dapur untuk mengolah berkuali-kuali tengkleng. Ruangan ini sengaja dibuat los tanpa sekat sehingga dapur ini luas untuk menampung tungku-tungku. Dia membutuhkan ruangan khusus ini untuk menata kuali beragam ukuran untuk wadah tengkleng pesanan.

“Saya sekalian nyetok. Sekali kirim bisa sampai satu truk kuali dari Bayat, Klaten,” ulas Ediyem yang mengaku kewalahan jika banyak pesanan. Kadangkala, satu pesanan bisa sampai 10 hingga 15 kuali. Jika pesanan membeludak, dia membutuhkan beberapa tenaga ekstra untuk membantu anak dan menantunya. Kerabatnya kini membantunya menyiapkan hasil dagangan saja.

Edi mengaku tak tahu mulai kapan tengkleng racikannya mulai digandrungi orang. Menurutnya, tidak ada istimewanya tengkleng bikinannya dibandingkan tengkleng lainnya. Sejak 1971, dia hanya menggunakan pakem resep tengkleng seperti biasanya. “Menurut saya sih ndak istimewa tapi banyak orang yang suka,” akunya.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar