Berhenti Jadi Pegawai Bank, Sukses Jadi Petani Ketela

  • Berhenti Jadi Pegawai Bank, Sukses Jadi Petani Ketela

"Jangan anggap remeh ketela." Pesan itu disampakan petani ketela yang sekarang ini sedang menikmati hasil panen dan harga lumayan bagus. Tanaman ketela (ubi kayu) relatif mudah dalam proses budidaya, dan menjanjikan hasil yang besar. Lahan yang dipilih pun rata-rata tadah hujan.

Seperti yang dikemukakan Jaka Mardiana, petani ketela pohon asal Desa Sengon Bugel, Kecamatan Mayong, Jepara. Dalam setahun, dia bisa meraup hasil bersih ratusan juta rupiah dari lahan ketela pohonnya. Tak mau tanggung-tanggung dalam menekuni bisnis pertanian, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) "Rukun Mulyo" Desa Sengon Bugel itu, menggarap lahan mencapai ratusan ha.

Pria yang tiga tahun lalu memilih pensiun dini ---saat menjabat manajer cabang sebuah bank nasional di Jatim-- memiliki lahan bersama keluarganya 80 ha. Sepuluh hektar untuk menanam rambutan, sisanya secara bergantian untuk menanam ketela dan tebu.

Untuk memperluas lahan, dia menyewa tanah bengkok petinggi-petinggi (kepala desa-red) di kecamatan Mayong yang menjadi ratusan ha. Harga sewa Rp 3 juta/ha/tahun. Dengan hitungan kasar, Jaka dapat menyebut, keuntungan bersih mencapai lebih dari Rp 10 juta/ha.

Dia menyebutkan, untuk ketela varitas Markonah, yang usia panennya 7 hingga 8 bulan, dapat menghasilkan 20 ton/ha. Harga saat ini antara Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu/ton. Diperoleh hasil kotor Rp 17 juta/ha. Dengan biaya produksi dan panen 30 persen, maka hasil bersih lebih di atas Rp 10 juta.

Untuk jenis ketela Daplang, dan Mandera yang dipanen satu tahun, dapat menghasilkan 30 ton/ha. Sehingga, hasil bersihnya lebih dari Rp 15 juta/tahun.

Dia menuturkan, harga sekarang ini memang lumayan bagus. Sebab, sebulan yang lalu harga jatuh hingga Rp 550/kg atau 550 ribu/ton. Jaka tak terlalu memusingkan harga pasaran umum. Sebab, kelompok usahanya juga telah memiliki pabrik tapioka di Sidomukti, Margoyono, Pati. Yang mengelola pabrik tepung ketela itu, adiknya, Agus Supanto.

"Kami dari keluarga petani. Pilihan terjun di pertanian ini sudah kami hitung, dan hasilnya lebih dari cukup. Membuat pabrik tapioka, merupakan salah satu cara untuk memberikan nilai lebih atas produksi pertanian kami," ujar Jaka.

Untuk mengelola lahan ratusan ha, dia memiliki 30 pekerja tetap untuk perawatan tanaman dengan upah Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu/hari. Selain itu, juga punya tenaga borong, pada saat musim tanam maupun panen. Ketela khusus untuk bahan tepung, menurut Jaka lebih menjanjikan keuntungan. Sebab, pangsa pasarnya sangat besar. Ketela jenis itu rasanya pahit, tidak enak dikonsumsi langsung.


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar